ABC

Puluhan Pakar Ternak Indonesia Perdalam Kemampuan Inovasi di Australia

Sebanyak 65 pakar ternak dari seluruh Indonesia akan terbang ke Australia untuk perdalam ilmu mereka di pedalaman Queensland dan di sejumlah universitas negeri kanguru. Mereka diharapkan mampu mendorong inovasi peternakan Nusantara.

Tahun 2016 menjadi tahun kedua penyelenggaraan program ‘Red Meat and Cattle’ (Daging Merah dan Peternakan), yang merupakan beasiswa kursus jangka pendek bagi para profesional atau pakar di industri peternakan.

Enam puluh lima pakar ternak dari seluruh Indonesia akan belajar selama 5 bulan di Universitas Queensland, Sydney, dan New England maupun di kampus-kampus Pendidikan Teknik dan Tingkat Lanjut, Queensland (TAFE QLD).

 Selain itu, mereka juga akan menjalani kerja praktek di sejumlah rumah pemotongan hewan dan peternakan sapi Australia.

Para peserta yang memperoleh beasiswa Australia Awards Scholarships -di bawah Kemitraan Keamanan Pangan Indonesia-Australia -ini dikirim ke negeri kanguru bukannya tanpa alasan.

“Perdagangan ternak hidup memberi sumbangsih besar pada ekonomi kedua negara, maupun menjadi sumber nafkah dan kesejahteraan warga Australia dan Indonesia,” sebut Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, dalam keterangan pers yang diterima Australia Plus.

Menurut Dubes Paul, kedua negara akan diuntungkan dari diselenggarakannya program ini. Meningkatnya rantai pasokan daging merah dan ternak adalah salah satunya, di samping memberi kepastian pada industri peternakan dan konsumen Australia-Indonesia.

Tahun lalu, 50 pakar atau profesional di bidang ternak dikirim ke Wilayah Utara Australia dan Queensland untuk mengikuti program yang merupakan bagian dari dana kemitraan senilai 2,2 juta dolar (atau setara Rp 22 miliar) ini.

Para calon pelopor inovasi ini, ke depannya, diharapkan mampu mengembangkan industri peternakan.

“Para peserta tersebut akan menjadi pemimpin masa depan industri peternakan yang akan menghasilkan gagasan dan mendorong inovasi pada sektor peternakan, yang memastikan perencanaan, pengembangan dan pengelolaan yang lebih baik dalam semua aspek penggemukan dan pembiakan sapi sepanjang rantai pasokan,” tutur Dubes Paul.

Pada Jumat (26/2), ke-65 peserta program beasiswa kursus singkat tersebut dilepas secara resmi di kantor Kementerian Pertanian Indonesia, Jakarta.