ABC

Warga Australia Terjebak dalam Kudeta di Burundi

Seorang pria Australia dan dua kerabatnya yang berusia remaja terjebak di Burundi setelah kudeta terjadi di negara Afrika ini.

Riziki Saidi pergi ke Burundi dari Adelaide untuk membawa keponakan laki-laki dan perempuannya ke Australia, yang menjadi yatim piatu sejak tahun 2002.

Pemberitaan media telah menunjukkan aksi massa pendukung kudeta terhadap Presiden Pierre Nkurunziza, tapi penasihat komunikasinya mengatakan, sang Presiden kini bisa kembali ke negara itu.

Riziki Saidi tak bisa meninggalkan Burundi setelah kudeta terjadi.
Riziki Saidi tak bisa meninggalkan Burundi setelah kudeta terjadi.

Namun di Adelaide, kondisi yang terjadi Burundi membuat istri Riziki, Mwajemi Hussein, khawatir akan keselamatan anggota keluarganya.

"Perasaan ini adalah perasaan yang aneh, tak mudah untuk menggambarkan bagaimana perasaan saya, sejak Rabu saya bahkan tak bisa tidur," ungkapnya.

Kegelisahan adalah sesuatu yang Mwajemi Hussein dan Riziki pahami dengan baik.

Mereka melarikan diri dari Kongo selama perang sipil panjang dan pahit terjadi di negara Afrika itu, dan tiba di Australia satu dekade lalu.

Perang mengambil seluruh keluarga mereka. Adik Mwajemi Hussein dipukuli sampai mati di depan putra kecilnya, Michael, pada tahun 2002.

Saat itu, Mwajemi dan Riziki kehilangan kontak dengan Michael dan adik-adiknya yang juga menjadi yatim piatu.

Proses yang lama untuk menyatukan keluarga

Anggota keluarga yang ada di Adelaide melacak beberapa kerabat mereka di kamp pengungsi akhir dekade lalu, dan memulai proses pencarian keluarga.

Michael tiba di Australia pada tahun 2010, dan tiga sepupunya tiba tahun lalu.

Pada reuni keluarga, Mwajemi Hussein dan teman-temannya menyanyikan lagu tradisional Afrika yang menceritakan tentang kehilangan dan reuni.

"Saya sangat senang, saya merasa seperti bermimpi," ujar Mwajemi pada waktu itu.

Tapi kesenangan itu memiliki semburat kesedihan karena saudara laki-laki dan perempuan Michael masih tinggal di kamp pengungsi karena masalah pengamanan dokumentasi untuk memenuhi proses visa.

Penyelesaian akhirnya datang beberapa minggu yang lalu, sehingga Riziki Saidi terbang ke Afrika untuk mengumpulkan keponakannya yang bernama Halima, 14 tahun, dan Ulimwengu, 17 tahun, dan membawa mereka ke kehidupan baru di Australia.

Ketiganya sedianya melakukan perjalanan ke Adelaide ketika kudeta menutup bandara dan perbatasan Burundi.

Kini, tak ada yang yakin kapan Riziki dan keponakannya bisa meninggalkan Burundi.

Mwajemi Hussein mengatakan, suaminya telah dihubungi oleh pejabat Komisi Tinggi Australia dari Nairobi dan mendesaknya untuk tinggal dalam ruangan demi keselamatannya.

Sementara itu, Senator Nick Xenophon mewakili keluarga Riziki dan membantu mereka berurusan dengan pejabat urusan luar negeri di Canberra.