ABC

Tokoh Muslim Australia Ahmed Fahour Berbagi Kiat Atasi Radikalisme

Ahmed Fahour, perwakilan Australia dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI), mengatakan bahwa radikalisme bisa tumbuh dari rasa keterasingan di tengah masyarakat. Dalam kunjungannya ke Jakarta pekan lalu, Fahour menekankan pentingnya kasih sayang keluarga sebagai jalan utama untuk memerangi radikalisme di kalangan anak muda.

Menurut Fahour, makin banyaknya anak muda yang tergiur radikalisme - yang berujung terorisme - dikarenakan mereka merasa terasing, sehingga mudah tergoda bujuk rayu yang ditawarkan kelompok ekstrimis.

Tindakan pencegahan dinilai Fahour sebagai tanggung jawab bersama masyarakat dimana pun mereka berada.

“Anak-anak muda yang teryakinkan [kelompok ekstrimis] ini tersesat. Mereka tak merasa terhubung dengan lingkungan sekitar, mereka merasa terasing. Cara terbaik agar mereka dicegah dari tindak terorisme adalah memastikan semua anggota masyarakat merasa diterima, merasa mereka memiliki sesuatu dalam hidup yang layak diperjuangkan,” ujar tokoh Muslim Australia ini selepas berbicara di depan santri Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta Barat (19/7/2017).

Kepada jurnalis yang hadir, termasuk Nurina Savitri dari ABC Asia Pasifik News, Fahour mengatakan, masyarakat secara individu harus memahami kemarahan dan frustasi yang dirasakan kelompok radikalis.

“Kita bisa menyakinkan mereka lewat kata-kata, lewat kasih sayang, dan lewat penerimaan,” jelas bapak dari empat anak ini.

Seorang santri bertanya kepada Ahmed soal Islam di Australia.
Seorang santri bertanya kepada Ahmed soal Islam di Australia.

ABC; Nurina Savitri

Namun ia berpendapat bahwa cara pencegahan radikalisme dan terorisme yang paling penting berawal dari lingkungan paling inti.

“Semuanya berpulang ke keluarga, ke orang tua, ke saudara kandung, ke saudara laki-laki dan perempuan. Memastikan bahwa kita tak kehilangan hubungan dengan seseorang yang ter-radikalisasi,” ujar pria yang juga bertemu dengan sejumlah tokoh politik Indonesia di sela-sela kunjungannya itu.

“Kita harus merangkul mereka kembali dan membuat mereka tetap merasa dicintai dan dihargai serta berharga di dunia ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut pebisnis Muslim Australia ini mengatakan, ia selalu mendorong para keluarga untuk memastikan agar kerabat mereka yang terindikasi terlibat radikalisme makin didekatkan dan bukannya dijauhi.

“Unit keluarga selalu menjadi unit terpenting dalam memberikan rasa aman, bahagia dan sejahtera. Ini bukan peran pemerintah, peran keluarga adalah nomor satu. Tapi jika keluarga dan masyarakat gagal, maka peran pemerintah-lah untuk menerapkan hukum, dan polisi untuk melindungi warga dari orang-orang (radikalis) ini.”

Fahour juga tak menampik, tumbuh suburnya radikalisme belakangan ini, utamanya di kalangan Muslim, juga memicu sikap Islamofobia. Ketika ditanya mengenai kondisi Islamofobia di negaranya, Australia, ia menuturkan, “Begini, tak diragukan lagi, ada masalah Islamofobia, bahkan di dunia ini, dan saya begitu sedih akan data statistik yang ada.”

Ahmed Fahour (ketiga dari kiri, depan) bersama dengan pengurus dan siswa Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta.
Ahmed Fahour (ketiga dari kiri, depan) bersama dengan pengurus dan siswa Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta.

ABC; Nurina Savitri

Meski demikian, ia meminta agar masyarakat tak lupa bahwa sikap itu hanya ditunjukkan oleh sekelompok kecil masyarakat.

“Isu yang anda bicarakan itu hanya terjadi di sekelompok kecil masyarakat yang bertindak demikian karena rasa takut dan itu sepenuhnya dipahami karena terorisme itu nyata tapi menurut saya itu tidak mewakili mayoritas warga Australia,” ujarnya kepada Nurina Savitri.

Muslim di Indonesia, menurutnya, bisa memberi inspirasi kepada Muslim dari negara lain di dunia.

“Ketika anda melihat sebuah negara seperti Indonesia, di mana Muslimahnya sukses dan sejahtera, itu membuat saya yakin dan optimistis bahwa Islam modern akan makmur dan berjalan baik serta mampu menangkal narasi yang diinginkan sekelompok kecil masayarakat.”

Kedatangan Fahour ke Jakarta terselenggara atas inisiatif Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Di samping mengunjungi Pondok Pesantren Darunnajah, dia juga berdiskusi dengan perwakilan Indonesia untuk OKI dan Timur Tengah.

Fahour mengajak Muslim Indonesia untuk berkunjung ke Australia, untuk melihat keragaman ekspresi Muslim di negaranya.

“Saya ingin agar Muslim Indonesia merasa senang untuk datang ke Australia, menyaksikan bagaimana Muslim di sana merayakan budaya dan agama mereka secara harmonis,” tuturnya.