ABC

Sineas Australia Produksi Film Horor di Timor Leste

Sineas Australia, Thomas Henning, telah membagi keterampilan produksi film yang dimilikinya kepada Timor Leste, memberi penduduk setempat kesempatan untuk mengasah keterampilan yang ia harap akan mengarah mengembangkan industri film di negara ini, suatu hari nanti.

Thomas telah memproduksi dua film di Timor Leste, keduanya ditulis oleh seorang aktor lokal, dan dilakukan dalam bahasa lokal Tetum, menggunakan penduduk setempat sebagai pemain dan kru.

Film ‘One, Hamrok Ba Ran’ (Haus Akan Darah) berkisah tentang vampir yang mencoba untuk bertahan hidup. Film kedua, ‘Ema Nudar Umanu’ (Saya Kemanusiaan) –yang saat ini dalam proses pasca-produksi -adalah drama supranatural.

Adegan Ema Nudar Umanu
Salah satu adegan dari film ‘Ema Nudar Umanu’, film kedua Thomas Henning yang berlokasi di Timor Leste.

Supplied; Giovanni Lorusso

Thomas mengatakan, menciptakan film ber-genre adalah cara untuk memberikan suara kepada masyarakat setempat, demi kepentingan mereka sendiri.

"Buatlah film-film yang benar-benar tak nyata, aneh, menarik, sampah, bodoh, komikal, dramatis, sehingga masyarakat bisa memiliki akses ke perilaku bercerita ini, sopan santun ini... yang muncul secara alami," jelasnya.

"Cara film ini diceritakan kemudian bisa meminjamkan sarana untuk memahami siapakah orang-orang ini sebagai manusia," sambungnya.

Agusto Quintão adalah aktor utama di kedua film Thomas.

Sudah menjadi impiannya untuk bermain film sejak ia menonton film Sylvester Stallone di masa kecilnya, tetapi tetap menjadi tugas yang sulit di negaranya yang masih muda ini.

"Ada banyak tantangan di Timor Leste, karena tak ada tempat untuk mengelola hal-hal ini -misalnya properti, acting, semua itu sulit," ungkap Agusto Quintão.

Ia menerangkan, "Apa yang kami lakukan sekarang, tak ada sekolah yang telah mengajarkan kami, kami hanya menggunakan bakat alam kami."

Sementara peran-perannya di dua film itu telah memberinya kesempatan untuk mengasah kemampuannya, hal itu masih menjadi proyek mimpi untuk urusan mencari nafkah.

"Untuk menjadi seorang aktor di Timor-Leste pada saat ini, ya..., semuanya sukarela. Dalam soal mendapatkan uang dari kreativitas saya -itu tak terjadi sama sekali," aku Agusto.

Menciptakan tradisi film di Timor Leste

Tujuan Thomas adalah agar para pemain dan kru-nya memiliki sarana dan keterampilan untuk terus membuat film bergenre tanpa kehadirannya.

"Semakin banyak orang memiliki akses ke kamera, semakin sering mereka menghabiskan waktu untuk program editing, dengan peralatan audio dan mengembangkan pekerjaan semacam ini -orang menggalang kekuatan demi kekuatan," sebut Thomas Henning.

Ia berujar, "Ini gila, tingkat keterampilan yang orang capai dari melakukan satu proyek dan menontonnya kembali benar-benar ekstrim dan sangat cepat.”

"Saya pikir.. akan hebat jika masyarakat setempat memproduksi sesuatu sementara saya tak di sini. Saya pikir itu akan benar-benar bagus," imbuhnya.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterjemahkan: 16: 17 WIB 08/08/2016 oleh Nurina Savitri.