ABC

Sebanyak 897 WNI Dievakuasi dari Sudan, Dipulangkan secara Bertahap Melalui Jeddah

Sebanyak 897 Warga Negara Indonesia telah dievakuasi dari ibu kota Sudan, Khartoum. Mereka akan dipulangkan secara bertahap ke Indonesia dari Jeddah, Saudi Arabia. 

Menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, lebih dari 800 warga Indonesia tersebut terbagi ke dalam dua kelompok evakuasi.

"Tahap yang pertama sejumlah 569 orang … tahap kedua sebanyak 328 orang, termasuk enam orang warga negara Australia dan satu warga negara Sudan," kata Retno.

WNI yang dievakuasi ini menurut Retno terdiri dari mahasiswa, pekerja migran Indonesia dan keluarganya, serta tenaga profesional. 

Selain itu, Menlu mengatakan ada 25 WNI yang menyatakan tidak ikut dievakuasi karena alasan keluarga.

Menlu Retno menambahkan satu dari tujuh bus yang mengevakuasi warga negara Indonesia dari Sudan mengalami kecelakaan tunggal dalam perjalanan dari Khartoum ke Port Sudan.

Ia menjelaskan tunggal kecelakaan di dekat Kota Atbara tersebut disebabkan oleh kondisi jalan yang rusak berat dan pengemudi mengalami kelelahan hingga terperosok ke luar jalur.

Tiga WNI yang luka-luka sudah dirawat di rumah sakit di Port Sudan.

Seluruh WNI yang dievakuasi dari Sudan akan diterbangkan ke Indonesia secara bertahap melalui Jeddah.

Ketegangan di Sudan berawal sejak 2021, saat dua jenderal, Abdel Fattah al-Burhan dan wakilnya, Mohamed Hamdan Daglo, saling berebut kekuasaan dalam sebuah kudeta.

Fattah al-Burhan adalah panglima militer Sudan, sementara Daglo komandan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter.

Keduanya saling tuding sebagai pihak yang memulai pertempuran, dan sama-sama mengklaim memegang kendali atas sejumlah objek vital, termasuk bandara dan istana kepresidenan, meski laporan ini tidak bisa terverifikasi.

Utusan khusus PBB untuk Sudan, Volker Perthes, mengatakan pertempuran antara militer Sudan dengan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) sudah melukai setidaknya 1.800 orang.

Paling sedikit 450 orang telah dilaporkan tewas dalam perang saudara tersebut. 

Bentrokan di ibu kota Khartoum juga menyebabkan pasokan listrik dan air terganggu.

Seperti beberapa negara lainnya, Amerika Serikat telah menghentikan sementara kegiatan diplomatik di Khartoum namun mengatakan tetap akan melayani warga Sudan dan menyerukan adanya gencatan senjata.

Paus Fransiskus menyerukan diakhirinya kekerasan dalam doa misa hari Minggu (23/04) di Vatikan.