ABC

SMA di Melbourne Luncurkan Mata Pelajaran Ketidaksetaraan Gender

Frustasi dengan berbagai kondisi timpangnya perlakuan terhadap perempuan yang dialaminya di sekolah sehari-hari, sekelompok pelajar di Melbourne menyusun mata pelakaran khusus mengenai ketidaksetaraan gender. Materi pengajaran ini mendapat akreditasi dalam sistem kurikulum Australia. 

Anggota Fitzroy Feminist Collective (dari kiri) Kallista, Edie, guru Briony O'Keeffe dengan anak laki-lakinya Vivian, Stella, Nia dan Zsuzsa.
Anggota Fitzroy Feminist Collective (dari kiri) Kallista, Edie, guru Briony O'Keeffe dengan anak laki-lakinya Vivian, Stella, Nia dan Zsuzsa.


Bidang studi mengenai ketidaksetaraan gender yang pertama kali terakreditasi dalam sistem kurikulum nasional Australia ini diluncurkan di SMA Fitzroy Melbourne.

Mata pelajaran yang diberi nama “Fightback: Addressing Everyday Sexism in Australian Schools (Bangkit kembali: Mengatasi Seksisme sehari-hari di Sekolah Australia), ini disusun oleh sekelompok pelajar yang frustrasi oleh efek dari diskriminasi gender di sekolah mereka.
 
Bagi Zsuzsa (16) misalnya masalah ketidaksetaraan gender yang dihadapinya adalah kurangnya pengakuan publik terhadap perempuan di bidang olahraga. Sementara bagi Nia (17), perasaan terbelenggu oleh stereotype tugas perempuan memasak dan membersihkan rumah yang mengganggunya.
 
Lalu guru mereka Briony O'Keeffe menyarankan agar mereka menyalurkan energi mereka untuk menyusun materi pelajaran mengenai isu tersebut, anak-anak perempuan ini langsung menyambutnya dengan antusias.
 
O'Keeffe  kemudian membantu mengembangkan produk akhir dari materi mata pelajaran ketidaksetaraan gender ini dan mengusahakan persetujuan dari Departemen Pendidikan agar materi tersebut didistribusikan ke seluruh sekolah di Australia.
 
"Ini bukan bidang studi yang mengajarkan anak-anak menjadi feminis atau ideologi politik, tapi ini mengenai pengajaran bagi anak-anak mengenai ketidaksetaraan gender dan hal tersebut memang benar terjadi,”kata Nia.
 
Pelajar Lola mengatakan mata pelajaran ini digabungkan dengan bahasan mengenai bentuk-bentuk diskriminasi sosial dan sistemik dan membantu murid memahami keterkaitan antara persoalam ketidaksetaraan gender dalam bentuk yang sepele hingga yang memiliki konsekwensi hidup atau mati.
 
"Hal-hal sepele seperti kemasan produk saus yang menggunakan botol berbentuk tubuh wanita untuk menjual produk mereka, objektifikasi semacam ini terkait dengan kekerasan terhadap perempuan,” kata Lola.
 
O'Keeffe mengatakan bidang studi ini sempat memicu kritik dan cibiran. Ada kalangan yang menuding mereka mempromosikan kebencian terhadap pria atau misandri atau mendistorsi bentuk diskriminasi lainnya.
 
Namun O’Keeffe mengatakan sebaliknya materi pelajaran ini akan membahas bagaimana anak laki-laki dan laki-laki juga mengalami beberapa efek seksisme melalui stereotip dan pelestarian norma gender.
 
Pelajaran terakhir dalam kursus bertujuan untuk menempatkan diskriminasi gender dalam perspektif dan mengakui bentuk-bentuk diskriminasi baik laki-laki dan pengalaman perempuan.