ABC

Pria Sulit Dapatkan Waktu Kerja Fleksibel

Penelitian terbaru menunjukan pekerja pria mengalami persepsi yang salah sebagaimana yang dialami perempuan satu dekade lalu, Riset terbaru menunjukan pria lebih berpeluang ditolak permohonannya untuk bekerja dengan waktu yang lebih fleksibel.

Riset mengenai peran fleksibilitas bekerja di perusahaan konsultan bisnis Bain and Co menyimpulkan 60 persen pekerja pria ingin memiliki jam kerja yang fleksibel, namun sedikit sekali mendapat dukungan dari pekerja senior.
 
Namun responden pria yang diwawancarai dalam riset ini mengaku, manajemen tidak suka jika pria meminta pengaturan kerja yang fleksibel.
 
Para peneliti mengutip satu insiden di mana seorang pria diberitahu oleh manajer bahwa "paruh waktu secara tradisional hanya sesuatu yang hanya bisa dilakukan untuk pekerja wanita.
 
Pengakuan responden lainnya mengatakan: "Bos saya memberitahu saya kalau saya tidak bisa dipromosikan bekerja paruh waktu."
 
Temuan ini didukung oleh riset oleh Komisi HAM Australia 2014, yang mendapati 27 persen ayah melaporkan mengalami diskriminasi terkait dengan cuti orang tua dan kembali bekerja, dibandingkan dengan perempuan yang hanya 49 persen.
 
Meredith Hellicar, satu dari penulis laporan Bain and Co, mengatakan masih ada hambatan budaya bagi perusahaan dalam menyediakan lingkungan kerja yang fleksibel.
 
"[Pria] mengalami bentuk diskriminasi dan prejudis yang sama dengan yang dialami wanita 10-15 tahun yang lalu,” katanya.
 
Menurutnya perusahaan perlu bekerja lebih keras untuk membuat norma yang fleksibel.
 
"Ada hambatan budaya untuk mengadopsi kesetaraan ini kita tampaknya harus menunggu lebih lama bagi pria untuk mendapatkan hasil positif dari bekerja fleksibel."
 
Penelitian ini dilakukan terhadap 1.030 responden, yang terdiri dari 58 persen perempuan dan 42 persen laki-laki.
 
Jesse Olsen dari Pusat Kepemimpinan Universitas Melbourne mengatakan banyak tempat kerja masih mempromosikan bentuk peran gender tradisional.
 
"Dalam masyarakat kita, ada andangan-pandangan tradisional tentang peran di mana seorang wanita adalah penjaga/perawat  dan jauh lebih mungkin untuk menjadi ibu rumah tangga ... dan di mana seorang pria lebih mungkin untuk menjadi pencari nafkah dan bekerja penuh waktu," katanya .
 
"Itu semacam tertanam dalam diri kita sejak masa yang sangat lama dan kami mencoba untuk mengubah itu, tapi akan sangat sulit untuk mengubah asumsi dan nilai-nilai dan hal-hal yang dapat mempengaruhi kita secara sadar."
 
Dr Olson mengatakan bahkan ketika pria memiliki permintaan untuk jam kerja yang fleksibel disetujui, mereka bisa menghadapi diskriminasi setelah peraturan ini diberlakukan.
 
"Anda bisa saja mendapatkan persetujuan secara lisan dari bos atau dari rekan kerja, tapi masih banyak orang-orang yang berpegang pada norma-norma tradisional," katanya.