Pria Brisbane Bantu PBB Pulangkan Tentara Anak di Sudan Selatan ke Keluarga
Seorang warga Queensland membantu tentara anak-anak bebas dari kerusakan akibat perang saudara di Sudan Selatan, yang digambarkan sebagai salah satu lokasi krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Anthony Nolan adalah spesialis perlindungan anak di lembaga PBB, UNICEF dan awal tahun ini Ia terlibat dalam upaya membebaskan 3.000 anak-anak dari angkatan bersenjata.
Anak berusia 11 tahunan itu direkrut, diberikan senjata dan dipaksa untuk menyaksikan atau menimbulkan kekerasan dalam pertempuran yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
"Salah satu anak laki-laki yang saya temui tahun ini memiliki peluru bersarang di lehernya yang kemudian harus kita papah agar bisa disingkirkan," kata Nolan.
"Dia kini sudah kembali ke keluarganya,”
"Sebagian dari anak-anak ini merupakan pejuang aktif, mereka membawa senjata dan bertempur dalam peperangan. Sebagian dari mereka dikerahkan sebagai tukang masak dan tukang bersih-bersih,”
Nolan telah bekerja di Sudan Selatan selama 18 bulan.
Dalam kunjungannya baru-baru ini di Brisbane dia menceritakan pengalamannya.
"Anak-anak ini tidak memilih sendiri untuk menjadi tentara. Bahkan faktanya sebagian besar anak-anak yang saya temui mengaku mereka tidak ingin berperang, tapi keluarga mereka kerap mengirim mereka karena mereka putus asa,” kata Nolan.
"Mereka masyarakat yang sangat miskin, jadi anak-anak ini hanya memiliki kesempatan kecil mereka bahkan tidak punya kesempatan untuk bersekolah,”
"Anak-anak ini kemudian terjebak dalam konflik dimana pilihannya mereka dikirim untuk mempertahankan komunitas mereka atau mencari bahan makanan untuk menopang keluarganya,”

Anthony Nolan mengaku sangat bahagia jika berhasil menyelamatkan anak di Sudan Selatan dari menjadi tentara pejuang.
Tapi awal tahun ini, tentara Pemerintah Sudan Selatan dan pihak oposisi telah bersepakat untuk membebaskan tentara anak-anak dalam pasukan mereka.
Nolan mengatakan UNICEF memberikan anak-anak ini kebutuhan hidup mendasar seperti selimut, pakaian dan kemudian mempersatukan mereka kembali dengan keluarganya.
"Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengintegrasikan kembali anak-anak itu ke komunitas mereka,”
“Anak-anak itu perlu mempelajari keahlian-keahlian baru, mereka perlu pergi ke sekolah dan terkadang mereka perlu menyembuhkan dan memperbaiki hubungan mereka,” katanya.
Mereka juga tetap rentan, karena desa mereka beresiko diserang dan itu artinya mereka bisa saja dipaksa untuk berperang lagi.
"Sudan Selatan jarang mendapat sorotan media sebagaimana mestinya,” kata Nolan.
"Sudan Selatan masih menjadi salah satu lokasi krisis kemanusiaan terbesar di dunia dan ada tantangan yang sangat besar bagi kita sebagai komunitas kemanusiaan untuk menjaga anak-anak itu aman, mendapatkan gizi, sehat, bersekolah dan aman dari kekerasan.”
"Dan itu masih perlu waktu yang sangat pajang bertahun-tahun dan juga sumber daya yang sangat besar,”
Nolan berkomitmen untuk upaya itu dan akan kembali ke Sudan Selatan untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Setiap anak yang kita bebaskan dari pasukan bersenjata merupakan satu nyawa yang berhasil kita selamatkan dan itu sangat membahagiakan."