ABC

Tips Memilih Kampus yang Tepat di Australia

Salah satu keputusan besar dalam hidup adalah memilih universitas mana sebagai tempat berkuliah. Di antara begitu banyak pilihan kampus dan jurusan, bagaimana anda bisa membuat keputusan yang tepat?. Jika Australia adalah destinasi anda, kami bagikan beberapa tipsnya.

Universitas di seluruh Australia seringkali mengadakan 'open house' bagi calon mahasiswa yang ingin mengetahui lebih jauh pilihan studi serta pengalaman dalam kampus.

Tapi dengan begitu banyaknya pilihan, memilih jurusan dan kampus yang tepat bisa menjadi proses yang menakutkan.

Kami merangkum sejumlah pertimbangan yang harus dipikirkan calon mahasiswa sebelum mereka membuat keputusan besar ini.

Berikut adalah 5 pertimbangan tentang kapan, jurusan apa dan tempat mana yang harus dipilih untuk berkuliah.

1. Lakukan yang Anda suka
 

Memilih jurusan kuliah.
Memilih jurusan kuliah.

 

"Pilihan paling penting adalah jurusannya. Jika anda memilih universitas tanpa berpikir banyak tentang jurusannya, dan kemudian anda sadar anda memilih jurusan yang tak diminati, maka menjalaninya-pun akan berat," ujar Dr Emmaline Bexley, dosen senior di Universitas Melbourne.

Sebagian besar program sarjana dan pasca sarjana membutuhkan masa studi selama minimal 3 tahun.

Meski demikian, sekitar 1 dari 5 mahasiswa putus kuliah atau berganti jurusan pada tahun pertama studi mereka.

Pada tahun 2010, sebuah studi - yang dikutip jurnal online The Conversation - memperkirakan bahwa biaya total putus kuliah tahun pertama di Australia mencapai lebih dari 1 miliar dolar (atau setara Rp 10 triliun) per tahun.

Dr Emmeline mengungkapkan, tingkat putus sekolah itu biasanya disebabkan pilihan studi yang dijalani berada di urutan terbawah daftar mereka.

"Mereka tak punya cukup minat untuk bertahan selama 3 tahun perkuliahan. Jadi, pilih sesuatu yang anda inginkan, ketimbang memilih sesuatu yang disarankan orang," utaranya.

Ia menambahkan, "Pikirkan tentang apa yang membuat sesuatu berjalan begitu cepat di masa SMA anda, apa yang benar-benar anda cintai dan itu akan membuat anda bertahan selama 3 tahun."

2. Pilih jurusan yang lebih luas


Mahasiswa membutuhkan kemampuan dan pengetahuan yang lebih luas untuk menyiapkan diri dalam menghadapi dunia kerja di masa depan. (Foto: University of Tasmania)
Mahasiswa membutuhkan kemampuan dan pengetahuan yang lebih luas untuk menyiapkan diri dalam menghadapi dunia kerja di masa depan. (Foto: University of Tasmania)

 

Biaya kuliah untuk mahasiswa Australia

JurusanKontribusi maksimal mahasiswa (dalam dolar Australia)
Hukum, akuntansi, dan bisnis$10,266
Ilmu sosial$6,152
Matematika$8,768
Ilmu perilaku$6,152
Pendidikan$6,152

Psikologi klinis, seni visual dan pertunjukan

$6,152
Keperawatan$6,152
Teknik$8,768
Kedokteran, kedokteran gigi$10,266
Pertanian$8,768

Sumber: Total resourcing for a Commonwealth supported place by discipline 2015 / Departemen Pendidikan
Catatan editor: Data ini menunjukkan kontribusi maksimal mahasiswa di beberapa tempat yang didukung oleh Persemakmuran. Untuk biaya kuliah di kampus tertentu, mohon kunjungi laman institusi masing-masing.
 

Dr Duncan Ivison dari Universitas Sydney menyarankan agar calon mahasiswa mengingat bahwa 'universitas bukanlah pusat pelatihan kerja'.

Profesor filosofi politik ini mengatakan, meskipun bisa dipahami ada keterkaitan erat antara gelar dan pekerjaan di masa depan, menjadi lulusan yang komplit bahkan lebih penting di tengah dunia yang berubah cepat ini.

"Banyak pekerjaan yang tersedia saat anda lulus bahkan belum ditemukan sekarang. Kaum muda sekarang ini bisa saja berganti-ganti pekerjaan hingga 5-7 kali selama hidup mereka. Dan ini artinya, gelar yang kurang luas atau fokus secara mendetil tak akan menghasilkan masa depan terbaik," jelas Dr Duncan.

Ada tren mendunia di tengah mahasiswa, bahwa pilihan jurusan di program sarjana biasanya harus lebih luas, kemudian mereka bisa mengambil spesialisasi untuk gelar masternya, tambah Dr Duncan.

Hal penting lainnya adalah menimbang biaya masuk, yang Dr Duncan sebut lebih bervariasi antara jurusan profesional dengan jurusan yang lebih umum.

Dr Emmaline juga merekomendasikan untuk tak memilih jurusan yang mengkhususkan pekerjaan, seraya mengutip 'efek CSI' saat banyak orang tertarik ilmu forensik karena popularitas serial TV detektif itu.

"Orang-orang mendaftar di jurusan kriminologi dan forensik karena mereka menonton CSI dan kelihatannya itu pekerjaan yang bagus. Untungnya di tengah masyarakat, kita tak punya cukup kejahatan berbasis kekerasan yang perlu diungkap. Jadi meski itu terdengar seperti jurusan yang sangat khusus...tak ada lapangan pekerjaan yang pasti," jelasnya.

 

3. Pengalaman kuliah seperti apa yang diinginkan?
 

Alex Dyson dari program ABC 'JJJ Breakfast' menyampaikan saran humorisnya tentang pilihan berkuliah.
Alex Dyson dari program ABC 'JJJ Breakfast' menyampaikan saran humorisnya tentang pilihan berkuliah.

 

Lingkungan dan budaya sosial dari sebuah universitas adalah faktor penting dalam menentukan kepuasan dan kebahagiaan mahasiswa.

"Begitu banyak pengalaman kampus anda akan berlangsung di luar fakultas, begitu pula yang terjadi di dalamnya. Cari tahu seperti apa pengalaman mahasiswa secara umum: apakah mereka punya klub mahasiswa atau komunitas tertentu? apakah ada kesempatan untuk pertukaran, magang dan penempatan kerja internasional? apakah ada layanan mahasiswa yang bagus mencakup perpustakaan, fasilitas olahraga dan layanan kesehatan?" terang Dr Duncan.

Hari 'open house' universitas adalah kesempatan yang bagus untuk melihat-lihat kampus dan bertanya tentang aktifitas ekstra kurikuler yang ditawarkan.

Tapi Dr Duncan menyebut, hal yang juga bermanfaat untuk mengunjungi universitas di jam kerja reguler mereka.

"Ketika anda datang, bicaralah dengan relawan mahasiswa sebagai prioritas utama. Pengalaman saya mengajarkan, mereka bisa menjelaskan seperti apa jurusan yang anda minati serta gambaran kampus secara umum," kemukanya.

Calon mahasiswa akan bisa bertemu dengan pembimbing akademik di hari 'open house' universitas. (ABC News: Greg Nelson)
Calon mahasiswa akan bisa bertemu dengan pembimbing akademik di hari 'open house' universitas. (ABC News: Greg Nelson)

 

4. Jangan buat keputusan hanya berdasarkan hasil ujian SMA

 

Dr Duncan memperingatkan calon mahasiswa agar tak membuat kesalahan dalam mencocokkan sebuah jurusan dengan Ranking Penerimaan Perguruan Tinggi (ATAR).

Skor penerimaan adalah indikator pelamar dari sebuah jurusan dan bukan 'kualitas inheren' dari jurusan itu, katanya.

"Syarat masuknya adalah perbandingan antara jumlah kursi yang tersedia dengan jumlah calon mahasiswa yang ingin (atau berharap ingin) menjalani kuliah di jurusan itu. Hal tersebut tak berarti bahwa gelar yang memiliki nilai penerimaan lebih rendah menjadi kurang prestisius atau kurang tepat," tutur sang doktor.

Ia menambahkan, "Contohnya, meski gelar seni dan keilmuan seringkali skor penerimaannya lebih rendah, di banyak kasus, fakultas seni dan keilmuan berperingkat sama tingginya dengan universitas kelas dunia, dan bahkan terkadang bisa lebih tinggi."

ATAR adalah indikator dari jumlah kursi yang tersedia dan jumlah calon mahasiswa yang telah melamar. (ABC: Blythe Moore)
ATAR adalah indikator dari jumlah kursi yang tersedia dan jumlah calon mahasiswa yang telah melamar. (ABC: Blythe Moore)

 

Bagi mereka yang berharap untuk belajar kualifikasi dengan skor penerimaan yang sangat tinggi, opsi lainnya adalah mendaftar di program pelengkap dan menggunakan kredit di sana untuk jenjang lebih lanjut.

Dr Emmaline dari Universitas Melbourne mengatakan, memiliki peringkat ATAR yang lebih rendah dari yang diperkirakan bukanlah akhir dunia.

"Terkadang, mereka yang dapat hasil ATAR bagus menjadi khawatir akan menyia-nyiakan ATAR mereka. Saya harus memilih jurusan yang memiliki cita-cita yang bisa saya kejar. Mengapa?," sebutnya.

"Itu tak akan sesuai dengan jurusan yang sekiranya akan berhasil pada anda," sambungnya.

Sentimen ini juga dirasakan oleh Dr Duncan, yang mengakui adanya ' tekanan besar' bagi siswa untuk berprestasi bagus di tahun terakhir SMA.

"Sebagai seorang dekan, tak ada yang lebih membuat depresi ketimbang mendengar bahwa murid anda diminta orang tua atau temannya untuk tak menyia-nyiakan ATAR mereka. Itu saran yang buruk," sebutnya.
 

5. Peringkat universitas bukanlah segalanya


Sejumlah universitas di Australia secara konsisten menempati peringkat atas di semua sistem peringkat global, kriteria dan bidang jurusan. Menurut Peringkat Dunia Universitas Australia yang diterbitkan QS (2014-2015), 8 universitas Australia masuk di 100 besar universitas top dunia.

Peringkat universitas yang diterbitkan QS adalah salah satu dari 3 sistem peringkat global, sementara sistem lainnya adalah Suplemen Pendidikan Tinggi Times (THE) dan Peringkat Akademik Universitas Dunia yang diterbitkan konsultan di Shanghai (ARWU).

Peringkat universitas dunia versi QS


Peringkat

di Australia

Universitas
Peringkat dunia
2014-2015
1Universitas Nasional Australia (ANU)25
2Universitas Melbourne33
3Universitas Sydney37
4Universitas Queensland43
5Universitas New South Wales (UNSW)48
6Universitas Monash70
7Universitas Australia Barat (UWA)89
8Universitas Adelaide100
9Universitas Macquarie254
10Universitas Newcastle257

Sumber: QS (Quacquarelli Symonds) World University Rankings

 

"Sebagian besar skema peringkat internasional didasarkan pada hasil penelitian universitas, bukan pengajaran mereka. Pengajaran yang bagus sulit untuk diukur atau diperingkat. Maksudnya, peringkat tersebut bukan indikator yang bagus yang diharapkan mahasiswa potensial," jelas Dr Emmeline.

Ada sekitar 43 universitas di Australia dan masih banyak lainnya yang menawarkan program sarjana.

Delapan universitas berbasis riset, yang dikenal dengan 'kelompok 8 universitas', termasuk Universitas Melbourne, Universitas Nasional Australia (ANU), Universitas Sydney, Universitas Queensland, Universitas Australia Barat, Universitas Adelaide, Universitas Monash dan Universitas New South Wales.

Dr Emmeline menyemangati calon mahasiswa untuk melihat apa saja yang ada di balik status peringkat tadi agar mereka menemukan universitas yang tepat.

"Apakah anda mencari pendidikan yang bisa anda sesuaikan dengan aktifitas lainnya dan dilakukan secara online?. Apakah reputasi dan status penelitian begitu penting? Apakah anda ingin terlibat dalam klub olahraga, teater dan majalah sekolah? Apakah anda ingin memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang anda punya atau membuka diri anda ke sesuatu yang benar-benar baru?," tanyanya.

Ia lalu menyambung, "Apakah anda biasanya ingin melakukan sesuatu atau memikirkan sesuatu? kemungkinan anda mencari kombinasi dai hal ini, tapi ketika anda sudah punya pemahaman lebih baik tentang keseimbangan, anda bisa bertanya untuk mencari tahu universitas mana yang anda inginkan."

Peringkat universitas seringkali ditentukan berdasarkan hasil penelitian yang mereka terbitkan. (Foto: University of Queensland)
Peringkat universitas seringkali ditentukan berdasarkan hasil penelitian yang mereka terbitkan. (Foto: University of Queensland)


Andrew Norton, direktur program pendidikan tinggi di Institut Grattan; dan David Carroll, kandidat PhD di Universitas New South Wales, ikut menjadi tim penulis analisa survei HILDA 2014 yang menanyakan tujuan kuliah para respondennya.

Mereka mengatakan, studi tersebut menemukan keuntungan pendapatan seumur hidup sebesar 6% di antara univeristas teknologi kelompok 8 dengan sejumlah universitas lainnya.

Meski demikian, studi tersebut mengungkap tipe universitas yang dipilih seseorang 'tak banyak berbeda ketika orang tersebut sedang memiliki pekerjaan atau tidak'.

"Bagi mahasiswa yang mencari keuntungan finansial tinggi di tingkat pendidikan tinggi, kita seharusnya mencatat bahwa jurusan yang dipelajari biasanya lebih penting ketimbang universitas yang dipilih," utara dua ilmuwan tersebut. 

"Mengingat konsekuensi karir jangka panjang yang bisa ditimbulkan pilihan jurusan, apa yang mau dipelajari adalah pertanyaan utamanya, dan kemana anda harus studi adalah pertanyaan kedua yang seharusnya dijawab calon mahasiwa.

The Conversation adalah situs informasi online yang dikelola oleh para editor profesional, menyediakan ruang komentar dan mendebat sejumlah isu yang mempengaruhi dunia kita. 

Cerita ini telah ditayangkan di program #TalkAboutIt. Lihat episoda lengkapnya di tautan Australia Plus.