ABC

Presiden Trump Dijadwalkan Kunjungi Asia Selama 12 Hari

Donald Trump akan memulai perjalanan 12 hari ke negara-negara Asia hampir setahun setelah dia menjabat Presiden AS dan sampai saat ini belum memiliki kebijakan yang konsisten mengenai kawasan ini.

Dia dijadwalkan mengunjungi Jepang, Korea Selatan, China, Vietnam dan Filipina, sebelum terbang kembali ke Amerika Serikat berselang beberapa jam sebelum pembukaan KTT Asia Timur yang mempertemukan para pemimpin kawasan.

Presiden Trump memiliki dua agenda sentral yang akan mendominasi perjalanannya - Korea Utara dan isu perdagangan.

Dia telah menyinggung penguasa Korea Utara, mengancam rezim tersebut dengan tindakan militer AS jika program nuklirnya tidak dihentikan, serta menekan China untuk menjatuhkan sanksi guna memaksa sekutunya itu patuh.

Tapi seperti biasa, posisinya lebih membahayakan daripada yang disampaikan oleh Menlu dan Menhan AS yang terus mendahulukan solusi diplomatik sampai tidak ada lagi pilihan lain.

Dikatakan bahwa ada kepercayaan internasional yang tinggi terhadap tim HR McMaster, James Mattis dan John Kelly terkait masalah pertahanan dan keamanan, namun pernyataan mereka sebagian besar lebih terjaga dibandingkan pernyataan atasan mereka.

Semua perhatian akan tertuju ke cuitan di akun Twitter Trump saat dia berada di kawasan ini, karena negara-negara Asia melihat kunjungan dengan sikap curiga, takut retorika sang presiden dapat menyebabkan salah perhitungan di tengah hubungan yang sudah tegang dengan Korea Utara.

"Saya kira Presiden tidak begitu mengatur bahasanya," kata Jenderal McMaster saat ditanya apakah Trump akan mengubah perilakunya saat berada di luar negeri.

Ditanya kemungkinan hasil terbaik dari kunjungan Trump tersebut, seorang pakar Asia di Washington mengatakan: "Ikut saja jalan ceritanya."

Para pembantu Trump dilaporkan telah merencanakan perjalanan ini selama berbulan-bulan, bahkan sampai ke urusan makanannya, guna memastikan semuanya berjalan lancar.

Bisa tampak lemah

Trump akan meninggalkan negaranya di tengah investigasi mengenai keterlibatan Rusia dalam Pilpres AS, yang tuduhan pertamanya ditujukan kepada anggota tim kampanye Trump.

Dia dilaporkan khawatir jika penyelidikan ini membuatnya tampak lemah secara politis, dan dapat mempengaruhi dinamika kekuatan dalam negosiasi dengan para pemimpin Asia, terutama Presiden China Xi Jinping yang kini sangat berkuasa di negara itu usai Kongres PKC yang baru lalu.

Setelah keluar dari Trans Pacific Partnershi, Pemerintahan Trump telah melepaskan peluang terbaiknya untuk mendapatkan kontrol atas ekonomi Asia di saat China membangun kekuatan politik dan ekonomi di kawasan tersebut.

Sekarang, Trump ingin melakukan kesepakatan bilateral dan mendorong Cina untuk memperbaiki kondisi perdagangan.

Beijing diperkirakan akan menggelar karpet merah bagi Trump, namun visualnya, yang diperkirakan akan mengalami penambahan mungkin lebih spektakuler daripada hasil nyata.

Fokus Trump terhadap Korea Utara dan isu perdagangan membuat isu-isu lain utama di kawasan ini terabaikan, termasuk situasi Rohingya, isu HAM, pemerintahan militer di Thailand, memburuknya demokrasi di Kamboja, sengketa Laut China Selatan dan kebebasan pelayaran serta pengaruh China secara keseluruhan.

Kunjungan 12 hari Presiden Trump tidak termasuk Australia, namun hal itu menunjukkan komitmen AS yang terus berlanjut ke Asia.

Setiap tindak-tanduknya akan diperhatikan dan setiap pernyataannya akan dianalisis karena para pemimpin kawasan ini terus menunggu kebijakan AS mengenai Asia yang lebih jelas.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.