ABC

Waspada, Belanja Online di Musim Natal Tingkatkan Kejahatan Dunia Maya

Pengecer online semakin menjadi target dari kelompok kriminal melakukan penipuan kartu kredit, para ahli keamanan mengatakan.

Menjelang Natal, semakin banyak pembeli yang akan memberikan informasi kartu kreditnya secara digital, saat berbelanja di internet.

Tapi tentu saja ini akan menimbulkan resiko. Sejumlah pemilik toko dan perusahaan di Australia, seperti David Jones dan Kmart mengaku jika database konsumen mereka telah menjadi target. 

Chal, adalah salah satu warga asal Sydney. Pria berusia 30 tahunan ini telah beralih ke internet untuk urusan berbelanja. Ia pun telah menyadari risiko keamanan dengan membeberkan informasi kartu kreditnya, tetapi sering kali ia tetap saja berbelanja.

"Saya merasa nyaman jika berbelanja dengan perusahaan yang besar. Terutama jika saya bisa menggunakan PayPal," katanya. "Jika membeli dari toko-toko kecil dan saya harus memasukkan rincian kartu kredit saya, kadang-kadang merasa sedikit berisiko. Tapi saya cenderung tetap melakukannya jika saya sedang benar-benar menginginkannya."

Mark Gorrie, pakar ahli keamanan online dari perusahaan Norton, mengatakan sebanyak orang yang berbelanja online, maka semakin penjahat yang akan mengeksploitasi sektor ini.

"[Sebanyak] 3,7 juta warga Australia menjadi korban kejahatan dunia maya tahun lalu. Kerugian yang dialami orang-orang sekitar $ 1,2 miliar," katanya kepada ABC.

Dalam laporan terbaru 'Cybersecurity Insight Report', yang dikeluarkan Norton, satu dari lima orang dewasa pernah menjadi korban kejahatan penipuan secara online.

Gorrie memberikan saran bagi para pembeli online untuk selalu berhati-hati sebelum memasukkan rincian kartu kredit dan informasi pribadi melalui internet.

"Hal-hal utama yang kami sarankan kepada orang-orang adalah mencari situs-situs terkemuka," katanya. "Yang lainnya adalah mencari situs yang menggunakan SSL atau socket layer, yaitu enkripsi kode dengan aman.

"Banyak orang menggunakan password yang sama di beberapa akun… Kami merekomendasikan agar orang menggunakan password yang unik untuk akun yang berbeda-beda."

Nigel Phair, direktur Pusat Keamanan Internet dari University of Canberra, mengatakan para peretas atau hacker akan sangat aktif selama musim belanja menjelang Natal.

"Secara logika, para penjahat akan pergi ke mana uang itu berada dan yang mudah eksploitasi…" katanya.

Penipuan dunia maya di Australia tidak hanya merugikan secara uang, tetapi juga waktu. Dibutuhkan rata-rata 14 jam bagi seseorang untuk memperbaiki masalah yang disebabkan peretasan informasi pribadi.