ABC

Teman Flat Membantu Saya Menyesuaikan Diri di Melbourne

Pelajar internasional Sandra Frans sangat gugup ketika dia pertama kali pindah ke Australia dari Indonesia, tapi teman satu flatnya Bob membantunya merengkuh kehidupan yang barunya di kota tersebut. Sandra mengikut sertakan tulisannya ini sebagai bagian dari 'My Melbourne' – sebuah kompetisi yang diselenggarakan selama berlangsungnya Melbourne Writers Festival yang meminta mahasiswa internasional menciptakan cerita-cerita mengenai pengalaman mereka tinggal di kota paling nyaman ditinggali didunia.

Dia bernama Bob
Victoria merupakan tempat pertama di luar negeri yang pernah saya kunjungi, sebelum datang ke kota ini, saya sedikit gugup tentang bagaimana rasanya tinggal di negara asing, yang kebudayaannya benar-benar berbeda begitu juga bahasanya dengan kebudayaan dan bahasa saya. Tapi kemudian saya menyadari, kalau saya mendatangi kota yang paling nyaman untuk ditinggali di dunia, mengapa saya harus khawatir?
Saya lahir dan besar di SoE, sebuah kota kecil di Timor, Indonesia. Situasi disana dibandingkan dengan Melbourne sangat berbeda sekali.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk merasa nyaman di sini. Tinggal jauh dari rumah dan keluarga tidak pernah mudah, tetapi berada di Melbourne banyak membantu saya untuk beradaptasi. Kota ini menawarkan begitu banyak pengalaman menyenangkan. Namun, jika saya hanya harus memilih satu hal untuk berbagi, saya akan menceritakan sebuah kisah tentang Bob.

Bob adalah teman satu flat saya. Kami tinggal di sebuah flat di Carlton. Jika Melbourne dikenal sebagai kota multikultural, maka flat saya mungkin mewakili dengan baik hal tersebut. Kami berasal dari empat negara yang berbeda dari tiga benua, Eropa, Asia dan Afrika.
Hidup dalam lingkungan yang beragam telah mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang toleransi satu sama lain. Bob dari Inggris. Dia adalah seorang dosen di University of Melbourne. Sekarang dia telah pensiun.
Bagi saya, Bob secara harfiah seperti ensiklopedia berjalan. Dia tahu banyak hal. Ia suka menceritakan kisah-kisah dan saya menikmati mendengarkan dia, terutama ketika ia berbicara tentang sejarah tempat di Melbourne. Salah satu contoh yang menonjol adalah ketika dia bercerita tentang ungkapan 'Lets meet under the clock/mari kita bertemu di bawah jam' untuk merujuk titik pertemuan di Flinders Street Station yang terkenal. Dan bahkan sekarang meski telah digani dengan jam digital, namun pemerintah masih menyimpan jam ini untuk melestarikan sejarah.

Selain itu, Bob bercerita tentang banyak peristiwa yang terjadi di Melbourne. Untungnya, sebagian besar dari event tersebut gratis. Setiap akhir pekan, ada beberapa festival atau acara di sekitar kota atau di pinggiran kota yang menarik. Kita dapat mengetahui informasinya melalui website atau media sosial. Saya sempat menghadiri beberapa dari event tersebut. Seperti Melbourne’a Open Day, yang memungkinkan semua warga negara Australia memasuki bangunan pelayanan publik selama satu hari tersebut. Saya telah tinggal di Indonesia selama hampir tiga dekade, tapi saya tidak pernah pergi ke Gedung Parlemen. Di sini, saya sudah memasuki gedung Parlemen di Melbourne sejak tahun pertama saya tinggal disini. Yah, saya tahu tentang hari buka ini juga dari Bob.

Pada hari lain, ia memberikan tiket gratis untuk masuk ke kebun binatang Melbourne. Ada seminar di sana, dan ia mendapat dua undangan sehingga dia dengan baiknya memberikan salah satunya untuk saya. Saya akhirnya bisa menikmati Kebun Binatang Melbourne yang terkenal itu (dan saya bisa melihat koala untuk pertama kalinya, belum lagi menyentuh kanguru!) Serta menghadiri diskusi yang menarik tentang lingkungan. Di Indonesia kita mengatakan, 'satu kayuh dua tiga pulau terlampaui'. Anda mungkin menyadari saya sudah mengulang-ulang kata gratis. Saya menyukai hal-hal gratis. Nah, siapa yang tidak?

Berbicara tentang seminar, Bob juga memperkenalkan saya ke banyak seminar umum gratis di Melbourne, terutama yang diselenggarakan oleh atau berkolaborasi dengan University of Melbourne. Saya sangat kagum dengan budaya berbagi pengetahuan. Dan itu tidak terbatas pada kelompok orang tertentu, tetapi terbuka untuk semua.

Saya telah menghadiri begitu banyak kuliah umum, apakah topik ini dalam wilayah studi saya atau topik menarik lainnya, yang tentunya juga penting untuk mengetahuinya. Salah satu yang saya masih ingat adalah kuliah umum oleh pemenang Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran, Sir Paul Nurse, diadakan di Melbourne Convention Centre. Seminar itu merupakah salah satu saat yang sangat memotivasi saya, karena bisa mendengarkan langsung salah satu ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Aku pergi ke sana dengan Bob juga.

Dia benar. Saya melakukan pekerjaan relawan di Yayasan Asma Victoria dan saya mampu melakukan perjalanan ke beberapa tempat seperti Sunbury dan Frankston. Itu adalah pengalaman yang benar-benar hebat bagi saya. Seperti saya bisa mendapatkan kesempatan khusus untuk berbicara dengan siswa sekolah menengah tentang pencegahan dan pengobatan Asma.

Hal terakhir mengenai Bob yang mengilhami saya adalah bahwa dia telah melakukan perjalanan ke seluruh dunia. Saya tidak tahu persis jumlah negara yang telah dikunjunginya, tetapi begitu banyak. Bahkan negara yang saya belum pernahg mendengar namanya (maafkan pengetahuan geografi saya yang sangat kurang). Jadi, setiap kali saya membahas tugas dengan dia dan saya menyebutkan sebuah negara asing, apakah itu di Afrika atau di Asia, sering ia akan bercerita tentang pengalamannya ketika ia berada di sana.
Bob adalah contoh nyata dari kutipan terkenal tentang bepergian dari Saint Augustine, yang mengatakan 'dunia ibarat sebuah buku, mereka yang tidak melakukan perjalanan hanya tinggal pada satu halaman'. pengalaman perjalanan dia benar-benar banyak mengilhami saya. Dia tampaknya sangat menikmati hidupnya dengan melakukan perjalanan ke negara-negara lain, sambil mengajar dan juga belajar.


Sayangnya, sekarang saya tidak tinggal bersamanya lagi, karena saya pindah di awal tahun ini. Tapi aku masih tetap berhubungan dengan dia dan kami masih bertemu, meskipun tidak begitu sering. Tidak diragukan lagi, pengalaman saya di Melbourne tidak akan lengkap jika saya tidak kenal dia.
Aku mungkin akan berakhir seperti seorang turis yang kebetulan belajar di Melbourne. Aku mungkin akan menerima begitu saja banyak hal. Bob telah menunjukkan banyak hal yang menarik dan berharga mengenai Victoria. Dan saya berterima kasih kepada alam semesta yang telah menuntun saya untuk berteman dengan Bob.

Sandra Frans adalah mahasiswa internasional dari Indonesia yang belajar di Melbourne. Tulisannya ini berhasil memenangkan penghargaan People’s Choice dalam kompetisi My Melbourne dalam ajang Melbourne Writers Festival.

Ikuti kisah-kisah menarik lainnya dengan bergabung dengan komunitas Australia Plus di Facebook, atau follow kami di Twitter dan Instagram.