ABC

Rekan Mereka Ditahan, Pencari Suaka di Pulau Manus Lanjut Mogok Makan

Para pencari suaka di rumah detensi Pulau Manus berjanji untuk melanjutkan aksi mogok makan mereka, meski ada lebih dari 40 orang rekan mereka yang dipenjarakan sementara.

Pengacara yang telah melakukan kontak dengan para pencari suaka, dari berbagai pondokan, mengatakan, ratusan orang terus melakukan mogok makan, dengan banyak dari mereka yang juga menolak minum air.

Blokade kompleks ‘Delta’ yang berlangsung 3 hari berakhir pada hari Senin (19/1) ketika penjaga keamanan sipil, yang bekerja di rumah detensi, merangsek masuk melalui pintu gerbang dan kepala petugas imigrasi Papua Nugini (PNG) bernegosiasi untuk mengakhiri aksi unjuk rasa tersebut.

Seorang pencari suaka dibawa di atas tandu setelah aksi mogok makan di Pulau Manus.

Pemerintah PNG mengatakan, walau beberapa pencari suaka ditahan oleh para penjaga, tak ada luka serius yang menimpa mereka.

"Apa yang terjadi di kompleks Delta benar-benar menakutkan kami tetapi kami tak akan berhenti mogok makan, ini akan terus berlanjut," ujar seorang pencari suaka dari kompleks ‘Foxtrot’.

Polisi PNG mengatakan, ada lebih dari 40 pencari suaka yang ditahan di penjara provinsi, dan empat lainnya ditahan di sel polisi.

Namun para pencari suaka mengatakan, rekan-rekan mereka yang ditahan jumlahnya lebih banyak dari yang disebutkan petugas.

"Saat ini, kami ada 58 orang di dalam penjara PNG, dan polisi PNG mereka memukul [kami] ... mereka menyiksa kami di sini dan mereka menempatkan kami di sini tanpa surat perintah hakim," kata seorang pria yang berada di antara mereka yang ditahan .

Baik klaim para pencari suaka atau klaim pejabat pemerintah tak bisa diverifikasi secara independen, karena akses media dilarang di rumah detensi yang dikelola Australia itu.

Para pencari suaka yang dipenjarakan belum dikenakan tuduhan tetapi telah diisolasi sementara polisi PNG melakukan pemeriksaan terhadap pondokan mereka, mencari senjata, ponsel dan barang selundupan lainnya.

Ada laporan berbeda mengenai tingkat kekerasan untuk atasi aksi protes

Ada laporan yang bertentangan mengenai tingkat kekerasan yang dilakukan oleh para penjaga untuk memecah blokade di kompleks ‘Delta’ pada Senin (19/1) sore.

Menteri Imigrasi PNG, Rimbink Pato, mengatakan, aksi pengamanan di kompleks Delta dilakukan di bawah kendali dengan menggunakan ‘kekuatan minimal’.

“Kami tidak ingin semakin menegangkan situasi yang ada dengan memaksa masuk ke kompleks ini, tetapi kami tahu bahwa ada orang-orang di dalam yang harus keluar," kata Menteri Rimbink dalam sebuah pernyataan.

Ia menambahkan, "Perilaku yang melanggar hukum termasuk merusak aset kompleks, melempar batu serta perabot ke luar pagar dan arus keluar masuk kompleks yang dijaga oleh pihak berwenang harus dikendalikan.”

Menteri Rimbink mengutarakan, tindakan sebagian besar para pencari suaka yang paling vokal tidak mencerminkan pandangan dari semua orang yang ditahan di Pulau Manus.

"Kebanyakan pencari suaka adalah orang-orang tenang, yang hanya ingin klaim pengungsi mereka diproses secepat mungkin, sehingga mereka dapat mulai membangun kehidupan kembali di PNG," katanya.

"Mereka melarikan diri dari situasi konflik dan tidak ingin menjadi bagian dari perilaku agresif yang ditunjukkan para perusuh," sambungnya.

Meski demikian, para pencari suaka dan pengacara mereka terus menolak gagasan intervensi damai di kompleks Delta.

Seorang pencari suaka dari kompleks ‘Foxtrot’ mengatakan, ia menyaksikan polisi memasuki gerbang belakang kompleks ‘Delta’, sementara penjaga keamanan difokuskan pada pintu masuk lainnya.

"Ketika para pencari suaka benar-benar sibuk dengan penjaga, polisi mulai menyerang mereka dari belakang, mereka mulai memukuli teman-teman saya," katanya.

Ia menambahkan, "Mereka sebenarnya memukul mereka dengan sangat serius, kami telah melihat banyak orang berdarah. Saya melihat 15 orang yang dibawa di atas tandu."

Pemerintah PNG mengkonfirmasi bahwa polisi memang hadir di rumah detensi tapi mengatakan mereka tidak diperlukan dan bertahan di situ.