ABC

STREET|LIFE: Seniman Yogyakarta – Melbourne Maknai Barang-barang di Sekitar Kita

Mungkin banyak benda-benda di sekeliling kita yang memiliki fungsi penting, tetapi keberadaannya kadang tidak terlalu dianggap. Empat seniman dari Australia dan Indonesia mencoba untuk memaknai benda-benda tersebut. Apa jadinya kalau benda-benda tersebut kemudian 'bernyawa' dan 'hidup'?

Seniman asal Yogyakarta, Bimo Suryojati dan Altiyanto Henryawan bersama duo seniman dari Cake Industri di Melbourne, Jesse Stevens dan Dean Petersen berkolaborasi dalam proyek seni yang diberi nama Street | Life.
 
Lewat proyek seni mereka, para seniman mencoba untuk mengangkat obyek-obyek yang mereka temukan sehari-hari, baik di Melbourne dan Yogyakarta.
 
Menurut mereka, obyek-obyek yang ditemukan di kedua kota cukup berbeda. Tetapi banyak pula persamaan yang ditemukan baik di Melbourne dan Yogyakarta, terutama soal persepsi kehidupan warga di dua kota.
 
Sejumlah obyek sehari-hari yang ditampilkan dalam Street | Life. Foto: Cake Industries.
 
"Meski kehidupan jalanan di dua kota berbeda, tapi kami temukan ada persamaan dalam hal sikap, perilaku, dan perasaan dari para warganya yakni peduli akan seni dan kebahagian," ujar Jess Steven kepada Erwin Renaldi dari ABC International, saat ditemui di Taman Komunitas Ceres, Melbourne hari Kamis (5/3/2015)
 
Kebahagiaan ini dirasakan para seniman saat beberapa instalasi seni dalam Street | Life yang ditampilkan kepada publik di Yogyakarta.
 
Street | Life sendiri mencoba mengemas benda-benda yang kerap digunakan warga setiap harinya. Benda-benda seolah-olah 'hidup' karena memiliki fungsi yang cukup penting, meski di saat yang bersamaan keberadaannya dilupakan. 
 
"Street | Life adalah memaknai sesuatu yang kita temukan dalam kehidupan... kemudian kita ubah dan beri makna benda itu menjadi sesuatu yang hidup," kata Bimo Suryojati.
 
"Di Yogyakarta masih kuat animisme, bahwa semua benda itu memiliki kehidupan dan saksi dari sejarah-sejarah, dan kita tidak terlalu perhatikan benda-benda itu, sampai mereka hidup," tambahnya.
 
Sebut saja kotak kayu, atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah 'crate'. Di pasar-pasar di Yogyakarta, kotak-kotak kayu ini seringkali digunakan untuk menyimpan dan membawa barang-barang, termasuk makanan. Tapi tak jarang pula kotak kayu ini dijadikan tempat duduk atau sebagai bagian dari interior rumah. Para seniman kemudian mencoba menambahkan roda dan periskop yang terbuat dari pipa, sehingga kotak kayu bisa bergerak dan seolah-olah bisa 'memata-matai'.
 
 
Saat kotak kayu yang kemudian diberi nama Hermit Crate ini ditampilkan di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, tentu saja tidak ada yang terlalu peduli keberadaannya karena ditumpuk begitu saja dengan kotak kayu yang lain. Tapi setelah dua jam dan mulai bergerak sambil memunculkan teropongnya, warga mulai memperhatikannya dan tersenyum.
 

Obyek-obyek lain yang mereka coba angkat adalah gerobak, tempat bensin, dan rumah-rumah warga yang dijadikan tempat akomodasi bagi para turis yang belakangan ini semakin marak bermunculan.

Botol-botol tempat penyimpanan bensin yang banyak ditemukan di Yogya. Foto: Cake Industries.

 

Para seniman di Indonesia pun melakukan hal yang sama dengan beberapa benda-benda dan hal yang mereka anggap memiliki peranan penting di kota Melbourne. Misalnya saja, sepeda, tong sampah, dan beberapa barang-barang bekas yang biasanya digeletakan begitu saja oleh warga di jalanan depan rumah mereka.

"Saya melihat perbedaan, di Melbourne itu lebih ke kebiasaan. Kalau disini [Melbourne] tidak terlalu banyak benda-benda, karena cukup seragam. Keseragaman ini yang membuat berbeda," ujar Bimo.

"Di kota se-metropolis ini, ternyata kebiasaan sepeda ini masih sangat kuat, dan bukan tren, tetapi sebagai pilihan transportasi yang digunakan."

Hasil karya Stree | Life ini akan dipamerkan di Space@Collins, di kawsan Collins St, Melbourne, dari tanggal 6 hingga 19 Maret mendatang.

Seniman Street | Life bersama dengan anak-anak di Yogyakarta. Foto: ABC Licensed.

Proyek yang juga didukung oleh Multicultural Arts Victoria ini dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah dengan mengerjakan proyek seni dan menampilkan instalasinya di Yogyakarta yang sudah dilakukan dari bulan November 2014 hingga Januari 2015. Tahap kedua adalah mempresentasikan proyek seni mereka di Melbourne, dan tahap terakhir akan dilakukan pada bulan Juni mendatang di Yogyakarta.

Proyek ini diharapkan dalam memperat hubungan seni antara kedua negara, selain untuk memperluas perkembangan seni itu sendiri.

"Dengan seni kita terbuka, kita berbicara dari dalam [hati] dengan jujur, ... jadi seni ada untuk memperat, bukan juga dijadikan atau memerankan alat politik dan diplomasi," tutur Bimo.