ABC

Waspada Arus Balik di Pantai Australia

Sebanyak 21 penduduk Australia tewas akibat terperangkap arus balik pantai (rip tide) tiap tahunnya. Ini berarti, lebih banyak dibanding jumlah total yang meninggal akibat badai, kebakaran hutan dan juga serangan hiu. Meskipun begitu, pemerintah dikritik karena tidak terlalu menanggapi bahaya arus balik ini.

Akibat terperangkap arus balik, seseorang bisa terseret ke bagian dalam laut, tidak bisa kembali ke tepian, dan tenggelam. Salah satu korban terseret arus balik, Melanie Colling, bercerita bahwa Ia pernah hampir tewas karena terperangkap arus tersebut.

Awalnya, Ia menikmati berenang di pantai. Namun kemudian merasa ada yang tidak beres. Saat Ia berusaha kembali ke pantai baru Ia sadar bahwa Ia terseret arus balik. Gawatnya lagi, saat itu tidak ada penjaga pantai yang bertugas.

Organisasi penyelamat Surf Life Saving Australia menyatakan bahwa 21 orang meninggal tiap tahunnya di Australia karena terseret arus. Namun, kemungkinan angka tersebut lebih rendah dari angka sebenarnya, karena mungkin ada banyak yang tenggelam karena sebab itu, namun tak bisa dipastikan karena tak ada yang menyaksikan bahwa peristiwa tenggelam itu akibat arus balik.

Menurut Rob Brander dari University of New South Wales, masyarakat Australia kurang menyadari betapa bahayanya arus balik. Selain puluhan yang meninggal, ada pula ribuan yang diselamatkan karena terperangkap arus.

"Berbagai penelitian menunjukkan 89 persen penyelamatan di pantai tempat berselancar terkait dengan arus balik...Surf Life Saving Australia dan penjaga pantai wilayah menyimpan catatan penyelamatan, dan bila dijumlahkan, totalnya berkisar 10 hingga 15.000 penyelamatan per tahun.." jelasnya.

Brander adalah ahli geomorfologi pantai. Ia telah mempelajari arus balik selama bertahun-tahun, dan saat ini meneliti tentang bagaimana mendidik masyarakat tentang arus balik.

Yang menjadi masalah sebenarnya ketidak tahuan masyarakat, dan bukan arus baliknya, jelas Brander. Pendidikan soal ini masih kurang, dan masih banyak pantai yang tidak dijaga.

Di negara-negara lain, ada banyak rambu-rambu dan iklan layanan masyarakat di televisi tentang bahayanya arus balik.

"Saya terganggu saat melihat, misalnya, pemerintah Australia Barat menanggapi lima kematian akibat hiu sejak 2011, mereka menyalurkan dana 20 juta dollar (Rp 205 miliar), dan berkata bahwa "Nyawa manusia amat penting". Nah, sedangkan dua kali lipat jumlah orang sudah meninggal gara-gara arus balik pada waktu yang sama di Australia Barat, dan apa yang mereka buat terkait itu? Sepertinya tidak berbuat apa-apa," ucap Brander.

Untuk mendidik masyarakat dan juga wisatawan tentang bahayanya arus balik, harus diadakan pendidikan tentang hal tersebut di sekolah, dan juga disampaikan melalui video di penerbangan-penerbangan internasional. Selain itu, melalui iklan di televisi, bioskop, dan juga rambu-rambu yang efektif.

Menurut penelitian Brander dan rekan-rekannya di berbagai negara, banyak arus balik yang sebenarnya hanya berputar-putar di lokasi pecahan ombak. HIngga, sebenarnya tidak terlalu bahaya asalkan kita bisa terus mengapung. Namun, ada juga arus balik yang langsung membawa ke bagian dalam laut. 

Selain itu, ada juga bahaya kecepatan arus, yang tiba-tiba bisa meningkat akibat dorongan air.

Maka, nasihat bagi para perenang di pantai pun bermacam-macam. Bila arus baliknya membawa anda berputar, berusahalah agar tetap mengambang. Bila anda dibawa menjauh dari pantai, cobalah berenang menyeberangi arus balik. Ingatlah untuk selalu minta tolong dan selalu berenang di antara bendera-bendera yang menandakan zona tersebut diawasi.

Dan, yang terpenting, cobalah untuk tidak terperangkap arus dari awal. Slogan Brander untuk menghindari terperangkap adalah 'putih itu bagus, hijau itu jahat,' karena air yang berbuih putih membawa air ke pantai, sementara arus balik justru terlihat lebih tenang, dengan warna kehijauan.