ABC

Remaja Queensland Bersikukuh Raih Gelar Pendaki Everest Termuda

Alyssa Azar, remaja perempuan asal Queensland, sangat berambisi untuk menjadi pendaki termuda Australia yang mampu menaklukan puncak Everest. Ia bersikukuh untuk melanjutkan pendakian, walau Jumat kemarin longsor es telah merenggut nyawa 13 pemandu asal Nepal.

Karena kejadian longsor tersebut, beberapa pendaki telah menanggalkan misi mereka, sementara beberapa lainnya masih menunggu cuaca yang kondusif dan berusaha melanjutkan pendakian setelah berdiskusi dengan pemandu lokal etnis Sherpa. Pencarian korban longsor es dengan menggunakan helikopter masih berlanjut, untuk mencari 4 pemandu lokal yang masih hilang.

Di antara para pendaki yang memutuskan untuk menunggu di pos perkemahan dan tetap berusaha mencapai puncak, adalah Alyssa dari kota Toowoomba, selatan Queensland.

Gadis berusia 17 tahun ini telah mendaki beberapa puncak tertinggi dunia seperti gunung Kilimanjaro, dan akan menjadi perempuan termuda yang berhasil mencapai puncak Everest jika pendakiannya berhasil.

Dalam statusnya di Facebook, ia turut mengucapkan bela sungkawa dan doa sedalam-dalamnya bagi komunitas etnis Sherpa.

“Mereka menakjubkan, berdedikasi dan sangat istimewa. Mereka sungguh membantu kami, dan karenanya kami sangat bersyukur. Ini adalah saat yang menyedihkan bagi seluruh pendaki dan komunitas Sherpa,” ujarnya.

Meski demikian, ayah Alyssa, Glenn Azar, menuturkan bahwa putrinya masih bersikeras untuk menuntaskan pendakian sampai puncak.

“Ini sulit dan apa yang ia lakukan sesungguhnya berbahaya. Dia memang sudah menjalani latihan fisik, dan dia adalah anak yang sangat...sangat kuat. Tapi dia sudah mengirim pesan kepada kami kalau dia sangat berkomitmen menyelesaikan misinya walaupun belum jelas apa keputusan tim yang ada di sana,” jelas Glenn mengenai keputusan putrinya.

Alyssa telah mempersiapkan diri untuk mengikuti ekspedisi ini selama beberapa tahun, sembari menyiapkan masa depan sebagai petualang yang akan ia jalani.

Ia menyusuri jalur Kokoda di Papua Nugini ketika ia masih berusia 8 tahun dan menaklukkan Kilimanjaro di Tanzania dalam usia 14 tahun.

“Keadaan ini lebih susah buat kami karena kami orang tua-nya, tapi kami selalu mendukungnya dan tak akan mengubahnya,” tegas ayah Alyssa.

Longsor menimpa pemandu lokal saat menuju Pos 1

Longsor es menghantam lereng pendakian berbahaya yang disebut ‘Khumbu Icefall’. Jalur ini penuh dengan ceruk es dan tumpukan batu atau es besar yang dapat runtuh sewaktu-waktu.

Walaupun ketinggiannya tidak curam, namun para pendaki mengaku bahwa titik tesebut adalah salah satu yang paling berbahaya di Everest.

Meski demikian, sebenarnya tak ada jalur aman di sepanjang rute ‘South Col’, yang pertama kali dilewati oleh Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada tahun 1953.

Para pemandu lokal etnis Sherpa yang terjebak dalam longsoran, saat itu tengah membawa peralatan dari pos perkemahan ke pos 1, dimana pos yang terakhir disebut adalah salah satu dari empat titik pendakian menuju puncak, yang ada di sisi selatan Everest.

Perusahaan pendakian asal Nepal “The Himalayan Guides” menlaporkan, enam pendaki lokal mereka telah hilang tertimpa es saat berusaha mendahului pendaki yang mereka bawa untuk membetulkan tali dan memecah es.

“Kini kami terkonsentrasi pada misi penyelamatan. Jika ini semua sudah usai, kami akan mengadakan rapat dan memutuskan apa yang harus dilakukan pada pendakian selanjutnya,” terang Raj Paudel, salah seorang staf perusahaan.

Pemerintah Nepal akan menyantuni keluarga korban

Longsor yang terjadi Jumat lalu adalah longsor es terbesar yang terjadi pada musim pendakian Everest tahun ini. Empat ribu pendaki diperkirakan turut meramaikan musim pendakian Everest tahun ini.

Sekitar 250 pendaki telah gugur dalam misi penaklukan Everest, yang terletak di perbatasan antara Nepal dan wilayah China, Tibet.

Para pemimpin ekspedisi pendakian menyebutkan, sempat ada kemarahan di antara beberapa pemandu setelah pemerintah mengumumkan pembayaran ganti rugi sebesar 400 dolar kepada keluarga korban untuk menanggung biaya pemakaman. Pihak asuransi biasanya memberikan biaya santunan hingga sebesar 5000 dolar.

“Saya harap Kementerian Pariwisata akan menyantuni keluarga korban. Saya tahu penyelenggara ekspedisi akan memberi bantuan. Tapi dalam insiden sebesar ini, seharusnya reaksi serupa yang diberikan perusahaan, dilakukan oleh pemerintah Nepal,” tulis Alan Arnette, seorang pendaki, dalam laman pribadinya yang diunggah dari pos perkemahan Everest.

Sejumlah turis sebenarnya telah mengkhawatirkan keamanan dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Everest, tapi Nepal tetap bersikukuh memberi potongan kepada mereka yang ingin mendaki tahun depan.

Pemerintah Nepal telah menerbitkan izin pendakian kepada 334 pendaki asing musim ini, meningkat dari jumlah total tahun lalu yang berjumlah 328.

Angka tersebut belum termasuk jumlah pemandu lokal yang membantu pendaki asing, yang diperkirakan jumlahnya sama besar.