ABC

Tes Genetik Mampu Selamatkan Penderita Kanker Payudara

Seorang peneliti dari Queensland telah mengembangkan sebuah tes baru yang dapat meningkatkan angka keselamatan dari penderita kanker payudara. Penelitian ini mengungkap pola gen baru yang akan memberi analisa lebih akurat pada perempuan penderita kanker payudara.

Dengan adanya penemuan ini, nantinya tes patologi diharapkan dapat menolong para penderita agar mendapatkan perawatan yang paling efektif, khususnya dalam melawan kanker yang paling agresif.

Dr. Fares Al-Ejah dari Institut Penelitian Medis “QIMR Berghofer” tengah meneliti kanker payudara golongan ‘triple-negative’ yang agresif, ketika ia menemukan tes genetik ini.

Ia menjelaskan, sejumlah tes yang pernah ada sebelumnya, tak mampu menjangkau golongan kanker payudara yang spesifik, dan tak berfungsi pada kanker yang sangat agresif.

“Petugas klinik akan mengirim sampel ke lab patologi, lalu lab akan menganalisa kanker ini punya jenis reseptor seperti apa atau sama sekali tak terdeteksi, dan lantas hasil itu akan menentukan metode perawatan. Jadi jika reseptor hormon yang terdeteksi, penderita akan mendapat obat Tamoxifen, jika faktor lain bernama HER2 yang terdeteksi, ia akan diberi Herceptin,” ujar Dr. Fares.

Ia menambahkan, pendekatan umum ini sayangnya tak selalu tepat bagi semua penderita.

“Ada kelompok penderita yang meski sudah diberi Tamoxifen, tapi belum cukup. Mereka ini harus di-kemoterapi terlebih dahulu dan mungkin saja, beberapa di antara yang di-kemo itu..seharusnya malah tak boleh di-kemo karena mereka akan baik-baik saja dengan perawatan standar,” tuturnya.

Tes genetik ini  mampu selamatkan penderita dari kemoterapi

Dr. Fares menungkapkan, tiap kanker payudara mempunyai tipe gen atau kombinasi gen tersendiri.

Penelitiannya telah menyaring dua tipe gen, yakni satu yang ditemukan pada kasus kanker payudara kebanyakan dan satu lagi yang ditemukan pada kanker payudara tipe ‘triple-negative’.

Ia berujar bahwa tes genetik yang baru dapat mengenali tipe gen kanker, memberi informasi ekstra tentang karakter kanker yang diderita, yang nantinya dapat membantu memastikan perawatan yang paling efektif bagi penderita.

“Jika hasilnya agresif, kemoterapi tambahan atau perawatan model lain bisa saja dibutuhkan,” jelasnya.

Kanker payudara adalah penyebab kematian-yang berhubungan dengan kanker- terbesar pada perempuan Australia. Lima belas ribu perempuan diperkirakan menderita penyakit ini pada tahun 2014.

Ibu tujuh anak, Virginie Mackay, telah menjalani masektomi tahun lalu setelah ia divonis menderita kanker payudara. Ia menilai penemuan tes genetik baru ini sebagai alternative untuk melawan kanker.

“Ketika saya menjalani masektomi, saya tidak tahu apakah saya sebenarnya membutuhkan masektomi atau tidak, karena saya tidak tahu kalau sel kanker-nya telah menyebar ke sistem getah bening saya. Jika anda sebelumnya mengetahui... ‘ini tipe kanker yang saya derita, kanker-nya se-agresif ini dan ini perawatan yang tepat’...mungkin saja anda masih mampu menyiapkan diri lebih baik,” ujarnya.

Dr. Fares menyatakan, tes temuannya baru bisa disimpulkan tiga tahun mendatang, tapi ketika tes tersebut sudah siap, itu bisa menyelamatkan perempuan penderita dari jeratan kemoterapi.

“Nanti ketika kami sudah punya cukup pembuktian atas tes ini, ketika kami sudah selesai melakukan percobaan, pada akhirnya kami akan mampu mendiagnosa beberapa perempuan dengan kanker payudara...tak perlu minum pil Tamoxifen misalnya, atau tak perlu menjalani kemo,” harapnya.