ABC

Terpapar Cuaca Kering Ekstrim, Buaya di Australia Barat Mandi Lumpur

Cuaca panas dan kering  masih terus melanda kawasan Utara Australia Barat. Kondisi ini mengakibatkan puluhan buaya terdampar di sumber-sumber air yang mengering dan membenamkan diri mereka di dalam lumpur untuk bisa bertahan hidup dari kondisi kering ekstrim yang tidak seperti biasanya di Utara Australia Barat ini.

Untuk bertahan hidup dari kondisi yang sangat kering hingga 40 derajat celcius, buaya di WA membenamkan diri di lumpur.
Untuk bertahan hidup dari kondisi yang sangat kering hingga 40 derajat celcius, buaya di WA membenamkan diri di lumpur.
 
 
Pemandangan buaya air asin dan air tawar membenamkan diri didalam lumpur ini salah satunya terlihat di anak sungai Perry yang sudah mengering di kawasan Hutan Lindung di Wyndham, Kimberley, Australia Barat.
 
Perilaku satwa ini memberikan pemandangan yang tidak biasa bagi warga setempat dan memudahkan mereka untuk mengambil gambar dari jarak dekat.

Operator event memancing dikawasan hutan lindung itu,  Kurt Williamson memfilmkan enam ekor buaya yang sedang berjejal membenamkan diri di lumpur di anak sungai itu.

"Air dikawasan ini sudah mengering sehingga buaya-buaya ini berdesakan menggunakan apa yang tersisa dari sungai ini, yakni berupa kubangan lumpur berukuran kecil, tapi ini pemandangan yang cukup bagus untuk dilihat," katanya.

"Kami menemukan dua atau tiga kolam terpisah yang penuh dengan buaya, ada sekitar enam ekor buaya dalam satu hamparan lumpur, bahkan ditempat lain ada yang sampai berjumlah 12 hingga 15 ekor."

"Buaya yang berjejalan dalam kubangan lumpur itu memiliki ukuran yang berbeda-beda, begitu juga dengan jenisnya, kadang ada juga buaya air tawar dan buaya air asin dalam satu kubangan, padahal biasanya mereka hewan yang cukup teritorial."

"Tampaknya saat ini mereka semua berusaha untuk bertahan hidup bersama dengan apa yang tersisa di alam saat ini,"
 
Kimberley saat ini tengah memasuki musim terkering dalam setahun.
 
Pada musim hujan yang baru berlalu, curah hujan yang turun intensitasnya berkurang dan tidak sebanyak biasanya. oleh karena itu seiring dengan berakhirnya musim hujan tersebut dan memasuki musim kering suhu dikawasan ini sangat menyengat hingga 40 derajat celcius.
 
Williamson mengatakan kondisi ini memang jauh dari situasi normal pada umumnya.
 
"Ini merupakan musim terkering yang pernah dialami oleh kawasan ini, tapi dampaknya yang kami lihat bahkan sampai buaya-buaya saja merasa sangat kegerahan," katanya.
 
Departemen Taman dan Satwa Liar, Kimberley mengatakan pihaknya terus memonitor situasi yang terjadi pada musim kering ini, tapi telah memutuskan untuk tidak berusaha merelokasi hewan-hewan tersebut karena tingkat stres  juga dapat membunuh mereka.
 
Meski mengalami suhu kering yang ekstrim, diprediksi buaya-buaya ini akan mampu bertahan hidup selama mereka bisa menjaga kondisi suhu tubuh mereka dibawah 40 derajat celsius.
 
Petugas operasi di Kimberley Timur, Alexander Scott, yang mengunjungi kawasan itu secara reguler dengan penjaga hutan dari Miriuwung dan Gajerrong, mengatakan buaya merupakan hewan yang sangat tangguh.
 
"Saat ini mereka memang dalam situasi bertahan hidup dan mereka sangat tangguh," katanya.
 
"mereka memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di kondisi yang sangat kering, tapi mereka perlu mengatur temperatur tubuh mereka dengan membenamkan diri di lumpur. Atau jika ukuran tubuh mereka besar mereka bisa berteduh dibawah pohon dan itulah yang biasanya mereka lakukan."
 
Scott mengatakan tampaknya pemandangan buaya berjejalan membenamkan diri di lumpur akan menjadi pemandangan yang akan bertambah umum di Kimberley Timur.
 
Para pelancong diingatkan untuk tetap menjaga jarak, meskipun buaya itu tampak mengantuk dan lemas, tapi buaya yang kegerahan bisa menjadi lebih agresif dari biasanya.