ABC

Sophea Chea, Berdayakan Imigran Lewat Rangkaian Bunga

"Australia adalah negara multikultural," kata Sophea Chea, pendiri ‘Angkor Flowers dan Crafts’, kelas merangkai bunga pemula untuk pengungsi dan imigran perempuan di Cabramatta, Sydney barat, Australia.

Menurut Sophea, berada di antara keragaman masyarakat adalah bagian dari indahnya hidup di Australia.

Lima belas perempuan dari berbagai negara -Peru, Iran, Irak, Chad, Kamboja, Laos, dan lain-lain -duduk di deretan meja di studio Angkor yang kecil, melempar senyum sambil mengenakan celemek seragam. Rangkaian bunga yang cerah menghiasi permukaan meja di depan mereka.

Mereka menyapa saya dan saling mengobrol sendiri sementara menunggu kelas dimulai.

"Mereka menghadapi masalah yang sangat mirip," ungkap Sophea.

"Mereka memiliki warna kulit yang berbeda tetapi rintangannya serupa," tutur Sophea.

Angkor Flowers adalah perusahaan sosial -bisnis yang mengejar keuntungan yang menginvestasikan kembali pendapatan mereka untuk misi sosial -yang didirikan Sophea pada tahun 2014 untuk mengatasi beberapa tantangan yang dihadapi banyak perempuan imigran setelah datang ke Australia.

Di saat para imigran diserang oleh politisi secara rutin, di saat pemegang visa kerja 457 disebut Pemimpin Oposisi Australia -Bill Shorten -sebagai orang asing yang "mengambil pekerjaan" orang lokal, dan ketika, menurut hasil jajak pendapat terbaru, para imigran menghadapi diskriminasi yang meluas, Angkor Flowers adalah sebuah program yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa perempuan imigran begitu berkembang di Australia.

Menggunakan simbol lintas budaya dari keindahan dan pembangkit semangat alami -yakni bunga -progran ini bertujuan untuk memberi perempuan kepercayaan diri dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk berkontribusi dan bergabung dalam komunitas lokal mereka.

Kelas Angkor Flowers
Sekelompok perempuan berpartisipasi dalam kelas budidaya bunga di studio ‘Angkor Flowers’, Cabramatta, Sydney barat.

Supplied: Angkor Flowers

Kendala bahasa

Sophea sendiri adalah imigran yang berasal dari Kamboja. Ia telah melihat beberapa hambatan penyesuaian pada orang lain sebagai bagian dari pekerjaannya di sektor sosial. Masalah utamanya, kata Sophea, adalah kemampuan Bahasa Inggris dan kurangnya kesiapan kerja dari para perempuan itu.

"Di negara kami, banyak perempuan [yang] dipaksa untuk menjadi ibu dan pengurus rumah tangga dan bukannya mengejar karir profesional," aku Sophea.

Ia menuturkan, "Jadi ketika mereka datang ke sini, mereka memiliki kesempatan yang terbatas untuk bekerja."

Ketika Sophea pertama kali datang ke Australia, ia mengatakan, butuh waktu lama untuk terbiasa dengan kehidupan di sana. "Meskipun saya berpendidikan (ia memiliki gelar MBA dari Universitas Sydney Barat), saya tak mengerti apa yang dikatakan orang," ujarnya.

Ketika Angkor Flowers dimulai, studio bunga ini hanya mempekerjakan imigran dari Asia Tenggara. Tapi kini, program ini telah terbuka lebih luas; ini adalah kelas pertama di mana perempuan imigran dari semua latar belakang nasional dipersilakan bergabung.

Bunga
Sophea mengatakan, ia merasakan diskriminasi yang tak kentara ketika pertama kali tiba di Australia.

Pexels: Kristina Paukshtite

Keragaman di ruang kelas merupakan bukti keberhasilan Angkor Flowers.

Usaha ini terus tumbuh sebagai hasil dukungan keuangan dari Dewan Kota Fairfield, dan ‘School for Social Entrepreneurs’ (Angkor Flowers menerima hibah 10.000 dolar dari Yayasan Macquarie Group akhir tahun lalu), serta bisnis pengiriman bunga online milik Sophea.

Tapi tahun ini juga menandai komitmen baru untuk Sophea.

"Kami ingin menjangkau sebanyak mungkin komunitas," ungkap Sophea.

Kekhawatiran Australia terhadap integrasi imigran

Warga Australia terbiasa berpikir tentang bagaimana imigran menyesuaikan diri dengan masyarakat lokal.

Kecaman yang dilontarkan Menteri Imigrasi Australia, Peter Dutton, baru-baru ini, terhadap kebijakan Australia untuk menerima imigran Lebanon pada tahun 1970 adalah contoh ekstrim dari kekhawatiran terhadap integrasi ini.

"Jika kita merasa ada masalah dengan kelompok tertentu, kebangsaan tertentu, orang tertentu yang mungkin tak berintegrasi dengan baik dan tak berkontribusi dengan baik, maka ada banyak penerima (izin tinggal) lainnya yang layak," ujar Menteri Peter bulan lalu.

Komentar Peter Dutton ini meremehkan kontribusi warga Australia keturunan Lebanon. Dan lebih jauh lagi, asumsi sang Menteri yang menyebut bahwa ada budaya monolitik Australia yang harus dipatuhi kelompok-kelompok imigran jelas tidak benar.

Angkor Flowers
“Di negara kami, banyak perempuan dipaksa untuk menjadi ibu dan pengurus rumah bukannya mengejar karir profesional,” kata pendiri Angkor Flowers, Sophea Chea.

Supplied: Angkor Flowers

Data sensus terbaru menunjukkan, seperempat dari warga Australia dilahirkan di luar negeri dan lebih dari 43% warga Australia memiliki setidaknya satu orang tua yang lahir di luar negeri. Ketika Anda berintegrasi ke dalam kehidupan Australia, Anda berintegrasi dengan imigran.

Namun demikian, Australia melakukan pekerjaan campuran dalam merangkul multikulturalisme. Menurut laporan tahunan Scanlon yang terbaru tentang kohesi sosial, 91% dari warga Australia merasa rumah mereka ada di Australia dan 83% percaya multikulturalisme membuat bangsa mereka lebih kuat.

Namun satu dari lima warga non-Anglo Australia yang dilahirkan di luar negeri dilaporkan mengalami diskriminasi selama tahun 2016.

Sophea mengatakan, ia sempat merasakan diskriminasi halus ketika ia pertama kali tiba di Australia.

Orang yang ia temui selama studi dan dalam kehidupan profesionalnya memperlakukan dia secara berbeda, yang ia percaya disebabkan bahasa Inggris-nya yang tak sempurna.

"Banyak imigran dan pengungsi lain merasakan tegangnya diskriminasi dalam beberapa cara," tuturnya.

tulips
Studi menunjukkan, menerima bunga bisa memiliki dampak positif terhadap suasana hati perempuan.

Unsplash.com

Diskriminasi jadi masalah siapa saja

Sebuah laporan penelitian dari Institut Penelitian Ekonomi dan Ekonometri -yang dipublikasikan awal tahun ini -menemukan, biaya investasi dalam program integrasi pengungsi seperti Angkor Flowers lebih dari cukup dalam jangka panjang mengingat para pengungsi terjun ke dan memperluas pasar tenaga kerja.

Tentu saja, sebagian besar perempuan yang telah berpartisipasi dalam program Angkor Flowers selama dua tahun terakhir telah meneruskan ke program lanjutan, di mana mereka bisa belajar keterampilan yang lebih canggih dan mendapatkan pengalaman percobaan sebagai bagian dari bisnis online Angkor Flowers.

Sebagai bagian dari program yang terus berlanjut, Christine Huynh -yang berasal dari Vietnam dan mulai bergabung di Angkor Flowers tahun lalu setelah melihat Sophea dan perekrut lainnya di sekolah setempat -telah memelajari dasar-dasar manajemen bisnis dan berencana untuk memulai usaha kerajinan bunga-nya sendiri.

"Saya tak tahu seberapa baiknya saya (dalam urusan merangkai Bunga)," canda Christine.

"Tidak, saya terlalu rendah hati. Saya benar-benar ingin melakukan sesuatu di bidang ini. Bagi saya, ini membuka kesempatan bagi lebih banyak pekerjaan sekarang yang membuat anak saya terlihat sebagai orang dewasa," tuturnya.

Ketika Christine mulai ikut di kelas Angkor Flowers, ia juga berduka karena kehilangan ayahnya.

"Kursus ini memberi saya apa yang saya butuhkan. Rasa memiliki dan tiga jam bebas khawatir per minggu telah membantu saya menangani kesedihan saya," sambungnya.

Dampak emosional bunga

Menariknya, Sophea sendiri tak memiliki latar belakang di bidang merangkai bunga.

"Mengapa bunga?,” tanya saya.

“Ini tentang dampak emosionalnya," kata Sophea mantap.

"Bagi banyak perempuan, bunga memainkan peran penting dalam kehidupan kita. Apa yang saya inginkan untuk mereka adalah perasaan bahagia dan sukacita. Saya ingin menggunakan bunga sebagai alat," sebut Sophea.

Ternyata, ia mungkin tertarik pada sesuatu: penelitian menunjukkan, bunga adalah "pendorong emosi positif" pada laki-laki dan perempuan.

Dalam satu studi, yang diterbitkan dalam jurnal Psikologi Evolusioner pada tahun 2005, perempuan yang menerima bunga dilaporkan memiliki suasana hati yang lebih positif tiga hari kemudian.

Dan seperti yang ditunjukkan Stephen L Buchmann, seorang profesor entomologi dan biologi evolusi di Universitas Arizona, dalam bukunya, ‘The Reason For Flowers’ (alasan untuk bunga), bunga memiliki daya tarik yang hampir universal, dan telah dilakukan selama ribuan tahun.

"Keindahan bunga telah memperdaya kami, bersama dengan burung-burung dan lebah. Setiap budaya yang saya teliti memiliki kecintaan terhadap bunga," jelas Stephen tahun lalu.

Tak setiap perempuan di kelas hari ini akan menjadi perangkai bunga atau pemilik bisnis, dan itu tidak apa-apa. Angkor Flowers bertujuan untuk membangun berbagai keterampilan -khususnya keterampilan berbahasa Inggris -yang berguna di berbagai industri.

Di sisi lain, para perempuan juga memiliki akses ke perawatan anak dan kesempatan untuk menjalin persahabatan dengan orang lain yang menghadapi tantangan sama seperti mereka.

"Anda tak terintimidasi. Anda bersama dengan perempuan imigran dan Anda merasa seperti salah satu dari mereka. Kami membawa makanan dari budaya kami untuk dibagikan," ujar Christine.

Setiap orang mendapat sesuatu dari lingkungan ini, tambah Sophea.

"Itu membuat mereka merasa seperti mereka bisa melakukan sesuatu. Kepercayaan diri itu adalah titik awal yang benar-benar penting," sebutnya.

"Mereka melihat itu, karena mereka bisa memulai proyek ini, mereka bisa memulai proyek-proyek lainnya," imbuhnya.

Diterbitkan Pukul 11:00 AEST 15 Desember 2016 oleh Nurina Savitri. Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.