ABC

Sempat Capai Harga Rp15 Juta per Ekor, Harga Sapi Australia Turun 50 Persen

Setelah bertahan pada rekor tinggi selama bertahun-tahun, saat ini harga ternak sapi Australia anjlok dan diperkirakan akan menghadapi masa-masa sulit ke depan.

Harga sapi eskpor di wilayah utara – meliputi Northern Territory dan Australia Barat – telah jatuh hingga 50 persen, sedangkan di wilayah Australia Barat bagian selatan harganya anjlok sekitar 30 persen.

Akibatnya, para peternak lebih cenderung mempertahankan stok ternaknya dengan harapan pada saatnya nanti pasar akan kembali membaik.

Tapi menurut John Klepec, direktur perusahaan ekspor ternak Wellard, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini.

"

"Semua indikasi menunjukkan [trend] harga menukik turun," ujar John Klepec kepada ABC News.

"

"Jika ada yang menawarkan harga di atas A$2 per kilogram, saya pasti terima setiap kontrak pemasokan yang dapat saya amankan," katanya.

Rugi di pasar luar negeri?

Kondisi ini merupakan pil pahit yang harus ditelan oleh peternak di daerah Kimberley, yang 12 bulan lalu mengunci kontrak dengan harga A$5/kg, atau sekitar A$1.500 (Rp15 juta) per ekor.

Tapi menurut Klepec, hukum penawaran dan permintaan telah berayun dengan cepat dari satu sisi ke sisi yang lain.

"Selama dua tahun terakhir, di saat produsen menghasilkan A$1.000 per ekor, kami (eksportir) mengalami kerugian dalam bisnis, begitu pula para pengolah (daging ternak)," katanya.

Kekhawatiran terbesar Klepec adalah rekor harga sapi Australia yang tinggi sebelumnya secara tak sengaja telah memperketat jumlah sapi yang dapat diserap oleh tempat penggemukan di Asia Tenggara.

"Separuh volume ekspor menguap karena tempat penggemukan sapi kehilangan uang dari bulan ke bulan," jelasnya.

"Banyak dari mereka telah menyerah, terjual habis, dan kapasitasnya ditutup," kata Klepec.

Ia menyebut hal itu tercermin dari jumlah ternak yang dikirim melalui Australia Barat. 

Di Pelabuhan Broome, misalnya, ekspor sapi turun 35 persen dari tahun lalu dan 50 persen dari 2021.

Menurut direktur Cambridge Gulf Limited, Tony Chafer, wilayah Port of Wyndham mengalami kisah yang sama.

"Jumlah eskpor ternak turun, kira-kira setengah dibandingkan tahun lalu," kata Chafer.

Waktu yang buruk setelah banjir

Turunnya permintaan untuk ekspor ternak di wilayah utara telah berdampak ke peternak di Kimberley pada saat yang tidak menguntungkan karena wilayah tersebut baru saja pulih dari bencana banjir besar awal tahun ini.

"Tidak banyak hal menggembirakan di pasar ternak saat ini," kata Russell Cooke, yang mengelola ternak dan mengoperasikan Suplemen Stok Red Range di Kununurra.

Banyak peternak terputus dari pasar utama ketika jembatan Fitzroy Crossing yang menghubungkan Kimberley timur ke barat runtuh pada bulan Januari.

"Kami membeli ternak sapi dengan sistem kontrak untuk dikirim ke Kimberley Meat Company, yang berada di seberang sungai tempat sapi kami berada," kata Cooke.

"Jadi penjualan itu tidak berjalan dengan baik. Kami masih memiliki sapi-sapi di peternakan sekarang," jelasnya.

"

"Mereka dibeli dengan sistem kontrak di harga Oktober tahun lalu dan sekarang harga itu turun sepertiganya," ujar Cooke.

"

Daging sapi jadi sasaran penghematan

Produsen Manypeaks, Richard Metcalfe, mengatakan dia memasok daging sapi ke supermarket dan kalangan eksportir dari peternakannya di wilayah Great Southern.

Metcalfe mengaku sebelumnya telah bersiap menghadapi kemungkinan penurunan harga tapi kondisinya yang anjlok dan tiba-tiba masih mengejutkan baginya.

"Kami selalu mengantisipasi harga akan kembali turun dari level tertinggi tahun lalu," kata Metcalfe.

"Tapi yang terjadi saat ini lebih cepat dan lebih besar dari yang kami perkirakan. Semua harga kami turun antara 20 dan 30 persen," ujarnya.

Setelah berbicara dengan para pembeli domestik, Metcalfe memahami bahwa pasar yang melambat disebabkan oleh membanjirnya pasokan daging sapi.

"

"Wilayah di bagian timur Australia tidak membeli dari Australia Barat saat ini karena pasar mereka cukup lemah," kata Metcalfe.

"

Ditambah dengan perlambatan ekonomi, katanya, konsumen telah mengencangkan ikat pinggang dan daging sapi adalah salah satu sasaran penghematan yang dilakukan konsumen.

"Saya kira hukum permintaan dan penawaran ikut berperan [atas anjloknya harga sapi]," katanya.


Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News yang selengkapnya dapat dibaca di sini.