ABC

Vedi Hadiz: 20 Tahun Reformasi Hasilkan Demokrasi yang Cacat

Dua puluh tahun setelah kejatuhan Presiden Soeharto di tahun 1998, Indonesia mengalami apa yang disebut jaman reformasi, dimana negara menjalani sistem demokrasi.

Namun di tengah suasana demokrasi dan keadaan yang lebih baik dari masa di bawah kepemimpinan Soeharto selama lebih dari 30 tahun, yang ada sekarang adalah demokrasi yang cacat.

Oleh karena itu, generasi muda Indonesia diminta untuk tidak berpuas diri melihat keadaan dan harus berusaha mewujudkan Indonesia yang berkeadilan, sejahtera, tanpa diskriminasi dan juga hilangnya sikap intoleran.

Hal tersebut disampaikan Prof Vedi Hadiz dari University of Melbourne di depan peserta 'Indonesian Students Discussion Forum' (ISDF) hari Selasa (27/3/2018) di kampus University of Melbourne.

ISDF ini diselenggarakan oleh beberapa organisasi kemahasiswaan asal Indonesia di negara bagian Victoria, yaitu Perkumpulan Pelajar Indonesia (PPIA), para mahasiswa penerima beasiswa LPDP, dan para mahasiswa penerima beasiswa AAS (Australia Awards Scholars).

Di Australia ada banyak kegiatan mahasiswa Indonesia dalam menyelenggarakan diskusi ilmiah secara teratur, namun ISDF ini merupakan kegiatan pertama dimana beberapa organisasi mahasiswa Indonesia ini bekerjasama melakukan kegiatan, tanpa melihat latar belakang universitas mereka.

Dalam acara yang berlangsung lebih dari 3 jam tersebut, selain materi dari Prof Vedi Hadiz, para peserta juga disuguhi 9 makalah dari para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di berbagai universitas di Melbourne.

Tema yang dipilih untuk diskusi adalah "Inventing Indonesia's Future Development (Menciptakan Pembangunan Masa Depan Indonesia).

Dalam Forum tersebut, hadir juga Konjen RI yang baru di Victora dan Tasmania Spica Tutuhatunewa.

Di awal paparannya di hadapan lebih dari 100 peserta, Prof Vedi Hadiz mengatakan bahwa dari sisi pencapaian demokrasi, Indonesia sudah berubah banyak dibandingkan 20 tahun lalu.

"Sekarang kita menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat."

"Dengan apa yang terjadi di Mesir (yang dipimpin oleh militer) Indonesia sekarang juga adalah negara demokrasi dengan penduduk Muslim terbesar di dunia."

"Dari sisi ekonomi pun kita sekarang menjadi negara dengan ekonomi 15 besar di dunia." katanya.

Secara pribadi menurut Vedi Hadiz melihat semua yang ada, dia senang dengan keadaan di Indonesia saat ini.

Namun menurutnya, di sisi lain, apakah sekarang sudah terjadi masa demokrasi seperti yang dicita-citakan banyak orang ketika Presiden Soeharto jatuh di bulan Mei 1998.

"Yang terjadi sekarang di Indonesia menurut saya adalah demokrasi yang cacat."

"Ini ditandai dengan masih adanya money politics, kita lihat masih banyaknya korupsi, dan juga tingkat kesenjangan yang semakin melebar antara sedikit orang kaya dengan sebagian besar lagi orang yang miskin."

"Bahkan kesenjangan sosial ini sekarang merupakan yang paling buruk dalam sejarah Indonesia." kata Prof Vedi Hadiz yang sekarang adalah Wakil Direktur Asia Instiute di University of Melbourne tersebut.

Prof Vedi Hadiz jadi pembicara utama di Indonesian Students Discussion Forum di Melbourne
Prof Vedi Hadiz jadi pembicara utama di Indonesian Students Discussion Forum di Melbourne

Foto: Istimewa

Perlu rasa amarah

Di depan mahasiswa yang menurutnya 20 tahun lalu 'sebagian masih menonton film kartun', Vedi menyampaikan beberapa harapannya.

"Tidak masalah apa bidang yang anda tekuni, namun yang bisa anda lakukan adalah mempertanyakan keadaan yang ada sekarang."

"Apakah kita harus berpuas diri, apakah keadaan sekarang membuat anda ingin marah?"

Menurut doktor lulusan Murdoch University Perth tersebut para mahasiswa Indonesia tersebut harus tetap menyimpan 'bara api kemarahan'.

"Sedikit kemarahan dalam diri kita masing-masing baik adanya, sehingga membuat kita terus berpikir untuk melakukan sesuatu."

Lalu apa yang bisa dilakukan para mahasiswa maupun generasi muda Indonesia lainnya untuk membuat negaranya lebih baik lagi?

"Saya tidak akan memberikan semacam nasehat, karena itu akan berlebihan, dan juga masalahnya kehidupan kita kompleks karena anda mungkin akan terlibat di bidang berbeda, entah di bisnis, pemerintahan, partai politik atau yang lainnya."

"Namun yang bisa saya katakan, tidak ada masalah apakah anda Islam atau Kristen atau yang lain, yang bisa kita lakukan adalah menciptakan nilai yang bisa menjadi bagian dari kehidupan anda." kata Vedi.

Nilai-nilai tersebut menurutnya adalah negara yang lebih demokratis, lebih makmur bagi lebih banyak orang, yang tidak melakukan diskriminasi, dan juga bersikap tidak toleran, dan juga keadilan.

Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa bertanya mengenai munculnya beberapa partai yang memiliki hubungan dengan Soeharto yang akan bertarung di pemilihan umum tahun 2019. Apakah itu pertanda banyak orang ingin atau rindu dengan kehidupan di jaman Orde Baru?

Menurut Prof Vedi Hadiz, fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian orang di Indonesia memang kecewa dengan apa yang terjadi selama masa Reformasi sekarang.

"Namun saya yakin sebenarnya mereka juga tidak mau kalau kita kembali lagi ke jaman seperti Orde Baru lagi."