ABC

Seorang Pria Meninggal Sendirian, Orang yang Tak Dikenal Hadiri Pemakamannya

Belasan orang, di antaranya orang asing dan orang terakhir yang dilihatnya, menghadiri prosesi pemakaman kecil dan sederhana dari seorang pria berusia 82 tahun di Australia Utara.

Beberapa dari mereka menganggap peristiwa tersebut cukup aneh sekaligus mengharukan, karena harus mengucap selamat tinggal pada seseorang yang tidak pernah mereka kenal.

Ini semua bermula dari suatu siang di bulan November tahun lalu, ketika seorang pria lanjut usia mengunjungi toko barang bekas bernama 'St Vincent de Paul' di Darwin dan meminta relawan di sana untuk memanggilkan ambulan.

Karena pernah mengikuti Pelatihan Pertolongan Pertama, para relawan pun mengerti bahwa pria tersebut sedang sakit parah.

Akhirnya mereka melakukan apapun yang bisa dilakukan sebelum menemani pria tersebut berteduh di bawah pohon terdekat.

Namun, dalam waktu beberapa menit, pria tersebut meninggal dunia.

"Peristiwa ini membuat sukarelawan kami dan saya sendiri berpikir bahwa pria tersebut datang ke Vinnies karena tahu bahwa kami pasti akan menolongnya," ujar manajer St Vincent de Paul Australia Utara, Fay Gurr.

Kejadian tersebut membuat para relawan tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang orang asing ini.

Menurut catatan medis dan percakapan dengan karyawan rumah sakit, Fay akhirnya menemukan nama pria tersebut, yaitu Arpad Kiss.

"Ia mungkin bukan tunawisma ketika datang ke kami, namun sempat tidak punya rumah. Dan ia memang sudah punya masalah kesehatan."

The St Vincent de Paul op shop on Westralia Street in Stuart Park.
Arpad yang berusia 82 tahun mengunjungi toko ini sebelum meninggal dunia beberapa saat kemudian.

ABC News: Dane Hirst

Menurut para karyawan, pihak berwajib tidak menemukan siapa keluarganya dan teman-temannya, sehingga mengatakan bahwa Arpad meninggal seorang diri.

"Itu yang kami ketahui tentangnya, tidak banyak, tapi cukup," kata Fay dari St Vincent de Paul.

"Tidak ada pilihan untuk tidak melakukan [pemakaman] ini."

Fay kemudian mengisi formulir berisi keterangan bahwa St Vincent de Paul ingin menyelenggarakan acara pemakaman dan kremasi untuk Arpad.Aksi ini mengundang air mata dari para petugas kesehatan.

Sebuah undangan bertuliskan tanggal pemakaman pada 31 Desember 2020, hari di mana Arpad seharusnya berulangtahun ke-83, disebar melalui email.

'Meninggal dengan sangat terhormat'

Para pekerja sukarela, perwakilan daerah, dan uskup yang sudah pensiun termasuk dalam kerumunan orang yang berkumpul untuk mengucap selamat tinggal pada Arpad di gereja St Mary's Cathedral Kamis lalu.

"Saya tidak tahu apa harapannya karena saya mengunjungi makam seseorang yang tidak pernah berhubungan dengan saya," ujar Fay.

"Namun mereka yang datang dapat merasakan koneksinya, bahwa kami melakukan yang terbaik untuk pria ini, dan itu adalah inti dari kepercayaan kami."

The St Mary's Cathedral in Darwin's CBD on a sunny day in the tropical summer.
Belasan orang menghadiri prosesi pemakaman yang diadakan di gereja St Mary's Cathedral.

ABC News: Dane Hirst

Uskup Katolik Charles Gauci di Darwin mengundang para hadirin untuk sekilas berinteraksi dengan Arpad, dengan menundukkan kepala dan berdoa.

Uskup Charles mengajak para hadirin untuk membayangkan pemakaman mereka suatu hari dan memikirkan apa yang mereka harapkan akan dikatakan tentang mereka, dan bagaimana ini berpengaruh terhadap kehidupan saat ini.

"Kami memilih untuk melakukan apa yang baik, penuh kasih, dan berbudi luhur," katanya.

"Momen ini menjadi refleksi yang baik untuk kita semua, namun juga adalah sebuah bentuk ekspresi cinta dan kepedulian pada sesama saudara."

Diproduksi oleh Natasya Salim dari artikel dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

Ikuti berita seputar pandemi Australia dan lainnya di ABC Indonesia.