ABC

Tahanan Imigrasi Pulau Manus Resmi Ditutup, 600 Pengungsi Tolak Pindah

Fasilitas penahanan Australia di Pulau Manus, Papua Nugini (PNG), akan ditutup secara permanen pada hari Selasa (31/10/2017) sore hari waktu setempat, dan 600 orang yang telah menolak untuk pergi telah diberitahu bahwa mereka harus pergi.

Dalam pemberitahuan terakhir kepada para penghuni pusat penahanan, yang dikirimkan hari Senin (30/10/2017), otoritas Imigrasi PNG mengatakan bahwa fasilitas tersebut akan ditutup pada pukul 5:00 sore hari Selasa (31/10/2017).

Pemberitahuan tersebut mengatakan bahwa fasilitas tersebut akan dikembalikan ke Angkatan Pertahanan PNG dan siapapun yang memilih untuk tetap tinggal bisa dikenakan pemindahan dari pangkalan militer yang aktif.

Listrik dan air akan terputus pada pukul 5 sore hari Selasa (31/10/2017), layanan makanan akan berhenti dan semua petugas imigrasi PNG akan pergi.

Penutupan tersebut diumumkan setelah pengadilan PNG memutuskan bahwa fasilitas penahanan tersebut tidak konstitusional.

Skip Twitter Tweet

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

Many refugees have already left the Manus Island detention centre, but about 600 remain.
Banyak pengungsi telah meninggalkan pusat penahanan Pulau Manus, tapi 600 orang bersikeras tinggal.

ABC News: Liam Fox

Pada Selasa (31/10/2017) pagi, beberapa bus berisi petugas dan pekerja Australia terlihat menuju ke bandara pulau itu dengan sebuah konvoi polisi.

Seorang pejabat senior imigrasi PNG telah mengonfirmasi bahwa semua warga Australia yang bekerja untuk Angkatan Perbatasan Australia (ABF) dan sejumlah kontraktor dari perusahaan Broadspectrum dan Wilson Security telah meninggalkan pusat penahanan itu.

Para pengungsi di dalam pusat penahanan didesak untuk pindah ke akomodasi alternatif yang telah disediakan di tiga lokasi di kota utama Lorengau.

Skip Twitter Tweet

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

Skip Twitter Tweet

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

Salah satu pengungsi di dalam tahanan tersebut, yakni Behrouz Boochani, mengunggah di Twitter bahwa pemberitahuan tersebut menyebabkan ketakutan, namun mengatakan ia dan sejumlah penghuni lainnya bertekad untuk tinggal, dengan alasan kekhawatiran akan masa depan mereka.

Periset dari organisasi Amnesty International wilayah Pasifik, Kate Shuetze, mengatakan bahwa para pengungsi tersebut khawatir akan bagaimana mereka membeli barang-barang seperti makanan dan obat-obatan.

"Intinya tidak ada rencana nyata di sini bagi mereka untuk bisa membangun kembali kehidupan mereka, jadi itu sangat mengkhawatirkan," ujarnya.

"Kami belum mendengar apapun dari pemerintah Papua Nugini, apakah orang-orang ini diizinkan untuk bekerja di masyarakat dan apakah mereka bisa bergerak bebas di seluruh wilayah negara itu.”

"Sebenarnya, kami mendengar hal yang berlawanan dan semua indikasi seputar fasilitas baru ini dan keamanan di sekitar pusat-pusat penahanan ini menunjukkan bahwa mereka memindahkan para pengungsi dari satu penjara ke penjara lain tanpa alasan logis di baliknya."

Kon Karapanagiotidis, pendiri dan kepala eksekutif dari Pusat Sumber Daya Pencari Suaka, telah mengklaim bahwa penutupan tersebut akan membuat ratusan pengungsi berada dalam "bahaya serius".

Skip Twitter Tweet

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.