ABC

Produksi Makanan Khas Tradisional Australia Meningkat

Meski belum menjadi produk pangan yang umum di Australia, namun makanan tradisional khas warga Aborigin atau bush food terus meningkat permintaan maupun produksinya. Pada peringatan Hari Pangan Dunia, warga Australia diingatkan untuk lebih mengetahui nilai pangan tradisional mereka. 

Olesan selai Riberry diatas roti dari biji akasia, Kakadu atau yogurt dari susu kambing jantan dicampur dengan sereal dari pinus bunya, teh lemon myrtle dan roti biji akasia. Itulah sebagian contoh dari produk pangan yang terbuat dari 6 ribu spesies tumbuhan asli benua Australia yang dapat dimakan, yang sudah teridentifikasi di Australia. 

Makanan tradisional atau Bush food ini memang bukan bagian dari pertanian utama, tetapi produksinya baik yang dipanen dari alam liar maupun hasil budidaya terus meningkat.

Direktur Perusahaan Pangan Asli Australia Limited, Rus Glover, mengatakan perusahaannya memfokuskan perhatian mereka pada 14 spesies tanaman pangan asli melalui program riset yang mereka lakukan untuk mengidentifikasi peluang pengembangan produk pangan tersebut. 

Riset ini akan difokuskan untuk riset ilmiah guna memverifikasi klaim gizi dari tumbuhan tersebut, mengajarkan orang bagaimana untuk membudidayakan dan panen makanan asli itu serta mengembangkan teknologi baru atau menyempurnakannya untuk pengolahan dan pengemasan makanan tradisional.

Glover mengatakan makanan tradisional benua Australia dapat digunakan untuk meningkatkan aroma dan rasa makanan, beberapa bahkan memiliki nilai gizi yang nyata sementara yang lainnya dapat digunakan sebagai bahan pengawet produk daging olahan. 

Namun ia mengatakan banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperluas kehadiran produk pangan tradisional Australia di pasaran maupun meyakinkan konsumen mengenai manfaat dan kegunaannya.

Peneliti senior dari Pusat Nutrisi dan Ilmu Pangan Queensland, Dr Yasmina Sultanbawa, mengatakan makanan tradisional di seluruh dunia akan memainkan peran penting dalam memastikan ketahanan pangan dan juga kecukupan gizi. 

Dia mengatakan dengan penduduk dunia yang diperkirakan akan tumbuh hingga sembilan miliar orang  pada tahun 2050, manusia tidak bisa hanya mengandalkan pada produk pangan yang umum seperti beras, gandum dan jagung. 
 
"Peningkatan produksi makanan dasar, yang berarti 50 persen dari apa yang biasa kita makan, itu berarti berarti kita akan menghadapi isu seperti rendahnya kandungan gizi mikro yang berarti ancaman ‘kelaparan tersembunyi’ dan menurunnya produktivitas manusia. Oleh karena itu kita harus memfokuskan diri pada keragaman pola makan atau diet, "katanya. 

"Jadi itulah sebabnya ada kebutuhan mendesak untuk membangkitkan kembali makanan tradisional dan khas penduduk asli dan seluruh dunia kini tengah mencari makanan jenis ini untuk kepentingan diversifikasi pangan di wilayah mereka masing-masing.
 
"Dalam hal keamanan pangan, sangat penting bahwa masing-masing negara mengerti, apa makanan tradisional mereka, sehingga pada saat dibutuhkan, mereka dapat menumbuhkan dan membudidayakan tanaman pangan itu di negaranya, sehingga menjadi tersedia dan berkelanjutan.”