ABC

Proteksionisme Bisa Hantam Perekonomian Australia

Hampir 100 ribu lapangan kerja bisa hilang dan pendapatan rumah tangga bisa menurun hingga AS$1.500, atau hampir Rp 15 juta, jika Australia mengikuti tren global menuju proteksionisme. Demikian diperingatkan oleh Productivity Commission Australia.

Dalam laporan terbaru, komisi tersebut mengatakan tren proteksionisme, yang didorong oleh doktrin perdagangan Presiden AS Donald Trump, dapat memicu resesi global.

Ketua Komisi Peter Harris mengatakan gelombang kebijakan proteksionisme di sektor utama ekonomi akan akan menimbulkan konsekuensi bencana bagi mereka yang sangat rentan.

"Konsekuensinya bukan hanya melindungi pasar di negeri sendiri, tapi apa yang dilakukan negara lain untuk meresponsnya," kata Peter.

"Penularan global yang datang bisa sangat serius."

"Intinya, proteksionisme jelas menghancurkan warga, bagi mereka yang paling tidak aman dalam posisi pekerjaan."

Ia juga mengatakan, saat resesi global bukanlah ancaman langsung, tapi para pemimpin dunia perlu mengambil tindakan sekarang untuk menghindari bencana.

"Poin pentingnya adalah sudah membatu dalam pikiran para pemimpin kita, saat kita lebih mementingkan diri sendiri, tidak ada yang bisa menerapkan kebijakan dengan efektif dan kita semua menghancurkan diri sendiri."

Sangat menyakitkan

Kampanye Presdien Trump untuk Gedung Putih dengan cirinya 'America first' serta ambisinya yang terkenal untuk menarik diri dari kemitraan trans pasifik pada awal tahun ini.

Para politisi saya kanan di seluruh Eropa telah menggemakan janji-janji Trump untuk melawan globalisasi oleh kalangan populis.

Peter mengatakan, setelah seperempat abad pertumbuhan ekonomi, Australia sekarang berdiri di persimpangan jalan.

"Kami dihadapkan pada perubahan radikal soal kebijakan perdagangan AS, yang jika direplikasi oleh para populis di Eropa, maka Australia bisa berada di bawah tekanan politik untuk mengikuti tren proteksionisme semacam itu," katanya.

Kelanjutan dari jalur kebijakan proteksi yang lebih ketat dapat mempengaruhi lebih dari 80 persen orang Australia, ,menurut Peter.

"Untuk pendapatan rata-rata rumah tangga, perang pada sektor perdagangan bisa mengurangi pendapatan sebesar AU$ 1.500, atau hampir Rp 15 juta per tahun saat periode proteksionisme," katanya.

"Selain itu, dampak pada pekerjaan di Australia adalah kemungkinan hilangnya 100.000 pekerjaan. Di luar itu kemungkinan mothballing, atau menutup perpetuitas, hingga 5 persen dari persediaan modal kita."

"Dampak-dampak tertentu akan dirasakan bagi mereka yang kecil kemampuannya untuk melindungi diri sendiri, jadi pekerja dengan keterampilan paling rendah paling sangat terkena dampaknya dari perubahan ini."

Diterbitkan pada 19/07/2017 pukul 14:30 PM. Simak laporannya dalam bahasa Inggris disini.