ABC

Potensi Kembangkan Vaksin DBD dan Zika dari Vaksin Buaya

Uji coba vaksin untuk menangani virus yang menjangkiti buaya bisa dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi vaksin dengeu dan zika bagi manusia.

Virus Kunjin ditularkan melalui nyamuk dan menyebabkan lesi, atau kerusakan jaringan, pada kulit buaya memiliki harga tinggi.

Namun, teknologi yang digunakan untuk membuat vaksin lebih dari sekedar itu, menawarkan penerapan yang lebih luas bagi patogen yang dibawa nyamuk termasuk yang menyerang manusia.

Infeksi pada reptil baru ditemukan 12 bulan yang lalu.

Profesor Roy Hall dari Universitas Queensland di Australia mengatakan para ilmuwan masih mempelajari bagaimana transmisi terjadi dan mengapa mereka dapat menyerang kulit.

“Mungkin nyamuk menggigit daerah yang lembut di tubuh, terutama di sekitar mata buaya. Ini dari beberapa pengamatan yang dilakukan orang-orang di peternakan buaya,” katanya.

“Karena kulit buaya sangat penting untuk dikembangkan menjadi aksesoris berbahan kulit yang mahal, maka lesi yang kecil pun dapat merusak kualitas kulit.”

Para ilmuwan telah meminta izin ke kantor pengawas teknologi gen di Australia untuk melakukan uji coba pada peternakan buaya, diawali di Kawasan Australia Utara dan berpotensi dilakukan juga di Queensland Utara.

Vaksin gabungkan virus-virus

Foto seekor nyamuk mengiggit kulit manusia
Teknologi vaksin dapat digunakan untuk menciptakan vaksin bagi manusia untuk berbagai penyakit akibat nyamuk.

Muhammad Mahdi Karim/Wikimedia Commons

Profesor Hall mengatakan vaksin kunjin adalah virus hibrid yang dibawa nyamuk.

“Kami menemukan flavivirus yang sengat menarik dibawa oleh nyamuk di Australia Utara yang jauh kaitannya dengan virus kunjin dan dengeu dan sebagainya, namun yang menarik adalah mereka tidak menginfeksi manusia atau hewan, sehingga benar-benar berguna sebagai bahan dasar vaksin karena cukup aman, “katanya.

"Jadi yang kita miliki adalah virus hibrid yang tidak mereproduksi dalam sel hewan. Namun saat kita menyuntikkannya ke dalam hewan, ia akan mengembangkan kekebalan yang kuat melindungi hewan dari infeksi virus kunjin."

Studi awal pada tikus di laboratorium menunjukkan vaksin tersebut memberikan perlindungan yang baik setelah dua dosis. Namun para ilmuwan belum mendapat persetujuan untuk uji coba pada hewan yang lebih besar.

“Begitu kita memasukkan vaksin ke buaya, sistem kekebalan buaya dengan cepat membersihkan virus dari tubuh,” kata Profesor Hall.

“Jadi dalam hitungan jam virus sudah hilang, dan karena tidak bisa menjiplak maka tak bisa ditularkan dan disebarkan ke hewan lain. Itu yang membuatnya sangat aman.”

Percobaan selama lima tahun akan memberi para ilmuwan menguji teknologinya pada hewan lebih besar, dengan maksud mengembangkan vaksin untuk hewan besar lainnya, termasuk manusia.

"Kami dapat membuat virus hibrid serupa dengan keamanan yang sama untuk sejumlah penyakit yang berbeda, termasuk demam berdarah, zika, sakit kuning dari patogen yang dibawa nyamuk ini," kata Profesor Hall.

“Jadi berpotensi untuk spesies lain, terutama manusia.”

Perdagangan kulit memicu penelitian

Para ilmuwan yang terlibat telah mengembangkan vaksin melalui proyek pengendalian penyakit buaya senilai $4,8 juta, atau hampir Rp 50 miliar. Proyek ini dipimpin oleh perusahaan peternakan buaya di Kawasan Australia Utara, Porosus Pty Ltd.

Seorang pria sedang memperhatikan kulit buaya
Industri kulit buaya di Australia bernilai lebih dari $100 juta per tahun.

ABC TV

Pemerintah pusat Australia telah memberikan kontribusi dengan memberikan dana sebesar $1,15 juta, sekitar Rp 12 miliar lewat lembaga CRC for Developing Northern Australia.

Pemilik perusahaan Porosus, Mick Burns mengatakan proyek ini bertujuan untuk memungkinkan produsen buaya di Australia untuk menjadi lebih kompetitif secara global.

"Virus bisa datang dan pergi, tapi dalam beberapa kasus kita telah melihat 50 persen lebih [tingkat infeksi] dan yang harus kita lakukan adalah memahami dampaknya pada apa yang kita jual," katanya.

Buaya sebagai kelinci percobaan

Dewan penelitian kesehatan di Australia juga memberikan dana kepada Profesor Hall untuk menggembangkan flavivirus yang aman untuk vaksin hibrida yang dapat melindungi manusia dari infeksi yang ditularkan melalui nyamuk.

“Potensi ini sekarang sudah dikenal,” katanya.

“Penemuan virus baru ini dan bedanya dengan flavivirus lain cukup menarik, tapi bila Anda benar-benar bisa mengambil virus baru tersebut dan mengembangkan teknologi baru ini, sangatlah bermanfaat.”

Namun, Profesor Hall mengatakan dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapat persetujuan bagi vaksin manusia, sehingga uji klinis masih beberapa tahun lagi.

Dirangkum dari laporan aslinya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca disini.