ABC

Tingginya Dolar Australia Pengaruhi ‘Backpacker’

Seiring dengan melonjaknya nilai dolar Australia, ada kekhawatiran kenaikan ini malah memberikan sinyal yang salah bagi perekonomian Australia.

Melemahnya nilai dolar Amerika Serikat baru-baru ini, ditambah kenaikan harga komoditas utama Australia, telah mendorong dolar Australia ke level tertinggi selama dua tahun terakhir terhadap mata uang AS tersebut.

Kenaikan dolar Australia bernilai positif bagi warga Australia yang hendak liburan ke luar negeri.

Gerhadt, seorang penjual bunga di kawasan Kings Cross, kota Sydney, mengatakan temannya hendak bepergian ke luar negeri dalam waktu dekat merasa senang dengan kenaikan mata uang Australia.

"Ia berharap dolar Australia akan naik. Dua minggu yang lalu satu dolar Australia bernilai 76 sen Amerika Serikat, hari ini 78 sen. Waktu yang sangat baik untuknya."

Namun, dolar Australia yang melonjak tak begitu baik untuk industri pariwisata yang menjadi sektor pertumbuhan utama ekonomi Australia.

Nicki Hutley, kepala ekonom di perusahaan konsultan Urbis, mengatakan, jika dolar Australia naik di atas 80 sen AS, akan memiliki efek yang sama dengan kenaikan suku bunga resmi Bank Sentral Australia.

"Ada kecenderungan untuk memengaruhi perekonomian, benar-benar menurukan ekonomi, jadi ini bukan kabar baik bagi kita semua," sebut Hutley.

Tekanan keuangan dari kenaikan dolar Australia dirasakan oleh turis backpacker berbujet minim, yang merupakan target menguntungkan bagi sektor pariwisata.

"Pertama-tama, Anda harus membeli tiket pesawat yang mahal untuk sampai ke Australia, jika Anda berasal dari sisi Eropa atau Amerika Serikat," kata Hutley.

"Kemudian biaya hidup di Sydney sangat tinggi, harga makanan di sini begitu relatif terhadap apa yang Anda dapatkan di Eropa atau di AS, yang juga tinggi. Jadi biaya bagi mereka pasti semakin tinggi, pada akhirnya akan memengaruhi kemana pun kebijakan akan berjalan," terangnya.

Backpacker perketat anggaran

Turis backpacker asal Jerman, Joerdis dan Marjam, baru-baru ini mengirim kembali sejumlah uang ke kampung halaman mereka, untuk memperoleh keuntungan dari kenaikan dolar Australia terhadap euro.

Keduanya menerima dukungan finansial dari orang tua mereka. Tanpa bantuan itu, mereka tak akan mampu berpergian ke Australia.

"Saya baru mengirim uang kembali ke Jerman karena sekarang saya tak bekerja, jadi saya hanya punya uang itu," kata Marjam.

"Saya tak bisa melakukannya tanpa orang tua saya. Dan akomodasi benar-benar sangat mahal, bahkan hostel sekalipun.”

"Saya pikir sebagian besar anak muda di sini mendapat dukungan dari kampung halaman, dan itulah satu-satunya alasan mereka ada di sini. Saya rasa, tanpa dukungan orang tuanya mereka tak akan berada di sini."

Data pariwisata Austrade terbaru menunjukkan, turis backpacker rata-rata menghabiskan uang lebih banyak dalam jangka waktu yang lebih lama daripada turis lainnya.

Tapi orang-orang seperti Joerdis, yang sudah tak mau menghabiskan uang karena dolar Australia melonjak, akhirnya memberi kontribusi lebih sedikit kepada perekonomian Australia.

"Saya selalu menuliskan apa yang saya beli dan berapa besar nilainya dalam euro," ungkap Joerdis.

"Saya bukan orang kaya, jadi saya harus membatasi apa yang saya miliki dan apa yang saya habiskan."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.