ABC

Tantangan Menjadi Pengasuh di Australia di Mata Imigran Vietnam

Menjadi pengasuh bisa begitu sulit –bahkan bisa lebih sulit ketika Anda berada di negara asing dan bahasa Inggris bukanlah bahasa pertama Anda. Phuong Than Ho, satu-satunya pengasuh bagi anaknya ‘Andy’ -yang telah didiagnosa dengan autisme dan epilepsi, telah menghadapi kondisi ini sejak datang ke Australia dari Vietnam, 16 tahun yang lalu.

Ketika Phuong Than Ho pertama kali menapakkan kaki ke Australia, ia menganggap dirinya sangat beruntung. Hidup di Vietnam begitu keras dan akhirnya ia merasa masa depannya tampak menjanjikan.

Jauh dari keluarga segera membuatnya merasa kesepian. Phuong merasa terisolasi di negara baru dan sangat merindukan delapan saudara kandungnya; yang ia rasakan sampai ia melahirkan anak pertamanya, Andy.

Phuong Than Ho
Phuong Than Ho dan putranya, Andy –saat masih kanak-kanak, sebelum ia jatuh sakit.

Supplied; Phuong Than Ho

Semua kesedihan akhirnya menghilang.

Andy adalah anak normal. Biasa. Mungkin sedikit lebih tenang daripada kebanyakan anak laki-laki di usianya, tapi tak ada masalah atau rewel. Phuong sekali lagi merasa bahwa ia akan mampu memiliki kehidupan yang selalu ia impikan.

Tak lama setelah Andy berusia sepuluh tahun, kondisi berubah buruk.

Larut malam ketika semua orang sudah pergi tidur, Andy menjadi sangat gelisah dan mulai mengeluarkan banyak suara.

"Saya menyalakan lampu dan melihat Andy mengeluarkan air liur dari kedua sisi mulut dan matanya terbuka lebar," tutur Phuong.

Ia tak lagi bernapas dan seluruh kulitnya mulai berubah keunguan. Phuong mulai panik dan tak tahu apa yang terjadi.

"Lalu saya berteriak sekencangnya, tapi tak ada yang mendengar kami," ujar Phuong Than Ho.

Phuong berpikir bahwa Tuhan ingin mengambil anaknya, tapi ia tidak menyerah.

Ia membaringkan Andy dan mulai melakukan bantuan pernafasan pada putranya itu.

"Kemudian Andy mulai bernapas lagi. Saya sangat senang," kenang Phuong.

Tapi Andy tak pernah menjadi anak yang sama lagi. Setelah malam mengerikan itu, ia didiagnosa dengan autisme dan epilepsi.

"Saya merasa seperti dunia saya runtuh,” aku Phuong Than Ho.

"Sejak Andy sakit, suasana hatinya sangat bervariasi. Ia kadang-kadang bahagia, kadang-kadang sedih," sebutnya.

Sekarang di usia 13 tahun, Andy membutuhkan perawatan dan perhatian.

Phuong adalah satu-satunya pengasuh untuk Andy dan adiknya, Tony. Sebelum Andy didiagnosa dengan penyakit itu, ia mampu bekerja paruh waktu tapi sekarang harus mengandalkan tunjangan pengasuh untuk menjaga keluarganya.

Skip YouTube Video

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

YOUTUBE: Phuong Than Si Pengasuh

Pukul 7 pagi setiap hari, alarmnya berbunyi. Ia membuat sarapan untuk anak-anaknya dan mempersiapakan anak-anaknya berangkat ke sekolah, seperti banyak orang tua lain memulai hari mereka.

Phuong bisa saja dihubungi sekolah dengan tiba-tiba. Kadang-kadang dua sampai tiga kali seminggu. Kadang-kadang sekali setiap dua-tiga minggu. Tak ada cara untuk memprediksi waktunya.

Ketika ia memandikan Andy, ia khawatir sang putra bisa saja menyalakan air panas dan membakar dirinya sendiri, jadi ia tetap waspada mengawasi si bocah.

Ketika ia mengemudi ke suatu tempat, Andy bisa saja membuka pintu dan mencoba melompat keluar.

Ketika mereka sedang jalan-jalan, Andy bisa saja buang air besar di celananya.

Andy Putra Phuong
Tanda peringatan yang ditulis tangan di pintu kamar Andy, tempat di mana ia menghabiskan sebagian besar waktu luangnya untuk bermain video game.

ABC; Lisa Clarke

Itulah kondisi hidup saat ini bagi Phuong.

Ia masih menganggap dirinya beruntung untuk tinggal di Australia.

"Jika saya ada di sana [di Vietnam], hidup akan sangat sulit, sangat sulit. Saya tak tahu bagaimana caranya bertahan hidup," ungkap Phuong.

Ketika anak-anaknya di sekolah, ia pergi ke TAFE (lembaga kejuruan) untuk belajar bahasa Inggris.

"Jika saya langsung pulang, itu sangat membosankan dan saya harus menghabiskan waktu," tambahnya..

"Jika saya belajar bahasa Inggris itu akan sangat berguna bagi saya. Saya akan bisa berbicara lebih banyak dengan anak-anak saya. Saya pikir segala sesuatu akan membaik," harap Phuong Than Ho.

Phuong adalah salah satu dari 674.300 pengasuh di Australia yang lahir di luar negeri.

Pekan Kesehatan Multikultural (MHW) 2016 berlangsung dari hari Senin 5 September hingga Minggu 11 September, dan tahun ini fokus untuk mengarahkan perhatian ke ribuan pengasuh multikultural dalam masyarakat Australia, seperti Phuong.

Phuong mencoba untuk tetap semandiri mungkin, tetapi juga bergantung pada Asosiasi Kesejahteraan Warga Australia Keturunan Vietnam di New South Wales ketika ia membutuhkan bantuan untuk menerjemahkan informasi medis tentang anaknya.

Ia sangat khawatir tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan.

"Jika saya tua atau kehilangan kekuatan, tak ada yang menjaganya," tutur Phuong Than Ho cemas.

"Saya paling khawatir tentang hal itu. Sekarang saya tak memiliki harapan apapun, kecuali bahwa saya ingin anak saya menjadi kuat seperti anak lainnya. Selain itu saya tak ingin apa-apa lagi," ucapnya.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterjemahkan: 14:53 WIB 05/09/2016 oleh Nurina Savitri.