ABC

Situs Biro Meteorologi Australia Diretas Pihak Asing

Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa sebuah kekuatan asing telah memasang piranti lunak berbentuk virus ke dalam sistem komputer Biro Meteorologi Australia untuk mencuri dokumen penting dan juga membahayakan keamanan jaringan lain milik pemerintah.

Laporan berjudul Acaman Pusat Keamanan Siber Australia 2016 (The 2016 Australian Cyber Security Centre Threat) yang dikeluarkan hari Rabu (12/10/2016) memberikan rincian baru mengenai serangan terhadap BOM tahun lalu yang juga berhasil meretas sistem yang sistem di jaringan pemerintah Federal Australia.

Tidak diketahui motif di balik serangan tersebut, namun para pakar mengataakn kemungkinan adalah motif bisnis atau stretegis atau keduanya.

BOM dianggap sebagai sumber daya nasional yang penting, dan negara lain mungkin beranggapan BOM memiliki nilai tinggi akan penelitian dan data yang dimiliki.

Menurut laporan yang dibuat oleh Australian Cyber Security Centre (ACSC), Direktorat Signal Australia (ASD) tahun lalu melacak adanya kegiatan mencurigakan dari dua komputer yang dimiliki BOM.

"Dalam penelitian, ASD mengidentifikasi kehadiran virus (malware) yang dikendalikan dari jauh (Remote Access Tool), yang biasa bertalian dengan virus yang disponsori oleh sebuah negara, bersama dengan malware yang lain." kata laporan tersebut.

"RAT ini telah digunakan untuk memasuki jaringan milik pemerintah Australia."

"Dalam kasus ini, ACSC menemukan bahwa ini dilakukan oleh dinas intelejen asing, namun jaringan keamanan yang ada tidak cukup untuk melindungi jaringan dari serangan virus yang biasa berhubungan dengan kejahatan siber."

"Virus CryptoLocker yang ditemukan dalam jaringan merupakan ancaman paling serius terhadap data yang dimiliki biro dan kemampuannya melanjutkan operasi."

"ASD berhasil menemukan data yang dicari oleh virus tersebut dan mereka berhasil menggandakan sejumlah dokumen milik BOM."

"Informasi ini besar kemungkinan sudah dicuri." kata laporan tersebut.

Tindakan pencurian data terus terjadi

Laporan yang didapat ABC sebelumnya mengatakan bahwa pihak asing itu adalah China namun Menteri Muda Urusan Keamanan Siber di Kantor PM Australia Dan Tehan, menolak menjawab siapa sebenarnya negara asing tersebut.

"Kami tidak mau menyebut negara tertentu dan itu sengaja kami lakukan. Yang ingin kami sampaikan adalah bahwa pencurian data lewat internet terus terjadi, dan itulah mengapa kami ingin seterbuka mungkin soal insiden ini." kata Tehan.

Bulan Desember lalu, ABC mendapat laporan bahwa usaha untuk memperbaiki sistem keamanan itu akan menghabiskan jutaan dolar.

ACSC mengatakan antara tanggal 1 Januari 2015 sampai 30 Juni 2016, ASD menangani 1095 insiden keamanan siber dalam sistem pemerintah yang memerlukan 'perhatian serius'.

"Keamanan siber adalah sesuatu dimana kita sebagai sebuah negara harus dianggap serius, sebagai pemerintah, sebagai bisnis atau sebagai individu." kata Tehan.

"Dan yang ingin kami lakukan adalah melanjutkan untuk tetap transparan mengenai apa yang terjadi dan apa isi laporan yang dibuat."

Diterjemahkan pukul 13:50 AEST 12/10/2016 oleh Sastra Wijaya.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini