ABC

Tentara Australia Kini Lebih Banyak Dilatih Hadapi Konflik di Asia Pasifik

Angkatan Bersenjata Australia (ADF) mengalami perubahan besar dalam pelatihan menghadapi konflik, dengan lebih banyak fokus pada wilayah pesisir dan perairan. Hal ini dinilai sebagai upaya Australia menjalankan peran pertahanan di kawasan Asia Pasifik.

Brigade 1 ADF yang berbasis di Darwin telah mengalihkan fokus dari operasi darat ke operasi perairan dangkal di mana pasukan dilatih melakukan navigasi pantai dan pulau-pulau.

Komandan Brigade 1, Brigadir Nicholas Foxall, menjelaskan hal ini merupakan perubahan besar yang akan memungkinkan ADF untuk melayani wilayah di sekitar Australia dengan sebaik-baiknya.

"Kami mengalami perubahan mendasar, beralih dari operasi darat ke operasi berbasis maritim," katanya kepada ABC News.

Brigadir Foxall menyebut tugas Brigade 1 sebelumnya adalah mengerahkan tank-tank dan merebut sasaran di darat, tapi sekarang mereka akan berlatih menggunakan jalur air sebagai "koridor utama".

"Dengan meningkatnya situasi kondisi lingkungan yang dipersengketakan, maka Brigade 1 sebagai penghubung utama Australia untuk wilayah kepulauan di utara Australia akan memberikan opsi yang sangat bagus untuk pemerintah," katanya.

Namun Brigadir Foxall mengatakan dengan latihan ini ADF juga diharapkan dapat memberikan bantuan penanganan bencana dengan lebih baik di wilayah tetangganya.

"Selama banjir dan kejadian cuaca berisiko tinggi tahun lalu di Timor Leste, kami tidak dapat segera dikerahkan untuk membantu," ujarnya.

"Konsep ini akan memungkinkan kami untuk berpartisipasi di wilayah kawasan dengan jauh lebih mudah," tambahnya.

Letnan Kolonel Chris Gilmore, Komandan Batalyon ke-5 yang berbasis di Darwin, mengatakan perubahan ini memberikan kesempatan bagi prajuritnya untuk meningkatkan keterampilan di laut dan perairan.

"Kami masih tetap prajurit infanteri, namun beradaptasi melakukan hal ini dalam lingkungan dan geografi tempat kami berada, memastikan kami dapat memenuhi persyaratan terbaik yang ditetapkan pemerintah sebagai Batalyon Infanteri di utara," katanya.

Penambahan pasukan

Brigadir Foxall mengatakan strategi ADF saat ini adalah untuk melatih kembali pasukan yang ada, tapi pada saatnya nanti akan lebih banyak personel yang ditempatkan di Top End, wilayah utara Australia.

"Ketika kapal baru tersedia dan layanan baru diperlukan, kita akan melihat peningkatan pasukan dipekerjakan di sini," jelasnya.

Perubahan tersebut sejalan dengan Tinjauan Strategis Pertahanan Pemerintah Australia yang menyoroti pembangunan militer China dan pentingnya Indo-Pasifik sebagai kawasan geo-strategis.

Tinjauan tersebut menyatakan pembangunan militer China "terjadi tanpa transparansi atau jaminan atas niat strategis China di kawasan Indo-Pasifik".

"Penegasan kedaulatan China atas Laut China Selatan mengancam tatanan berbasis aturan global di Indo-Pasifik dengan cara yang berdampak negatif terhadap kepentingan nasional Australia," kata tinjauan tersebut.

John Coyne, kepala Pusat Kebijakan Strategis Australia Utara di Institut Kebijakan Strategis Australia, mengatakan langkah ADF kali ini menunjukkan adanya peningkatan fokus pada Indo-Pasifik.

"Beralih dari fokus perang melawan terorisme, kini terjadi peningkatan fokus pada Indo-Pasifik dan tidak diragukan lagi bahwa Indo-Pasifik adalah domain maritim," kata Dr Coyne.

"Apakah ini soal perang atau apakah soal bantuan kemanusiaan, kemampuan beroperasi di wilayah perairan Indo-Pasifik sangatlah penting (bagi ADF)," jelasnya.

Dr Coyne memperingatkan agar tidak melihat langkah ini sebagai tanggapan langsung terhadap pembangunan militer China.

"Tentu saja, kita tidak boleh menarik kesimpulan langsung bahwa hal ini merupakan tanggapan langsung terhadap meningkatnya militer China," katanya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News yang selengkapnya dapat dibaca di sini