ABC

Warga Indonesia Didorong Jembatani Umat Islam di Australia

Warga masyarakat Indonesia di Australia didorong menjadi inisiator dan penggerak terciptanya hubungan yang konstruktif dan positif antara umat Islam dan masyarakat Australia. Mereka diharapkan aktif mengupayakan dakwah yang sesuai konteks masyarakat setempat.

Hal ini mengemuka dalam diskusi “Muslims in Australia after the Sydney Siege” pada Kamis, 26 Februari 2015 di kampus Australian National University (ANU) di Canberra.

Acara yang diadakan Indonesia Synergy dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Australia dan Selandia Baru tersebut menghadirkan tiga pembicara. Mereka adalah Associate Professor Greg Fealy, Dr Asmi Wood, dan Associate Profesor Nadirsyah Hosen, serta dimoderatori oleh Awidya Santikajaya, mahasiswa PhD Diplomacy di ANU.

Prof. Greg Fealy berbicara dalam diskusi di Kampus ANU, Canberra. (Foto: dokumentasi Indonesia Sinergy)

 

Dalam keterangan yang disampaikan kepada wartawan ABC Farid M. Ibrahim, Koordinator Indoensia Synergy Awidya Santikajaya dan Koordinator PCI NU Canberra Muhammad Falik Isbah, menjelaskan bahwa diskusi ini dihadiri lebih dari 40 termasuk mahasiswa, serta tokoh Islam maupun Katolik asal Indonesia di Canberra.

Dorongan agar warga Islam asal Indonesia lebih aktif menjembatani umat Islam dengan warga masyarakat Australia secara luas, di antaranya karena adanya gap antara ulama setempat dan masyarakat muslim Australia di mana sekitar 35 persen adalah kelahiran Australia.

Dijelaskan, pemimpin Islam di Australia bahkan banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, dan tidak memahami budaya dan situasi di Australia, yang sebenarnya menyulitkan konteks dakwah dan komunikasi sosial lintas generasi.

Prof. Greg Fealy yang merupakan kepala departemen Political and Social Changes di ANU menegaskan, pasca penyanderaan di Sydney pada 16 Desember 2014 yang menewaskan dua korban, hubungan muslim dan non-muslim di Australia secara umum tetap baik.

Dikatakan, ada aktivitas yang bertendensi Islamofobia seperti penolakan terhadap produk halal yang semakin ramai pasca peristiwa Sydney. Beberapa kelompok sayap kanan mengekspresikan crypto-racialism di mana mereka terlalu khawatir dan mempolitisasi isu dan persepsi negatif tentang muslim.

Ia menyayangkan pemerintah Tony Abbott banyak melakukan blunder dalam menyikapi potensi gesekan antara muslim dan non-muslim, misalnya dengan memperkenalkan slogan “Team Australia”.

"Meskipun slogan ini pada awalnya dimaksudkan untuk mengajak lebih banyak pemimpin Islam di Australia yang mempromosikan perdamaian, kampanye “Team Australia” seolah-olah menjelaskan bahwa komunitas muslim tidak mengutuk terorisme, padahal selama ini masyarakat muslim di Australia telah mengutuk aksi-aksi kekerasan," katanya.

Sementara itu, Dr Asmi Wood, Senior Lecture di College of Law ANU dan juga merupakan tokoh aborigin yang beragama Islam, menjelaskan bahwa karena tragedi Sydney dilakukan oleh seseorang yang memang merupakan kriminal, yaitu Man Haron Monis, maka komunitas muslim tidak boleh disalahkan.

"Permasalahannya adalah ketika pemerintah Australia tidak bisa memberikan jaminan keselamatan dan hubungan harmonis antarumat beragama, mereka sering menyalahkan komunitas sebagai pangkal masalah," jelasnya.

Asmi menyarankan perlunya keterbukaan, dialog dan kerja sama antarberbagai komunitas di Australia untuk meningkatkan rasa saling percaya. Pemerintah juga harus mendengarkan pendapat dari berbagai komunitas secara luas, tidak hanya sebagian kecil kelompok.

Nadirsyah Hosen, dosen di Wollonggong University dan juga Ro’is Syuriah PCI NU menyayangkan bahwa isu kekerasan selalu dikaitkan dengan terorisme. Hal ini telah memecah-belah masyarakat yang sayangnya tidak diatasi oleh pemerintah.

Gus Nadir juga menyayangkan adanya sikap eksklusifitas di kalangan muslim di Australia sendiri yang dengan alasan ingin menjaga identitas dan keimanan tidak banyak bergaul dengan masyarakat Australia.

Dalam ranah diplomasi internasional, Nadir juga menyarankan agar pemerintah Australia untuk lebih proaktif dan berkontribusi positif dalam isu yang sering dijadikan alasan dalam terorisme, seperti konflik Palestina-Israel.

Dalam sesi tanya jawab, mengemuka beberapa ide, di antaranya perlunya mendirikan lembaga pendidikan tinggi studi Islam di Australia yang saat ini belum ada. Sebagaimana yang sudah jamak dijumpai di negara lain, seperti Kanada dan Inggris, terdapat institut studi Islam yang memungkinkan pengkajian Islam yang lebih komprehensif dan dapat mencerahkan pemahaman masyarakat Australia tentang Islam.