ABC

Tingkat Kepercayaan Pemimpin Perusahaan Terhadap Abbott Menurun

Survey terbaru menunjukan kalangan pemimpin perusahaan di Australia menjadi kurang yakin dengan pemerintahan Abbott dibandingkan setelah dia terpilih dahulu. Hasil survey ini menunjukan periode bulan madu bagi pemerintah koalisi sudah berakhir.

Jika dibandingkan pada periode pertengahan tahun 2013 lalu, ketika Abbott baru mengambil alih pemerintahan, hampir 70 persen pemimpin perusahaan di Australia berharap pemerintahan yang baru akan memberi dampak positif bagi pengambilan keputusan bisnis mereka.

Namun pada survey terbaru dari Institut Pemimpin Perusahaan Australia (AICD) tercatat, kepercayaan tersebut telah merosot jauh hingga hanya tersisa 30 persen saja.

Hilangnya kepercayaan ini juga telah diterjemahkan dalam bentuk penurunan proporsi direksi yang percaya kalau pemerintah federal yang dipimpin Abbott memahami sektor bisnis - dari 55 persen pada tahun lalu menjadi hanya  48 persen pada hasil survey terbaru.
 
Indeks sentimen para direktur secara keseluruhan juga menunjukan penurunan sebesar 6,9 poin dibandingkan survei sebelumnya, tetapi masih tetap sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada  tahun lalu ketika bulan-bulan terakhir  pemerintah Gillard berkuasa.

"Hasil penelitian menunjukkan periode bulan madu bagi pemerintah Koalisi telah berakhir," pungkas Kepala Executive AICD, John Colvin.

Survei yang dilakukan terhadap lebih dari 500 direktur perusahaan ini berlangsung antara 31 Maret dan 13 April sebelum rilis dari Komisi Audit, dan juga sebelum spekulasi tentang pengenalan retribusi defisit - proposal yang telah dikritik oleh banyak anggota terkemuka dari komunitas bisnis, meskipun tetap didukung oleh beberapa tokoh.

Tentu saja, survei AICD itu akan menunjukkan bahwa sebagian besar anggotanya akan membenci kemungkinan retribusi bagi mereka yang berpenghasilan tinggi, dengan 60 persen diantaranya yakin bahwa tingkat pajak pribadi saat ini saja sudah  terlalu tinggi.

Namun yang mengejutkan, para pemimpin bisnis pada umumnya tidak menganggap penting tentang pencapaian surplus anggaran jangka pendek, dimana lebih dari 80 persen mengatakan itu bukan prioritas dalam tiga tahun ke depan.

Sebaliknya, Colvin menilai para tokoh bisnis Australia khawatir tentang perekonomian domestik, dan ingin melihat investasi publik di sektor infrastruktur sebagai kunci untuk mengokohkan perekonomian domestik.

"Direksi lebih pesimis tentang masa depan kesehatan ekonomi Australia, dengan hanya kurang dari setengah pemimpin perusahaan yang disurvey menganggap kalau perekonomian Australia akan terus melemah selama 12 bulan ke depan. Untuk pertama kalinya dalam periode tiga tahunan  dari Indeks  Sentimen Direktur (DSI), kalangan direktur mengharapkan ekonomi AS bisa mengungguli perekonomian domestik di tahun depan, "tulis laporan tersebut.

"Lima isu teratas yang didesak kalangan eksekutif perusahaan di Australia agar diprioritaskan dalam pembangunan jangka pendek oleh pemerintah koalisi adalah infrastruktur, pertumbuhan produktivitas, reformasi perpajakan, hubungan industrial dan daya saing internasional."

Salah satu area yang para eksekutif kehendaki pada umumnya adalah investasi pemerintah pada skema cuti melahirkan yang dibayar. Tercatat hanya 8 persen saja yang mendukung kebijakan awal Tony Abbott untuk menyediakan uang penggantian penghasilan selama enam bulan penuh bagi perempuan yang memiliki penghasilan sampai dengan AUD$150.000.
 
Hampir 60 persen menilai skema tersebut, bahkan jika nilainya diturunkan, harus ditunda atau dibatalkan, dan hanya 40 persen yang menyatakan tidak suka sama sekali kebijakan tersebut.

Skema ini sebagian anggarannya didanai dari dari 1,5 persen pungutan pajak dari perusahaan dengan omset di atas AUD$5juta.