Tren Perumahan Islami dan Keprihatinan Toleransi
Heni Rahayu, 47 tahun, adalah ibu empat anak yang tinggal di komplek perumahan Muslim di wilayah kota Depok, Jawa Barat. Henny punya alasan tersendiri mengapa ia ingin tinggal di dekat orang Muslim dan hanya Muslim saja.
Rumah keluarga miliknya adalah rumah sederhana berbentuk modern yang baru dibangun, dengan tiga kamar tidur dan berlokasi di sebuah komplek perumahan baru yang terdiri dari 130 buah rumah identik. Banyak di antaranya masih dibangun.
Heni merasa aman di sana, di sebuah komplek perumahan khusus orang Muslim, tempat di mana warga Kristen atau penganut agama dan keyakinan lainnya tidak diterima.
“Bagi saya, karena saya seorang Muslim, saya merasa nyaman tinggal di sini,” katanya kepada ABC.
Tetangga Heni di kiri dan kanan rumahnya beragama Islam. Hidup dalam “harmoni Islam”, begitu kata pengembang perumahan -yang bersamaan dengan meningkatnya minat, mempromosikan dan membangun komplek perumahan ini –tempat Heni tinggal.
Hampir tidak mungkin untuk mengetahui berapa banyak kompleks perumahan khusus Muslim seperti ini di dalam dan di sekitar ibukota Jakarta, karena banyak yang tidak terdaftar.
Namun seorang pengembang properti, Musthafa Hadid, mengatakan kepada ABC bahwa ada ratusan, dan jumlahnya meningkat seiring dengan pilihan gaya hidup seperti ini menjadi semakin populer.
“Mereka ingin tinggal di lingkungan sekitar yang kondusif dan Islami,” kata Hadid kepada ABC dari lokasi proyek pembangunan 13 townhouse miliknya.
“Misalnya, jika mereka tinggal di daerah dengan non-Muslim, mereka mungkin memiliki anjing sebagai hewan peliharaan, mereka juga menginginkan sebuah kompleks perumahan di mana mereka bisa memiliki sebuah masjid kecil di dekatnya.”
Selama ini, banyak umat Islam menganggap anjing sebagai hewan yang menimbulkan najis. Tetapi keinginan untuk hidup di lingkungan homogen bertentangan dengan cita-cita yang dimiliki oleh Indonesia, seperti keragaman dan ini dipandang sebagai tanda yang mengkhawatirkan bagi mereka yang sudah khawatir dengan perubahan konservatif dalam pendekatan Islam.
“Akan sulit bagi orang untuk hidup dalam keragaman jika mereka tinggal di komunitas dengan gerbang tertutup seperti itu,” kata Alissa Wahid, putri mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid, dalam sebuah wawancara dengan ABC.
Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur, dikenal karena ajarannya tentang toleransi.
Alissa mengatakan bahwa perumahan Muslim harus dilarang oleh Pemerintah.
“Tren ini tidak berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat,” kata Gus Dur.
“Ini seperti ghetto saja, di mana orang terpisah, ini bentuk segregasi dan karena tersegregasi mudah sekali prasangka berkembang.”
Tapi alih-alih berakhir, konsep perumahan khusus Muslim seperti ini sedang berkembang pesat dan pengembang properti mendapatkan keuntungan.
Hadid dengan malu-malu mengakui bahwa dia ikut dalam demonstrasi jalanan di Jakarta untuk menyingkirkan gubernur DKI Jakarta-nya yang beragama Kristen, dan juga membuat orang-orang Kristen menjauh dari kompleks perumahannya.
Tapi dia menyangkal ada konservatisme yang berkembang.
“Saya tidak akan menggunakan kata ‘konservatif’ tapi orang sekarang lebih sadar akan nilai-nilai yang terkait dengan Islam,” katanya.
Gated Muslim Housing di Indonesia. (ABC News: Ari Wu)