ABC

Ratusan Pendaki yang Terjebak di Gunung Kinabalu, Keluhkan Kinerja SAR Malaysia

Pendaki asal Australia yang terjebak di Gunung Kinabalu Malaysia bersama lebih dari 100 orang pendaki lainnya ketika terjadi gempa bumi 6 skala richter berhasil dievakuasi. Para pendaki sempat terjebak selama 9 jam di puncak gunung itu tanpa bantuan tim SAR. Mereka mengeluhkan buruknya kinerja tim SAR setempat dalam menolong korban.

Pendaki Australia,  Vee Jin Dumlao tengah berada di puncak Gunung Kinabalu ketika gempa 6 skala richter mengguncang kawasan itu dan membuat Ia dan kelompoknya terjebak tanpa bantuan petugas. Dumlao kemudian memutuskan untuk turun dari gunung sendiri tanpa menunggu tim SAR.

Seharusnya rencana turun gunung itu tidak begitu sulit, namun menjelang tengah hari, puncak gunung tertinggi di Pulau Kalimantan ini diliputi kabut pekat. Dumlao dan 137 orang pendaki lainnya terperangkap dalam cuaca buruk, karenanya rencana mereka pun terpaksa dibatalkan.

"Kami baru saja menyelesaikan pendakian ke puncak, dan kami berencana segera turun, ketika kami tengah berfoto kami mendengar suara ledakan keras dan merasa tanah bergetar," kisah Vee Jin Dumlao, seorang psikolog klinis dari Sydney kepada ABC .
 
Meskipun awalnya Dumlao tetap tenang, tapi Ia mulai panik ketika kelompok itu mendapat informasi bahwa gempa berkekuatan 6,0 skala richter yang mengguncang gunung telah menghancurkan rute mereka untuk pulang.

"Ketika tim pemandu kami kembali setelah mengisi air botol minum kami yang kosong, mereka mendapat kabar kalau telah terjadi longsor parah dan rute jalan pulang mereka telah hancur dan upaya penyelamatan belum dapat dipastikan," tutur Dumlao.
 
Menteri Pariwisata Sabah, Masidi Manjun mengatakan tim penyelamat berhasil mengevakuasi 137 pendaki, termasuk dua orang asal Australia, pasca gempa membuat ratusan pendaki terjebak di puncak Gunung Kinabalu sejak Jum’at lalu.
 
"Tim forensik dari Kepolisian Sabah telah tiba untuk membantu mereka,” kata Masidi dalam akun Tweeternya.
 
Namun klaim ini dibantah oleh Dumlao. Ia menyebut klaim bantuan evakuasi pemerintah Sabah sebagai lelucon.
 
Menurut Dumlao, para pendaki harus menunggu bantuan selama 9 jam di tengah cuaca buruk.
 
 “Kabut pekat menjadi penghalang utama mengapa upaya evakuasi para pendaki di pagi hari sempat tertunda, namun cuaca di puncak Kinabalu kembali cerah pada sore harinya,” kata Dumlao kepada ABC.
 
Meski cuaca sudah kembali cerah, para pendaki dan pemandu diberitahukan oleh pejabat setempat kalau upaya evakuasi mereka baru bisa dilakukan besok pagi.
 
"Padahal kami para pendaki yang terjebak tidak memiliki perlengkapan untuk menginap, dan itu lokasi yang terbuka tidak ada tempat untuk berteduh, dan mengingat kawasan itu rawan lonsong maka resiko yang kami hadapi semakin parah," kata Dumlao.
 
"Banyak pendaki mulai mengalami hipotermia, karena cuaca sangat dingin dan mulai turun hujan ditambah lagi kami belum makan sejak siang hari," katanya.
 
"Karena itulah pemandu kami mengatakan tim SAR tidak akan datang, kita harus menyelamatkan diri sendiri untuk segera turun gunung saat itu juga,: katanya.
 
Setelah para pendaki tiba di Laban Rata,  Dumlao melihat banyak petugas SAR tak berseragam di kota itu namun dalam kondisi 'chaos'.
 
"Tim SAR terlihat tak beraturan, banyak dari personil SAR yang tampak duduk santai atau berdiri saja tidak memberikan pertolongan padahal mereka hanya berjarak 5 jam saja dari puncak gunung,"
 
"Upaya bantuan yang diklaim pemerintah tak ubahnya lelucon saja," kata Dumlao.
 
Karena itu lah Dumlao mengatakan pemandu jalan jauh lebih berperan menolong pendaki yang terjebak ketimbang tim SAR.
 
"Para pemandu pendakian di Gunung Kinabalu mereka adalah pahlawan kami dalam evakuasi ini. Mereka mempertaruhkan nyawa mereka dan mengambil keputusan sulit pada akhirnya menyelamatkan hidup kami meski tanpa pengakuan dari otoritas setempat,’ katanya.
 

Gempa bumi berkekuatan 6  skala richter  mengguncang Gunung Kinabalu yang merupakan salah satu tujuan pariwisata populer di Malaysia. 

Gempa yang tercatat sebagai salah satu gempa terkuat di Malaysia dalam beberapa dekade terakhir ini memicu tanah longsor dan runtuhnya batu-batu granit berukuran besar dari puncak gunung setinggi 4.095 meter itu.
 
Tim SAR mencatat ada 13 orang korban tewas dan 6 masih dinyatakan hilang di puncak gunung tertinggi di kawasan Asia Tenggara tersebut.
 
"Total kami menemukan 13 jenazah, dua ditemukan hari Jum’at kemarin dan hari ini kami kembali menemukan 11 jenazah. 6 orang masih kita cari. Saya tidak dapat memastikan dari mana mereka berasal,” kata Mohammad Farhan Lee Abdullah, Kepala Kepolisian Kota Ranau di dekat Gunung Kinabalu.
 
Diantara korban tewas adalah pelajar berusia 12 tahun asal Singapura, yang diidentifikasi bernama Wee Ying Ping Peony, salah satu peserta trekking dari sebuah kelompok berjumlah 40 orang dan satu korban tewas lainnya adalah penunjuk jalan setempat berusia 30 tahun.
 
Pendaki yang terjebak di puncak Gunung Kinabalu tercatat berasal dari 16 negara, termasuk 117 warga Malaysia, 38 warga Singapura, 5 warga Amerika, empat Belanda, tiga Inggris, dua Perancis dan dua warga Australia.
 
Di laporkan juga ada sejumlah wisatawan dari Belgia, Thailand, Filipina, Kazakhstan, India, Selandia Baru, Korea Selatan, Denmark dan China.