ABC

Survei Terbaru Ungkap Hanya Sepertiga Orang Australia Percaya Jokowi

Survei terbaru Lowy Institute mengungkap tingkat kepercayaan orang Australia terhadap pemimpin-pemimpin dunia mengalami penurunan. Kini hanya sekitar 34 persen yang percaya dengan kepemimpinan Presiden Indonesia Joko Widodo.

Pandangan Tentang Indonesia:

  • Hanya 34 persen orang Australia yang kini percaya pada kepemimpinan Jokowi
  • Mayotritas orang Australia tidak menganggap Indonesia sebagai negara demokrasi
  • Kepercayaan terhadap pemimpin-pemimpin dunia secara umum mengalami penurunan

Lowy Institute Poll dilaksanakan setiap tahun sejak 15 tahun terakhir oleh lembaga think tank ternama ini. Topiknya mencakup isu-isu global yang menjadi perhatian warga Australia.

Dalam rilisnya, Direktur Eksekutif Lowy Institute Dr Michael Fullilove menjelaskan, survei ini bertujuan mengungkap pandangan orang Australia terkait isu-isu global.

"2019 merupakan tahun pemilu di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, India, dan Australia. Tiga negara demokrasi ini memilih kembali petahana, memilih stabilitas dalam situasi sulit," kata Dr Fullilove.

Dalam topik terkait pandangan orang Australia terhadap para pemimpin dunia, survei mendapati bahwa tingkat kepercayaan terhadap Presiden Jokowi hanya mencapai 34 persen.

Bahkan, untuk Presiden AS Donald Trump hanya seperempat atau 25 persen orang Australia yang mempercayainya.

Tingkat kepercayaan pada Presiden China Xi Jinping juga mengalami penurunan menjadi hanya 30 persen dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 43 persen.

"Lebih sedikit orang Australia (25 persen) yang percaya kepada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi," kata survei ini.

"Hanya satu dari lima orang Australia (21 persen) yang mempercayai Presiden Rusia Vladimir Putin dan 7 persen yang percaya pemimpin Korea Utara Kim Jong-un," tambahnya.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menduduki peringkat teratas di mata orang Australia, yaitu 88 persen.

Scomo-Joko.jpg
PM Scott Morrison saat berkunjung ke Indonesia menemui Presiden Jokowi.

Istimewa

Hasil survei menyatakan, selama 15 tahun pandangan orang Australia tentang Indonesia tidak berubah, tetap menunjukkan kurangnya pengetahuan mereka mengenai negara tetangga terbesarnya ini.

"Survei Lowy Institute secara konsisten menunjukkan bahwa kebanyakan orang Australia tidak menganggap Indonesia sebagai negara demokrasi, padahal survei ini dilaksanakan bersamaan dengan masa kampanye Pilpres Indonesia," katanya.

Mayoritas (61 persen, naik 9 poin dibandingkan tahun 2018) menyatakan Australia mengelola hubungan dengan Indonesia secara baik.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan orang Australia setuju bahwa Indonesia itu penting secara ekonomi bagi Australia (62 persen)," tambahnya.

Namun, survei mengatakan, hanya sekitar sepertiga (37 persen) yang menanggap Pemerintah Indonesia telah berusaha keras mengatasi terorisme.

Lowy Institute Poll 2019 – Indonesia_ change over time.jpg

Untuk topik siapa negara sahabat terbaik Australia, para responden menyebutkan Selandia Baru (59 persen), disusul Amerika Serikat (20 persen) dan Inggris (15 persen). Hanya sekitar 4 persen yang menyebut China serta 2 persen Jepang dan hanya 1 persen orang Australia yang melihat Indonesia negara sahabat terbaik.

Survei menyebut 47 persen orang Australia kini menganggap jumlah pendatang ke negara itu setiap tahunnya "terlalu tinggi".

"Sebanyak 71 persen responden menyatakan kota-kota Australia saat ini sudah terlalu padat," katanya.

Penduduk Australia juga terbelah hampir seimbang mengenai "apakah imigran merupakan beban pada sistem kesejahteraan sosial", yaitu antara 48 persen yang setuju dan 50 persen tidak setuju. Sisanya tidak menjawab.

Dalam topik ancaman bagi negara ini 10 tahun mendatang, 64 persen orang Australia menyebut perubahan iklim sebagai ancaman terbesar.

Ancaman terbesar lainnya yaitu serangan siber dari negara lain (62 persen0, terorisme (61 persen) dan program nuklir Korea Utara (60 persen).

"Mayoritas orang Australia (55 persen) menyebutkan bahwa jika China membangun pangkalan militer di negara Pasifik, hal itu akan jadi ancaman serius," kata survei ini.

Lowy Institute Poll ini memiliki 2.130 responden secara nasional dengan rentang waktu antara 12 dan 25 Maret 2019.

Survei dilaksanakan oleh Social Research Centre (SRC), menggunakan panel Life in Australia, satu-satunya panel online berbasis probabilitas. Anggota panel ini direkrut secara acak melalui sambungan telepon rumah atau ponsel.

SRC menerapkan pendekatan gabungan antara survei online (89 persen responden) dan interview telepon (11 persen responden). Tingkat margin of error adalah 2,1 persen.

Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.