ABC

Upaya Mencegah Kembalinya Kerusuhan di Sebuah Kota Pedalaman Australia

Satu tahun yang lalu, dalam kabut asap pada suatu malam di bulan April, sebuah tong mesiu siap meledak.

Sekitar 150 pria dan wanita, di antaranya bersenjata genggam – kapak, potongan besi jendela, batu dan parang – berkumpul di dekat pusat kota Wadeye, di pedalaman Northern Territory bagian barat.

Dalam kata-kata seorang polisi yang menyaksikan kejadian saat itu: "Semua ini akhirnya terjadi."

Kejadian di malam tahun 2022 itu menewaskan seorang pemuda. Puluhan rumah dan mobil dibakar. Bangunan hancur berkeping-keping.

Banyak penduduk setempat yang masih tidak mau berbicara tentang hal itu – mereka terlalu trauma, masih merasakan ketegangannya.

Tapi 12 bulan kemudian, beberapa pemuka masyarakat Wadeye berusaha untuk membangun kembali, memulihkan, dan mencoba menempa jalan panjang berliku menuju perdamaian.

Dalam trauma dan bekas luka pun masih terasa, masyarakat setempat kini berusaha melepaskan diri dari masa lalu yang penuh kekerasan.

PERINGATAN: Artikel ini memuat gambaran terperinci dan rekaman orang aborigin yang telah meninggal dunia.

Leon Melpi menggosok bekas-bekas makanan yang melengket di wajan besi yang sudah mulai berkarat.

Dia memeriksanya seolah-olah barang itu adalah artefak langka, mengusapnya, memastikan apakah masih ada kotoran tersisa.

"Wajan ini digunakan untuk memanggang daging," ujarnya.

Dia menjatuhkan wajan itu ke tanah, meraih benda lain yang tersembunyi di bawah lapisan daun yang terbakar – tiang tenda, billycan, wadah makanan kosong, dan tas.

Lokasi ini terletak beberapa kilometer dari Wadeye dari jalur belakang hutan yang diselimuti oleh semak belukar.

"Setelah kerusuhan di Wadeye, banyak orang pindah demi keselamatan keluarga mereka," jelas Melpi, seorang tetua ada suku Yek Maninh.

"Mereka berkemah di sini selama hampir enam bulan setelah kerusuhan terjadi."

"Saya perkirakan ada sekitar 200 orang di berbagai lokasi sekitar sini – mereka tinggal di tenda, membawa kasurnya sendiri, mencari air sendiri."

"Mereka bersembunyi dari kekerasan yang tengah berlangsung."

Dalam usianya yang 68 tahun, Melpi bergelut dengan ingatan tentang ratusan orang yang melarikan diri dalam kegelapan, termasuk para ibu yang menggendong bayi mereka.

"Sangat memilukan, traumatis. Kami sangat mengkhawatirkan keluarga," ujarnya.

"Saya menyaksikan bersama keluarga, menangis dan tercengang."

Meskipun banyak penduduk memilih tinggal dan bersembunyi di hutan, yang lain telah meninggalkan wilayah itu. Mereka memilih menggelandang 420 kilometer jauhnya di jalan-jalan kota Darwin.

Mereka yang terjebak di Wadeye, masih mengingat bayangan merah di cakrawala, yang ditimbulkan oleh rumah-rumah yang terbakar.

Kekerasan malam itu berlanjut, meletus terus selama minggu-minggu berikutnya.

Pemerintah Northern Territory menyebut sebanyak 125 rumah hancur selama kerusuhan.

Beberapa sumber percaya bahwa angka ini berlebihan, karena jumlahnya hanya sekitar 30 hingga 40 rumah, namun hal ini membuat ratusan pria, wanita, dan anak-anak kehilangan tempat tinggal selama berbulan-bulan.

Penduduk setempat dari Kardu Diminin, Stephen Pultchen, berbicara pelan saat menceritakan kehancuran tersebut.

"Api berkobar di semua rumah, semuanya terbakar, semua rumah," kata Pultchen.

"Sudah di luar kendali sehingga saya mengkhawatirkan warga kami."

Dibangun oleh misionaris Katolik

Selamat datang di Wadeye. Permasalahan di tempat ini kompleks dan terpencil, tapi kaya akan sejarah Kardu dan kehidupan keluarga yang erat.

Dengan populasi berfluktuasi antara 2.000 dan 3.000 orang, tempat ini merupakan salah satu komunitas aborigin terbesar di Northern Territory.

Sebuah kota di mana budaya kuno, agama dan budaya barat, olahraga khas footy, dan musik heavy metal berpadu menjadi satu.

"Salah satu hal yang membuat orang tetap bertahan adalah afiliasi mereka dengan tanah ini," jelas Dr Bill Ivory, antropolog yang telah hidup dan meneliti Dadeye selama hampir 50 tahun.

"Orang-orang dari sini terkadang pergi ke Darwin selama beberapa minggu, tapi selalu kembali. Mereka memiliki identitas sebagai orang Port Keats," kata alumni Universitas Charles Darwin ini.

Wadeye, sebelumnya bernama Port Keats, didirikan sebagai misionaris Katolik pada tahun 1930-an.

Iming-iming tembakau, teh, gula, dan tempat berteduh menarik orang Aborigin dari 22 suku di seluruh wilayah West Daly yang luas. Beberapa di antaranya suku-suku ini sudah sering mengalami konflik selama berabad-abad.

"Ada konflik yang terjadi karena masalah tanah, sumber daya, atau perempuan," ujar Dr Ivory.

"Jadi, kerusuhan ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja dengan kedatangan misionaris atau orang kulit putih."

Namun, bukan hanya sejarah yang memicu perseteruan penduduk di Wadeye saat ini.

Dengan kondisi jalan yang rusak, rumah yang sesak, dan lapangan kerja serta pendidikan yang rendah, wilayah West Daly secara statistik merupakan wilayah pemerintah lokal keempat yang paling terkebelakangan di Australia.

Pada tahun 2019 rata-rata usia harapan hidup adalah 62 tahun, 20 tahun lebih muda dari rata-rata nasional.

Data Australian Institute of Health and Welfare menyebutkan, untuk penduduk pria di Wadeye, rata-rata usia harapan hidunya hanya 50 tahun.

"Ketika penduduk memiliki kolam renang tanpa air, kondisi jalan raya yang sangat memprihatinkan, mereka cenderung kehilangan harga diri, dan akhirnya mencari masalah di antara mereka sendiri," jelas Dr Ivory.

Kerusuhan pada tahun 2022 itu bukanlah yang pertama bagi Wadeye.

Tempat ini selalu menjadi pemberitaan nasional karena alasan yang sama selama 20 tahun terakhir.

Namun ia selalu berhasil mengatasi kekerasan dan ketidakstabilan, kembali ke kehidupan normal sehari-hari.

Pada saat kerusuhan April tahun lalu akhirnya mereda, setidaknya 25 orang ditangkap dan diadili.

Salah satunya adalah Stephen Pultchen, yang didakwa terlibat dalam kekerasan, ikut serta dalam kerusuhan dan bersenjata di depan umum.

Dia menolak segala tuduhan ini, dan kasusnya sedang diproses di pengadilan setempat.

Secara terpisah, pada Mei 2023, seorang warga lainnya Yehezkiel Narndu dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara karena pembunuhan dalam insiden berbeda selama kerusuhan.

Mahkamah Agung Northern Territory memutuskan tamatan SMA berusia 19 tahun ini terbukti melemparkan batang logam yang menembus kepala seorang pria berusia 33 tahun sehingga meninggal dunia.

Dalam kesaksian keluarga korban, kematian ini telah membawa kesedihan berkepanjangan dan memicu masalah di antara kelompok keluarga.

"

"Sejak dia meninggal, anak-anak hampir tak pernah kembali ke sekolah karena terlalu sedih dan sulit bagi kami untuk menjalani rutinitas," tulis istri korban, Rebecca Bunduck.

"Kami terluka dan merasa kehilangan, anak-anak sangat merindukannya."

"Anakku sering melihat video ayahnya di ponselku dan menciuminya, menanyakan kapan dia akan pulang."

"

Dampak dari kematian korban berlanjut melalui gejolak sporadis di masyarakat.

Ada kondisi sosiologis yang mengkhawatirkan di tempat ini: sekitar lima persen penduduk Wadeye saat ini mendekam dalam penjara.

Tapi sebagian orang berusaha bersikap positif tentang masa depan mereka.

Apalagi, setelah rumah-rumah yang dibakar dan rusak telah diperbaiki, dengan biaya yang ditanggung pemerintah sebesar $10,5 juta.

Menjaga kedamaian

Pada bulan Mei tahun ini, lebih dari 150 pria dan wanita di kota itu berkumpul, beberapa di antaranya memegang tombak dan woomera.

Namun, tidak seperti pada April tahun lalu, kali ini mereka berkumpul justru untuk menunjukkan kekuatan budaya.

Para pemuka masyarakat mengumpulkan mereka untuk upacara sakral bagi pemuda yang menjalani inisiasi tradisional.

"Kami menyatukan kembali semua orang," kata Stephen Pultchen.

"Wadeye sedang berubah. Wajah Wadeye adalah Wadeye yang sekarang."

Setelah rumah-rumah mereka diperbaiki, ratusan penduduk yang melarikan diri akhirnya telah kembali.

Untuk menjaga ketenangan ini, pemuka suku mengadakan pertemuan, untuk meyakinkan keluarga yang bertikai bahwa mereka semua memiliki satu bahasa: Bahasa Murrinhpatha.

Margaret Perdjert adalah salah seorang penduduk Wadeye yang optimis, meski bukannya dia tak menyadari kenyataan yang ada.

Tetua Kardu Diminin ini percaya jalan menuju perubahan adalah dengan memperbaiki diri.

"Saya ingin generasi muda mendapatkan pekerjaan yang baik," kata Perdjert.

"Terkadang sangat sulit bila mereka hanya duduk di rumah tidak melakukan apa-apa,"

Perdjert mengatakan tidak ada yang akan terjadi tanpa bantuan dari semua pihak yaitu 22 suku di Wadeye.

"Saat mengalami kesulitan, kita tidak dapat menanggungnya sendiri," kata Perdjert.

"Kita membutuhkan seseorang untuk membantumu mengatasinya."

Bridget Pultchen memiliki pandangan serupa.

Wanita muda Kardu Diminin ini bekerja di toko, dan melihat dirinya sebagai pemimpin masa depan di kotanya.

"Saya berusaha melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri," katanya.

"Kami ingin bisa berkumpul dengan damai, melakukan berbagai kegiatan di sini."

Salah satu pihak yang gencar mendukung pemuka masyarakat dalam upaya mereka menjaga perdamaian di sana adalah Kepolisian Northern Territory.

Selama bertahun-tahun, ada ketegangan antara penduduk Wadeye dan polisi – masalah yang memuncak ketika seorang anak berusia 18 tahun ditembak mati oleh seorang polisi pada tahun 2002.

Setelah kerusuhan tahun lalu, polisi bertekad mengubah pendekatan mereka di Wadeye dan di komunitas terpencil lainnya.

"Orang biasanya berpikir jika ada masalah di komunitas, kami akan datang dengan tongkat," kata Inspektur Paul Faustmann.

"Jadi, memang harus ada perubahan."

"Apa yang telah terjadi tidak menghasilkan solusi yang kami butuhkan. Kami belum memiliki solusinya sekarang, masih terus mengupayakannya."

Salah satunya dengan perekrutan perwira baru yang bertanggung jawab atas Wadeye, Sersan Senior Erica Gibson, seorang polisi senior dengan pengalaman lebih dari tiga dekade.

Dia kembali tertugas ke masyarakat dengan ambisi untuk membangun kembali hubungan yang baik dengan polisi.

"Memiliki komunitas yang bebas dari kekerasan, sehingga orang dapat hidup bahagia dan sehat adalah tujuan yang ingin dicapai. Kita semua menginginkannya,” katanya.

Margaret Perdjert optimis tentang masa depan masyarakat ini, masa depan cucunya, dan cucu mereka, mungkin selama ribuan tahun lagi.

"Seperti yang selalu saya katakan, saya bisa berubah, Anda juga bisa berubah," kata Perdjert.

"Semua orang bisa berubah menjadi lebih baik."

Kredit:

Laporan: 
Matt Garrick

Fotografi dan video: 
Hamish Harty

Produksi digital:
Steve Vivian

Penyunting:
Emily Sakzewski

Produksi video: Tristan Hooft, Tony Park

Media tambahan: Lesley Reilly, Mark Crocombe, NT Courts

Penerjemah: Farid Ibrahim