ABC

Tempat Belanja Murah di Perth

Di negeri seperti Australia, selain berbelanja di toko-toko dan pusat perbelanjaan yang menawarkan harga tetap, banyak juga tempat yang menjual barang keperluan sehari-hari dengan harga murah. Bila anda tinggal di ibukota Australia, Perth, ikuti petunjuk dari Endah Yanuarti, seorang mahasiswa PhD yang sedang menyelesaikan pendidikan di Curtin University.

Swap Market

Swapmarket, swapmeets, flea market atau yang lebih dikenal dengan Sunday market, adalah alternatif belanja murah. Jenis market ini sudah ada sejak tahun 80-an dan cukup popular di kalangan mahasiswa, permanent residence bahkan warga Australia lainnya.

Di sini kita bisa temukan berbagai macam barang dan beragam penjual. Bisa kita temukan yang menjual tanaman pot, elektronik, sampai ABG yang menjual pakaian-pakaiannya bahkan keluarga yang melakukan ‘pembersihan’ garasi, mainan-mainan, buku-buku dan baju-baju yang sudah kekecilan. Ada juga regular seller (penjual tetap) yang mencari tambahan uang dari penjualan koleksi-koleksi antiknya, atau yang memang sengaja hunting barang dari tempat-tempat buangan untuk dijual di sini.

Menjadi penjual tampaknya cukup menguntungkan, meski barang-barang yang dijual cukup murah, jauh dari harga awal membelinya.

Bagi pembeli pun cukup menguntungkan untuk mendapatkan barang-barang seken yang masih layak pakai. Bahkan bila beruntung, pembeli dapat memperoleh barang yang cukup bagus, seperti furnitur, alat-alat rumah tangga, buku, karya seni, baju dan sepatu bermerk, mainan anak-anak, tas bermerk atau pernak-pernik.

Perth ‘swapies’ biasanya dikelola oleh Rotary dan Lions klub dan penjual harus membayar sekitar $10-$15 untuk tempat mangkalnya. Pengunjung biasanya disediakan tempat untuk menampung gold coin donation (pecahan satu atau dua dolar yang warnanya emas) bila suka.

Tapi ada yang mematok $1 per pengunjung (anak-anak gratis) untuk bisa masuk market. Khusus untuk baby and kids market, (pasar yang menjual pakaian anak-anak) yang biasanya terjadwal, harga masuk lebih mahal, kisaran $4 per orang. Selby, salah satu swapmarket yang diminati warga Perth dan terjadwal setahun dua kali saja, mematok tiket sekali masuk $2.

Endah Yanuarti
Endah Yanuarti

Foto: Supplied

Swapies ini bertempat di parkiran shopping centre dan jam buka market ini juga tidak tanggung-tanggung, jam 4 pagi untuk penjual demi mendapatkan tempat yang strategis.

Bagi para hunter semakin pagi semakin bagus untuk menjadi orang pertama yang mendapatkan barang-barang berkualitas. Tapi semakin mendekati waktu closing, sekitar jam 10.30an, harga barang semakin murah.

Ada juga yang jam bukanya sekitar jam 8-an. Silahkan tentukan sendiri waktu yang diinginkan yang penting ada beberapa tips apabila kita akan datang pagi yaitu membawa senter, baju yang hangat (terutama ketika musim dingin) dan juga termos yang berisi teh atau kopi untuk menghangatkan badan (supaya tidak dehidrasi juga).

Musim yang paling ramai tentulah musim panas mendekati Natal dimana jam 5 pagi sudah terang benderang dan banyak hunter yang mencari benda-benda antik sebagai hadiah Natal.

Lokasi swapmeet sekitar Perth: Belmont –Belmont Forum carpark, Kardinya - Kardinya Park Shopping Centre carpark, Karrinyup – Karrinyup Shopping Centre carpark, Maddington - Centro Maddington carpark near Kmart, Melville – Melville Shopping Centre carpark near Coles, Morley – Morley Galleria underground carpark near Myer, Nedlands - Broadway Fair Shopping Centre, Rockingham – Rockingham Oval Carpark

Garage Sale

Garage sale juga cukup menarik untuk dikunjungi. Tetapi biasanya kami (terutama suami saya) memilih untuk browsing di Gumtree- situs online yang mempertemukan pembeli dan penjual yang populer di Australia -untuk mencari  lokasi yang dekat dengan rumah kami.

Biasanya ada yang memulai membuka garasi mereka hari Jumat bila keluarga tersebut akan pindah ke luar negara bagian atau negeri sehingga isi satu rumah akan mereka jual.

Harga dan kualitas barang tergantung dari jenis ‘bangsa’ dan daerah tempat tinggal. Biasanya penjual asli Australia akan menjual murah barang-barangnya kisaran 50c - $300 (furniture, kulkas, mesin cuci). Bangsa Eropa lain lagi gayanya, biasanya relatif mahal bahkan untuk barang yang kecil-kecil atau pernak-pernik.

Barang-barang yang dijual di garage sale mulai dari pakaian sampai komputer
Barang-barang yang dijual di garage sale mulai dari pakaian sampai komputer

Foto: Flickr/cc/ Deaf Action Center

Pernah kami membeli mesin cuci seharga $100 dari warga Australia asli yang harus mengosongkan rumah bibinya yang meninggal di daerah Como.

Tidak disangka kami memperoleh bonus TV flatscreen, panci-panci yang masih bagus plus vacuum cleaner merk Electrolux yang baru sekali pakai. Belum lagi selimut rajut yang cukup mahal harganya bila beli baru dan pernak-pernik lainnya.

Sebelumnya kami sempat ke daerah Karawara (yang banyak dihuni warga asal Eroa Timur) dan ditawari mesin cuci jadul dengan harga yang sama. Kami juga ditawari rocking chair untuk bayi kami dengan harga $80.

Pada akhirnya kami tidak jadi membeli kedua barang tersebut. Alhamdulillah di kemudian hari kami malah mendapatkan kursi goyang bayi gratis ketika mengunjungi garage sale di daerah Como.

Pernah juga suami membeli tas raket seharga $6 dan beberapa barang lain dengan merogoh kocek $12 totalnya. Ketika suami membersihkan tas tersebut, ternyata banyak sekali koin atau recehan didalamnya yang setelah dihitung ada $6. Lumayan, kembali modal separuhnya.

Terkadang apes juga, ketika kami ke garage sale tapi barang yang dicari tidak seperti yang diharapkan. Maka sebaiknya carilah lokasi yang tidak terlalu jauh agar tidak kecewa.

Pengalaman saya menjual barang juga cukup seru. Karena untuk membuka garage sale kami rasa barang-barangnya belum banyak, maka sering kami iklankan di Gumtree.

Terkadang yang menelpon banyak, tetapi tidak ada yang datang. Seperti pada waktu kami akan menjual kulkas kecil dan TV yang ternyata tak kunjung terjual. Akhirnya suami sarankan untuk diiklankan gratis supaya tidak menumpuk di rumah.

Kebanyakan sih sukses, seperti anak saya yang menjual Play Station 2-nya berikut game yang lumayan banyak seharga $100, menjual vacuum cleaner Electrolux (yang suami dapat dengan gratis) seharga $60; dan terakhir menjual mesin cuci seharga $75. Pengalaman yang belum tentu kami dapatkan di kampung halaman.

Belanja di Save the Children
Salah satu toko opp shop di Australia adalah jaringan milik Save the Children

Foto: Endah Yanuarti

Opp shop

Opp shop singkatan dari Opportunity shop merupakan alternatif belanja murah lainnya. Biasanya dikelola gereja atau komunitas tertentu. Salvos dan Vinnies contohnya yang dikelola gereja.

Sistemnya adalah masyarakat menyumbang baju atau barang bekas layak pakai untuk dijual murah dalam rangka membantu masyarakat menengah kebawah dan hasil penjualan juga untuk disumbangkan ke gereja.

Di toko yang relatif besar, Salvos juga menjual furniture seperti matras, lemari, sofa, dan meja-kursi. Good Sammy adalah contoh opp shop yang dikelola oleh komunitas disabilitas.

Kotak besar kuning bergambar anjing laut banyak ditemukan didalam kampus-kampus dan beberapa jalan tertentu. Good Sammy menerima baju dan barang bekas yang kemudian akan disortir oleh anggota dan dijual di gerainya.

Harga barang relatif murah kisaran 50c-$25 saja mulai dari baju, tas, buku serta pernak-pernik. Toko-toko sejenis ada juga di daerah lansia (lanjut usia) seperti di Waminda (dekat Curtin) atau organisasi Save the Children yang membuka gerai dan menjual baju anak.

Buangan

Setahun dua kali, sistem pembuangan barang-barang bekas yang dikelola tiap town/suburb (kecamatan kalau di Indonesia), merupakan ajang yang tidak kalah menarik untuk mencari barang buangan yang masih layak digunakan.

Sistem ini berjalan dikarenakan kondisi di negara maju dimana terdapat musim yang ekstrim dan barang rusak yang bila diperbaiki lebih mahal daripada membeli baru.

Disamping itu, kebiasaan banyak orang yang ketika berganti musim berganti pula gaya berpakaian dan eksterior rumah.

Model baru muncul, dibuanglah model lama. Ini menjadi surga untuk para hunter dan student yang modalnya pas pas-an untuk membeli isi rumah.

Dahulu saya hanya mendengar dari sepupu saya yang merantau ke Paris sekeluarga ketika melanjutkan studi pascasarjana. Dia bercerita bahwa mereka menunggu malam hari untuk mengambil satu set sofa untuk melengkapi isi rumah.

Ternyata saya juga mengalami, terutama ketika menghadapi kelahiran anak bungsu. Segala stroller dan carrier saya dapat dari hasil berburu buangan dengan mengendap-endap takut ketahuan si empunya barang.

Masih lengkap dan sangat layak pakai, hanya modelnya saja yang sudah agak ketinggalan jaman (untuk ukuran orang sini). Pernah juga dapat World Book, sejenis ensiklopedia dengan seri yang masih lengkap, hanya edisinya sudah lama.

Belum lagi kipas angin yang bisa juga menjadi heater yang ditemukan suami, masih baru dalam dus. Dan beberapa macam lagi yang rincian jenisnya saya sudah lupa.

Semakin lama tinggal disini, semakin selektif kami memilih barang buangan. Terakhir kami sempat mengincar dua buah koper besar yang kelihatannya masih bagus buangan tetangga bukan sebelah kami.

Malam harinya kami bergerilya menyeret koper besar tersebut. Setelah sampai di rumah, kami buka. Lumayan, ada beberapa barang termasuk supplemen yang masih baru dan belum kadaluarsa.

Hanya saja koper-kopernya ternyata rusak resletingnya dan satu tidak bisa dibuka karena dikunci dan kodenya lain. Mungkin si empunya juga bingung, maka dibuang saja didepan rumah. Akhirnya kami kembalikan lagi koper-koper itu ke tempat semula. Nasib.

Ada kepuasan tersendiri juga ketika buangan saya ‘laku’ diambil orang. Dua tahun belakangan ini saya merasa puas ketika koper rusak, sepatu entah-punya-siapa, tempat memandikan bayi, dan beberapa potong baju ludes diambil orang.

Buangan terakhir saya banyak menumpuk baju, sprei, dan selimut yang ternyata cukup banyak peminat juga sehingga tinggal baju-baju anak saya yang kekecilan yang akhirnya saya buang saja ke tempat sampah.

Siang tadi, meski bukan jadwal buangan, saya simpan stroller ‘temuan’ saya waktu itu dan hasil swapie ke halaman depan, serta satu boks baju yang saya tulisi FREE dengan tujuan membantu orang yang memerlukan.

Alhamdulillah, dua stroller langsung lenyap yang berarti ada orang yang membutuhkan. Hanya boks baju kelihatannya belum ada yang berminat. Pengalaman lain yang cukup menarik untuk dikenang dan diceritakan kembali.

* Endah Yanuarti, sedang menempuh pendidikan PhD di Curtin University bidang Education. Berasal dari Bandung, bekerja di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat - lembaga di bawah naungan Kemendikbud, sebagai widyaiswara.