ABC

Warga Australia Tewas Dalam Ledakan Ranjau Darat Di Kamboja

Seorang warga Australia tewas dan satu lainnya cedera dalam sebuah ledakan di dekat ibukota Kamboja, Phnom Penh

Warga Australia yang menjadi korban dalam insiden ini bekerja sebagai pelatih militer, demikian keterangan yang disampaikan juru bicara pemerintah Kamboja, Phay Siphan kepada ABC.

Poin kunci:

  • Ledakan dilaporkan terjadi saat latihan pembersihan ranjau darat
  • Pelatih asal Australia berusia 45 tahun terbunuh dan seorang warga Australia berusia 41 tahun lainnya cedera
  • Sekitar 60.000 orang Kamboja tewas atau terluka oleh ranjau darat sejak 1979

Media setempat 'Fresh News’ melaporkan bahwa seorang warga Kamboja juga tewas dan dua orang Kamboja lainnya terluka dalam ledakan yang berlokasi di arena olahraga menembak di dekat sebuah pangkalan militer pada hari Kamis (15/3/2018).

Ledakan itu terjadi saat sedang digelar latihan gabungan di sebuah pangkalan militer di provinsi Kampong Speu, 50 kilometer sebelah barat Phnom Penh, kata kepala polisi provinsi Sam Samoun.

"Kami belum tahu apa yang terjadi, yang kami tahu adalah ada ledakan," katanya seraya menambahkan bahwa, selain dua orang Australia, sejumlah personil militer Kamboja turut menjadi korban dalam insiden ini.

Polisi Kamboja mengatakan seorang tentara, yang sedang dilatih dalam pembersihan ranjau, telah salah menangani sebuah ranjau darat  berumur puluhan tahun yang telah dipindahkan dari tanah.

Mereka mengatakan seorang pelatih Australia berusia 45 tahun terbunuh dan seorang warga Australia berusia 41 tahun lainnya terluka.

Tentara juga menyelidiki ledakan tersebut, kata juru bicara kementerian pertahanan Chhum Sucheat.

Kedutaan Australia di Phnom Penh tidak segera menanggapi permintaan untuk memberikan komentar mengenai insiden ini.

Korban luka dirawat di rumah sakit Kampong Speu, sebelah timur Phnom Penh.

Sekitar 60.000 orang Kamboja telah terbunuh atau terluka oleh ranjau darat sejak pertama kali ditempatkan dalam jumlah besar pada tahun 1979, ketika rezim Khmer Merah digulingkan dari kekuasaan dan memulai perang gerilya selama 18 tahun.

Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen mengatakan tahun lalu bahwa ranjau darat terus membunuh atau melukai hampir 100 orang warga setiap tahun, dan negara tersebut membutuhkan lebih dari $ 400 juta bantuan untuk menghapus semua ranjau itu pada tahun 2025.

Kamboja telah membersihkan ranjau dari areal seluas sekitar 1.500 kilometer persegi, namun hampir 2.000 kilometer persegi tanah masih tetap dikotori dengan amunisi, kata Presiden Hun Sen.

ABC / Reuters / AP

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.