ABC

UNSW Bussiness Think : Arah Pembangunan Ekonomi Indonesia sudah Tepat

Sejumlah pakar dan tokoh pengusaha optimistis dengan masa depan pembangunan ekonomi Indonesia. Arah kebijakan di sektor ekonomi dianggap sudah tepat, meski diakui masih berjalan lamban. Itulah kesimpulan dari event Bussiness Think yang digelar Universitas Of New South Wales (UNSW) untuk pertama kalinya di Jakarta (26/11).

Diskusi panel UNSW Bussiness Think menampilkan Deputi CEO PT Supra Boga Lestari Tbk, Meshvara Kanjaya; CEO Sintesa Group, Shinta Kamdani; penasihat ekonomi Wapres RI sekaligus petinggi Gemala & Santini Group, Sofjan Wanandi, dan mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal di SCTV Tower, Jakarta (26/11).
Diskusi panel UNSW Bussiness Think menampilkan Deputi CEO PT Supra Boga Lestari Tbk, Meshvara Kanjaya; CEO Sintesa Group, Shinta Kamdani; penasihat ekonomi Wapres RI sekaligus petinggi Gemala & Santini Group, Sofjan Wanandi, dan mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal di SCTV Tower, Jakarta (26/11).

Dalam rangka mempererat dan mengokohkan jaringan dengan para alumninya, Universitas New South Wales (UNSW) menggelar perhelatan internasional Bussiness Think yang pertama di Indonesia. Event ini dihadiri pakar dan pengusaha terkemuka dunia serta alumni UNSW ini untuk berbagi wawasan seputar bisnis dan masa depan perekonomian Indonesia.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Pandjaitan tampil sebagai pembicara utama dalam event ini. Luhut Pandjaitan memaparkan tantangan dan kebijakan ekonomi pemerintah  Jokowi – JK.
 
Menurut luhut pemerintah Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus meningkat di masa depan. Iklim bisnis juga diharapkan akan semakin kondusif seiring dengan perbaikan dan efisiensi yang dilakukan melalui paket-paket kebijakan yang dirilis akhir-akhir ini, ditambah lagi dukungan sejumlah proyek infrastruktur besar yang tengah digarap di sejumlah daerah.
 
Namun diakui Luhut masih ada sejumlah masalah yang berpotensi mengganggu iklim usahaa ditanah air, yaitu terkait isu keamanan dan stabilitas sosial-politik, narkoba dan prospek perekonomonian, dan iklim investasi. 
 
Dia menuturkan, radikalisme telah menjadi sebuah ancaman serius di Indonesia apalagi dengan hadirnya fenomena ISIS yang muncul menjadi isu ancaman keamanan globalmenyusul serangan teror di Paris, Prancis pada 13 November 2015 yang menewaskan 130 orang dan ratusan
orang lainnya mengalami luka-luka.
 
"Radikalisme melahirkan kelompok teroris semacam ISIS. Gerakan mereka menjadi ancaman serius di seluruh dunia," kata Menko Luhut Pandjaitan.
 
Menkopolhukam Luhut Pandjaitan berbicara dalam acara UNSW Bussiness Think di Jakarta (26/11)
Menkopolhukam Luhut Pandjaitan berbicara dalam acara UNSW Bussiness Think di Jakarta (26/11)
 
Menko Luhut mengatakan, ISIS sudah menancapkan pengaruhnya di Indonesia. Menurut data yang dimiliki aparat keamanan, ada 800 orang Indonesia yang bergabung dalam ISIS dan terbang ke Irak serta Suriah. 284 di antaranya telah teridentifikasi dan 516 lainnya masih diinvestigasi. Beberapa di antara mereka telah kembali ke Tanah Air.
 
Untuk mengatasi hal ini pemerintah menggandeng berbagai kelompok di masyarakat terutama organisasi dan ulama Islam untuk melakukan kampanye melawan ISIS. Dan menegaskan isu kalau ISIS bukan Islam.
 
Sementara itu tokoh pengusaha yang juga alumni UNSW, Eddy Kusnadi Sariaatmadja juga mengakui optimismenya terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia saat ini. Ia menekankan pentingnya dukungan untuk kalangan pengusaha di dalam negeri.
 
"Berbicara tentang bisnis, menurut saya, perlu ada dukungan dari pemerintah untuk menciptakan kondisi yang pro bisnis, sejalan dengan upaya untuk meningkatkan kehidupan rakyat banyak dan kalangan bawah, jadi, pro business itu artinya pro people, and pro poor." 
 
"Pro bisnis bisa meningkatkan kehidupan rakyat dan juga kalangan bawah. Sektor privat juga bisa meningkatkan perekonomian negara,"
 
Wakil Rektor UNSW, Ian Jacobs menyebut Indonesia tidak hanya mitra dagang penting Australia saja tapi juga partner pendidikan dan ekonomi.
Wakil Rektor UNSW, Ian Jacobs menyebut Indonesia tidak hanya mitra dagang penting Australia saja tapi juga partner pendidikan dan ekonomi.

Sementara itu Profesor Ian Jacobs, President and Vice Chancellor UNSW  dalam sambutannya di acara ini mengatakan UNSW berharap hubungan baik yang selama ini tercipta antara UNSW dan Australia dengan Indonesia akan terus berlanjut terutama di bidang kerjasama ekonomi dan bisnis.
 
Karena menurut Profesor Ian Jacobs, Indonesia bukan hanya menjadi mitra perdagangan penting bagi Australia, namun juga patner pendidikan dan ekonomi. 
 
Untuk menegaskan misinya ini UNSW telah menandatangani nota kesepakatan dengan  Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta berupa membuka kelas studi S-2 bersama dan program pertukaran pelajar.
 
Acara Business Think perdana di Indonesia itu juga dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat, tokoh dan juga pengusaha seperti Deputi CEO PT Supra Boga Lestari Tbk, Meshvara Kanjaya; CEO Sintesa Group, Shinta Kamdani; penasihat ekonomi Wapres RI sekaligus petinggi Gemala & Santini Group, Sofjan Wanandi, dan mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal menjadi pembicara dalam diskusi. 
 
Kampus UNSW terletak di Kensington, sekitar 7 kilometer dari pusat kota Sydney. UNSW masuk dalam jajaran 50 perguruan tinggi terbaik di dunia, terutama dalam hal sistem pengajaran dan riset.