ABC

Universitas Australia Dituduh Berbagi Penelitian Dengan China

Departemen Pertahanan Australia telah dituduh menutup mata soal universitas yang secara ilegal telah berbagi informasi soal teknologi yang berpotensi digunakan militer China.

Tuduhan Pada Sejumlah Universitas Australia:

  • Ratusan proyek penelitian melibatkan ilmuwan Australia dengan pejabat senior militer China
  • Departemen Pertahanan mengandalkan universitas untuk mengatur dirinya sendiri dalam berinteraksi dengan akademisi luar negeri
  • Kolaborasi bisa berpotensi menggunakan teknologi Australia untuk menyerang Australia sendiri

Mantan pejabat senior pertahanan, Peter Jennings mengatakan kepada Program AM milik ABC Radio bahwa kemungkinan sejumlah universitas melanggar aturan ekspor yang ketat soal teknologi yang dapat digunakan untuk tujuan militer.

Peter mengatakan sudah waktunya bagi Departemen Pertahanan untuk melakukan penyelidikan mendalam dengan segera.

Ada peraturan ketat yang melarang berbagi penelitian yang dapat digunakan untuk tujuan militer oleh musuh potensial Australia, termasuk China.

Universitas-universitas Australia melakukan penelitian di bidang-bidang teknologi, seperti kecerdasan buatan, komputer super, dan teknologi mobil tanpa pengemudi, yang dapat disesuaikan untuk keperluan militer.

Departemen Pertahanan mengatakan mereka mengandalkan penilaian dari pihak universitas sendiri untuk mengatur interaksi para akademisi di institusinya dengan akademisi luar negeri.

"Pada akhirnya, tanggung jawab masing-masing institusi untuk memastikan mereka mematuhi undang-undang tersebut," kata departemen kepada ABC saat menanggapi pertanyaan seputar hubungan antara peneliti Australia dan China.

Profesor Clive Hamilton dari Charles Sturt University telah menemukan ratusan proyek penelitian yang menghubungkan ilmuwan Australia dengan tokoh militer senior China.

Diantara banyaknya kolaborasi dengan sejumlah universitas Australia yang dipertanyakan, terpusat pada Yang Xuejun, seorang letnan jenderal dari angkatan bersenjata nasional China, yang dikenal dengan nama Tentara Pembebasan Rakyat. Letjen Yang memimpin akademi penelitian pertahanan tersebut.

Profesor Hamilton mengatakan banyaknya kolaborasi tersebut berarti teknologi Australia bisa digunakan untuk melawan di medan perang.

Undang-undang yang mengatur ekspor teknologi pertahanan diperketat pada tahun 2012, untuk memasukkan unsur penelitian universitas setelah penandatanganan perjanjian senjata antara Australia dan Amerika Serikat.

Profesor Hamilton mengatakan mempertanyakan kolaborasi universitas Australia dengan periset militer China berpotensi merusak hubungan dengan sekutu strategis terbesar Australia.

"Saya tahu bahwa penelitian kami dibaca secara teliti di Washington dan pertanyaan sulit diajukan kepada Pemerintah Australia," katanya.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini.