ABC

Resepkan Obat Keras Seenaknya, Dokter di Perth Diskorsing

Anish Dwarka Singh, seorang dokter di Perth, Australia Barat, telah dilarang berpraktek selama 10 tahun. Pasalnya, dia terbukti meresepkan obat keras secara sangat mengkhawatirkan dan tidak sepantasnya kepada ratusan pasien.

Singh terbukti melakukan kesalahan profesional karena meresepkan obat untuk menurunkan berat badan dan kebugaran selama periode 14 tahun.

Selain steroid, dia juga meresepkan hormon pertumbuhan dan stimulan kepada pasien, seperti efedrin.

Dia juga memerintahkan perawatan pasien yang tidak perlu termasuk memberikan infus zat besi dan plasma beku.

Pengadilan Administratif Negara Bagian (SAT) menemukan dalam beberapa kasus, ada efek samping yang sangat merugikan dari obat-obatan dan perawatan tersebut. Dalam satu kasus, seorang pria yang diberi steroid selama dua tahun oleh Singh harus menjalani pembedahan untuk mengangkat jaringan payudara yang membesar.

Dalam kasus lain, Singh meresepkan steroid setelah mendiagnosa pasien dengan "dismorfia tubuh dengan gangguan makan yang tumpang tindih", namun pengadilan tersebut menemukan hal ini hanyalah "cara menutupi" dalam meresepkan obat kebugaran.

Tak menunjukkan penyesalan

Dalam penilaian yang dipublikasikan di websitenya, SAT menemukan Singh bertindak "sembarangan, tidak kompeten dan tidak pantas" karena obat-obatan tersebut diresepkan "tanpa alasan terapeutik" dan "mengekspos pasien pada risiko efek samping".

Penilaian tersebut menemukan "besarnya" jumlah resep keliru serta perawatan lainnya yang sangat mengkhawatirkan.

"Ada sekitar 740 pasien. Tindakan tak pantas dari Dr Singh dimulai pada awal 2001 dan berlanjut sampai akhir 2015 - sebuah periode yang sangat panjang," katanya.

Singh juga diketahui menyimpan catatan yang tidak layak, yang digambarkan SAT sebagai kegagalan mendasar dalam kewajibannya kepada pasien dan rekan profesionalnya.

Singh saat ini tidak lagi terdaftar sebagai dokter. SAT memutuskan bahwa dia harus didiskualifikasi untuk mendaftar sebagai praktisi medis selama 10 tahun ke depan.

"Dokter Singh gagal menunjukkan penyesalan atau hikmah apapun. Pengadilan tidak memiliki kepercayaan bahwa dia tak akan melakukan kesalahan kembali jika diberi kesempatan," katanya.

Singh juga didenda $ 5.000 karena menulis surat bernada kasar kepada dokter lain yang menyatakan kekhawatirannya setelah merawat salah satu mantan pasien kebugaran Singh. Pasien mengalami kejang-kejang, diduga terkait dengan pengaruh obat.

Skorsing kedua

Awal pekan ini, SAT juga menskorsing dokter lain, Alastair Nuttall, selama 12 bulan, setelah bertindak "tercela" dan "sangat angkuh" dalam perawatan terhadap pasien muda penderita kanker, yang meninggal setelah orang tuanya membawanya ke luar negeri untuk terapi alami.

Nuttall memberikan konsultasi 45 menit dengan Tamar Stitt yang berusia 10 tahun pada bulan September 2009. Sang dokter memberi tahu orang tua Tamar bahwa tumor ganas di livernya, yang didiagnosis bulan sebelumnya, telah menyusut.

Ia juga memberikan surat izin layak untuk terbang kepada pasien tersebut.

Tamar Stitt died after her parents rejected advice she recieve chemotherapy treatment in Perth.jpg
Dokter Alastair Nuttall diskorsing dalam kasus diagnosa yang dia berikan terhadap pasien kanker Tamar Stitt.

Supplied: Channel 7

Malam itu juga setelah berkonsultasi dengan Nuttall, Tamar dan ibunya terbang ke El Salvador untuk mendapat peratawan dengan tanah liat dan makanan buah dan sayuran. Tamar meninggal dua bulan kemudian.

Konsultasi Dr Nuttall dengan Tamar Stitts terjadi di tengah gugatan dokter rumah sakit Princess Margaret Hospital (PMH) yang ingin memaksa orangtua Tamar untuk mengizinkan putrinya menjalani kemoterapi.

Para dokter menyatakan kemoterapi akan memberi Tamar kemungkinan 30 sampai 50 persen untuk bertahan hidup. Dalam pemeriksaan pada tahun 2014 ditemukan bahwa kematiannya mungkin bisa dihindari jika dia menjalani perawatan tersebut.

SAT mengatakan situasinya sudah paling serius mengingat kehidupan anak itu yang dipertaruhkan. Nutall disebut telah mengabaikan pendidikan akademisnya demi mendahulukan terapi alternatif padahal tidak ada bukti hal itu akan berhasil.

Namun, SAT menyatakan Nutall tidak kekurangan kualitas karakter yang diperlukan sebagai praktisi medis. Tindakannya digambarkan sebagai "terisolasi" dan "tidak biasa" dalam situasi yang tak mungkin dia hadapi kembali.

Diterbitkan Jumat 23 Juni 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.