ABC

Siswa Adelaide Wakili Australia di Kompetisi Robot Dunia

Kelompok siswa dari Adelaide, Australia, akan berkompetisi dengan siswa-siswa dari negara lain dalam menciptakan robot. Pengalaman yang akan banyak memberikan pelajaran bagi para siswa, termasuk jika proyek ternyata tidak berhasil.

Kelompok yang terdiri dari siswa-siswi sekolah menengah atas adalah sukarelawan sebuah grup pencinta robot, RoboRoos.

RoboRoos ini bermarkas di negara bagian Australia Selatan. Mereka sedang bersiap untuk berkompetisi dalam kejuaraan 'For Inspiration and Recognition of Science and Technology's Robotics' atau FRC.

Tahun ini, tantangan bagi mereka adalah merancang robot yang bisa mengambil dan menendang bola berukuran 60 cm. Bisa dikatakan sebagai robot sepak bola.

RoboRoos dari Australia memiliki waktu enam minggu untuk merancang, membuat, merakit, menguji coba, hingga melakukan tes, sesuai dengan spesifikasi yang diwajibkan oleh panitia kompetisi.

"Kita menonton video yang disediakan, kemudian merancang strategi dan memutuskan apa yang kita inginkan," kata Mila Anezovic selaku kapten RoboRoos.

Menurut mentor RoboRoos, Rob Zibell, ide yang dimiliki oleh anak-anak ini luar biasa cemerlang.

"Untuk dapat merancang dan merakitnya dalam waktu enam minggu adalah sesuatu yang hebat," aku Zibell.

Rasa kepemilikan dengan proyek ini dibangun karena mereka adalah anak-anak sekolah yang menjadi sukarelawan, di luar kurikulum sekolah.

RoboRoos juga menjadi ajang bagi para remaja yang mungkin tidak berpartisipasi dalam olahraga, tetapi tetap ini bergabung dalam aktivitas yang berbasis kelompok.

"Menyediakan sesuatu yang berbeda bagi siswa-siswa untuk melakukan hal-ha yang belum tentu mereka lakukan, tentunya adalah sebuah kepuasan," kata Ketua Kelompok Siswa Robotik, Peter Ryan-Kane. "Tiap-tiap siswa membawa keahliannya masing-masing, jadi bukan cuma membuat robot."

Menurutnya juga, salah satu bagian dari program yang sangat penting bagi peserta adalah pengalaman jika seandainya proyek ini tidak berhasil.

"Sebagian besar siswa, khususnya di Australia, belum tentu belajar [untuk gagal]."

Dengan merasakan kegagalan, para siswa-siswa bisa lebih
memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah, selain juga meningkatkan kemampuan robot mereka.