ABC

WNI Dideportasi Dari AS Setahun Setelah Kematian Anaknya Akibat Tumor

Pria berkewarganegaraan Indonesia (WNI) bernama Haris Simangunsong duduk di sebuah ruangan kecil yang panas di Serpong, Tangerang, Banten dan menangis saat menceritakan tentang deportasi yang dialaminya dari Amerika Serikat, tempat di mana ia telah hidup bersama keluarganya selama lebih dari dua dekade.

Pada tahun 1996, Haris merasa semakin tidak aman sebagai aktivis mahasiswa dan pemeluk Kristen dan meninggalkan ibukota Jakarta sebelum jatuhnya Presiden Soeharto dan kerusuhan massa tahun 1998.

Selama bertahun-tahun, seperti ratusan pemeluk Kristen Indonesia lainnya, ia tinggal secara ilegal di AS tanpa visa atau kewarganegaraan. Dan saat itu, pihak berwenang AS menutup mata terhadap status tinggalnya.

Tapi Pemerintahan Trump sama sekali berbeda. Kini banyak warga negara Indonesia akhirnya dideportasi pulang.

"Almarhum ayah saya memberi tahu saya, 'Pergilah ke kedutaan besar AS mungkin kamu bisa mendapatkan visa'," kenang Haris.

Haris diberi dua kali visa enam bulan untuk tinggal di AS, namun pada tahun 1997, ia tak percaya dirinya akan aman jika kembali ke Indonesia.

"Saya melihat berita, kondisinya masih sama di Indonesia, masih sama," ujarnya.

Haris Simangunsong menikah dan berkeluarga di AS, tempat di mana ia tinggal selama 20 tahun.
Haris Simangunsong menikah dan berkeluarga di AS, tempat di mana ia tinggal selama 20 tahun.

Supplied: Haris Simangunsong

Pada bulan Mei 1998, kerusuhan massal menarget masyarakat etnis Tionghoa, membakar bisnis mereka dan memperkosa para perempuan, yang akhirnya menyebabkan jatuhnya Presiden Soeharto dan pemerintahan Orde Baru.

Terlalu takut untuk kembali pulang, Haris menetap di Aurora, dekat kota Denver di Colorado. Ia menikahi perempuan Indonesia dan memiliki dua anak.

Pada tahun 2007, sebuah pengadilan AS menolak pengajuannya untuk mencari suaka, namun ia tetap tinggal di negara tersebut.

Selama kampanye kepresidenan AS, Donald Trump berjanji untuk membersihkan negaranya dari imigran ilegal.

Haris dideportasi dari AS setelah tinggal di negara itu selama 2 dekade.
Haris dideportasi dari AS setelah tinggal di negara itu selama 2 dekade.

ABC News: Phil Hemingway

Pengangguran dan sendirian

Pada bulan Mei, Haris dideportasi, dan terpisah dari keluarganya. Ia sekarang tinggal sendiri di sebuah rumah kos di luar Jakarta dan menganggur.

Tahun lalu, salah satu anaknya, Chris, meninggal karena tumor otak.

"Saya depresi," katanya sambil menahan air mata.

Haris kini dilarang kembali ke AS selama 10 tahun.

Istrinya tinggal di sana secara ilegal, sementara anaknya yang tersisa adalah warga negara AS.

Haris Simangunsong dengan istri dan putranya sebelum ia dideportasi dari AS.
Haris Simangunsong dengan istri dan putranya sebelum ia dideportasi dari AS.

Supplied: Haris Simangunsong

Meskipun tidak ada risiko langsung bagi warga Tionghoa di Indonesia saat ini, sentimen anti-China baru-baru dianggap ini muncul kembali. Kondisi itu mulai terjadi pada bulan Mei dengan pemenjaraan mantan Gubernur DKI Jakarta atas tuduhan penistaan agama.

Sejumlah orang Indonesia yang masih tinggal di Amerika, termasuk di negara bagian New Hampshire dan New Jersey, juga menghadapi deportasi.

Kementerian Luar Negeri Indonesia belum berkomentar mengenai perkembangan tersebut.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.