ABC

‘Saya Kulit Putih dan Bangga Jadi Muslim’: Keterangan Saksi Korban Teror Selandia Baru

Persidangan terdakwa teroris Brenton Harrison Tarrant memasuki hari ketiga, Rabu (26/08), untuk mendengarkan keterangan saksi korban. Terdakwa juga didengarkan keterangannya dalam sidang yang digelar di Kota Christchurch, Selandia Baru.

Pria berusia 29 tahun asal Australia ini telah mengaku bersalah atas 51 dakwaan pembunuhan, 40 dakwaan percobaan pembunuhan, serta 1 dakwaan terorisme.

Sebanyak 56 saksi korban telah memberikan keterangan dalam persidangan. Hari ini, puluhan saksi korban lainnya juga akan memberikan keterangan, sebelum Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaannya.

Brenton kemudian akan berbicara mewakili dirinya sendiri, setelah sebelumnya dia memecat para pengacaranya. Namun pengadilan tetap menyiapkan pengcara jika sewaktu-waktu terdakwa memerlukannya.

mucaad.jpg
Mucaad Ibrahim (3 tahun), korban paling belia dalam serangan teror yang dilakukan Brenton Tarrant di Selandia Baru pada 15 Maret 2019. Tarrant diduga menembak balita ini dua kali.

Istimewa: RNZ

Salah satu korban yang memberikan keterangan dalam persidangan hari ini yaitu Aden Diriye.

Ia selamat namun anaknya, Mucaad Ibrahim, yang berusia 3 tahun tewas dalam serangan itu.

Mucaad dalam hidupnya yang pendek dikenal periang dan senang memainkan peran sebagai seorang polisi.

Keluarganya pun sudah menganggap Mucaad kelak akan menjadi polisi.

Namun keinginan itu sirna karena direnggut oleh terdakwa Brenton Tarrant yang diduga menembak balita tak berdaya ini dua kali.

Mucaad saat kejadian itu memegangi kaki ayahnya yang terbaring bersama jamaah lainnya, sebagian sudah tewas sebagian luka parah di salah satu sudut ruang salat masjid Al Noor.

Keluarga Aden berasal dari Somalia dan pindah ke Selandia Baru di tahun 1995. Mucaad lahir di sini.

"Kau bunuh anakku, tapi bagiku kau telah membunuh seluruh orang Selandia Baru," ucap Aden.

Salah satu korban selamat, Mustafa Boztas, memberikan keterangan hari ini dengan menyebut Brenton lebih hina dari binatang.

"Ada satu kesamaan dari semua manusia, yaitu mereka mampu mengatasi dan melupakan masa lalu," katanya.

"Kami semua bisa melakukannya tapi kau jelas tak bisa karena dua alasan," ucap Mustafa.

"Alasan pertama karena kau tak punya masa depan, jadi kau akan hidup sendiri dengan masa lalumu," katanya.

"Alasan kedua karena kau bukan manusia, bahkan lebih rendah dari binatang, karena binatang pun sebenarnya bermanfaat bagi dunia," tambahnya.

'Hello brother'

Keluarga dari Haji Mohammed Daoud Nabi yang tewas di awal serangan teror ikut memberi keterangan. Ia menjadi tajuk utama sejumlah pemberitaan setelah sempat menyambut Brenton dengan menyapanya, "hello brother", sebelum ditembak mati.

Anaknya, Ahad Nabi, menyebut Brenton sebagai orang lemah yang menembaki orang tak berdaya.

"Saya tak memaafkanmu. Di penjara kau akan menyadari bahwa kau sudah berada di neraka," kata Ahad.

Brenton tampak menganggukkan kepala saat mendengar keterangan Ahad ini.

"Bapakmu seorang tukang sampah dan kau telah menjadi sampah masyarakat," kata Ahad.

"Dia malu dengan dirimu. Kau sepantasnya dikubur di tempat pembuangan sampah," ujarnya.

"Ayahku yang berumur 71 tahun akan mengalahkanmu jika kau tantang dia berkelahi. Tapi kau seorang yang lemah," ujarnya.

Datang untuk 'membantai kami'

john milne.jpg
John Milne, ayah dari korban bernama Sayyad Milne (14 tahun) menyatakan telah memaafkan Brenton Tarrant.

Stuff: pool

Sementara John Milne, ayah dari korban tewas bernama Sayyad Milne, dalam persidangan menyatakan telah memaafkan pelaku.

"Bahkan seorang pembunuh pun punya kesempatan untuk dimaafkan," ujarnya.

"Tak satu pun peluru mengenai tubuhku. Saya bahkan tak berada di sana. Tapi hatiku telah menganga dan hanya bisa ditutupi jika saya bertemu Sayyad kembali di surga," ujarnya.

"Saya harap kau pun akan ketemu dia di sana, Brenton. Jika sempat, saya ingin kau minta maaf padanya. Saya yakin dia pun akan memaafkanmu," tutur John.

Brenton Tarrant in handcuffs being seated in a courtroom by cops
Terdakwa teroris asal Australia Brenton Tarrant mengaku bersalah atas 51 dakwaan pembunuhan, 40 dakwaan percobaan pembunuhan, dan 1 dakwaan terorisme.

Christchurch High Court: John Kirk Anderson

Keluarga korban lainnya, Kyron Gosse, merupakan kemenakan dari Linda Amstrong, 64 tahun juga menyebut Brenton sebagai "orang hina".

Kyron menuding Brenton datang ke Selandia Baru untuk "membantai kami".

"Dia masuk ke negara kami dengan niat jahat dan kebencian di hatinya, membalas kebaikan kami dengan membunuh keluarga kami dan para pendatang yang kami terima dengan tangan terbuka demi kehidupan yang lebih baik," ujarnya.

Linda merupakan perempuan kelahiran Auckland yang memutuskan masuk Islam pada tahun 2011.

Kyron dalam keterangan di persidangan menyebut Brenton sebagai "pengecut yang bersembunyi di balik senjata mesin dan menembak Linda yang lemah dari jarak jauh".

"Linda sama sekali tak punya kesempatan (menyelamatkan diri)," kata Kyron lagi.

A woman in a red hijab smiles for the camera
Lahir di Auckland, Linda Armstrong masuk Islam pada tahun 2011. Dia tewas dalam serangan teror di masjid Linwood.

Supplied

Anak satu-satunya dari Linda, Angela, tak kuasa menahan tangis ketika memberikan keterangan.

Kepada Brenton yang duduk di kursi pesakitan, Angela mengatakan, "kau telah merenggut ibuku dariku".

"Meski saya merasa kasihan pada ibumu, namun saya tak punya belas kasih untukmu. Tak ada," katanya.

"Saya tantang engkau Tarrant untuk menghabiskan sisa hidupmu merenungi indahnya perbedaan dan kebebasan yang kau ingin hancurkan," ujar Angela.

Korban selamat bernama Nathan Smith, 46 tahun merupakan pria asal Inggris yang masuk Islam dan hadir menjalankan ibadah salat Jumat pada saat kejadian.

A man in a shirt gestures while speaking in a court room
Nathan Smith yang berasal dari Inggris dan beragama Islam sempat menggendong tubuh balita berusia 3 tahun yang tewas dalam serangan teror di masjid Al Noor.

Christchurch High Court: John Kirk Anderson

"Saya sempat menggendong anak usia tiga tahun dan berharap dia bisa hidup. Dia tidak selamat. Kau renggut nyawanya. Dia baru tiga tahun," ujarnya.

Nathan mengaku keimanannya pada Islam justru semakin kukuh sejak serangan itu. Namun ia juga mengaku kesulitan tidur.

Bangga pada suami pemberani

A man in a suit sits next to a woman in a traditional peach-coloured Pakistani sari and jewellery
Ambreen bersama suaminya Naeem Rashid yang tewas dalam serangan teror di Christchurch.

Supplied: Ambreen Naeem

Ambreen Naeem, yang suaminya Naeem Rashid dan anak mereka Talha Naeem, 21 tahun, tewas dalam serangan turut memberikan keterangan yang dibacakan oleh petugas pengadilan.

Ambreen, 45 tahun yang kini hidup menjanda menyebut penderitaannya ini akan dijalaninya seumur hidup.

"Sejak suami dan anakku meninggal dunia, saya tak pernah lagi bisa tidur nyenyak," ujarnya.

Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum Barnaby Hawes dalam persidangan menyebutkan Naeem Rashid sebagai pemberani yang maju menyergap pelaku, sehingga banyak jamaah lain yang bisa selamat.

Atas aksi heroiknya Naeem telah dianugerahi bintang tanda jasa tertinggi di Pakistan.

"Naeem orang paling berani di dunia ini," ujar Ambreen.

Hakim Cameron Mander yang memimpin persidangan ini akan menjatuhkan vonis pada hari Kamis besok, 27Agustus 2020.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari berbagai sumber.