ABC

Pertokoan Australia lacak gerak telpon genggam pengunjung

Masyarakat pasti sudah terbiasa gerak geriknya diawasi oleh kamera pengawas atau CCTV di pertokoan, tapi bagaimana jika telpon selular anda yang dilacak geraknya ketika berbelanja di pertokoan atau pusat bisnis?

Itulah tren teknologi yang belakangan banyak diterapkan para pengelola pusat perbelanjaan di Australia – melacak pergerakan pengunjung yang keluar masuk lewat telpon selular.

Salah satu pusat perbelanjaan di Australia yang menerapkan sistem pengawasan ini adalah Mall Rundle di Adelaide. Pengelola memasukan teknologi pengawasan pengunjung baru ini dalam anggaran perbaikan pertokoan  mereka senilai AUS$30 juta.

Direktur Manajemen Rundle Mall, Ian Darbyshire  mengatakan teknologi  tersebut sudah di instal dan akan sangat membantu bisnisnya memperoleh informasi mengenai pergerakan konsumen.

"Anda bisa melihat apa objek di pertokoan anda yang menarik perhatian konsumen, dimana mereka biasanya  berkunjung, apa yang menghibur mereka,” tuturnya.

"Sebagian kawasan di pertokoan kami akan digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara – jadi jika nanti pada waktu tempat itu digunakan dengan menggunakan teknologi ini kita bisa melihat apakah banyak pengunjung yang datang, apakah even itu menarik, berapa lama mereka berkunjung, dan setelah itu mereka kemana.”

Teknologi bisnis online

Sebenarnya teknologi ini merupakan perluasan dari teknologi yang sudah umum diterapkan pelaku bisnis online.  Seperti diketahui, selama bertahun-tahun banyak toko online diam-diam menarik akses data konsumen yang sangat spesifik.  Misalnya mereka bisa tahu berapa lama seorang pelanggan menghabiskan waktunya dihalaman toko anda, produk apa yang dilihat dan yang tidak, berapa sering mereka berkunjung ke toko online anda.

Inhouse Group, salah satu penyedia layanan pelacakan produk offline, mengatakan teknologi ini sangat membantu pelaku usaha online bertempur meraup pelanggan.

Namun menurut Bos Inhouse Group, Clinton House masyarakat tidak perlu khawatir dengan teknologi ini, karena kliennya hanya mencari data umum saja. Bukan informasi khusus mengenai individu tertentu.

"Apa yang kami kerjakan semuanya anonim. Semuanya hanya berupa angka-angka saja – klien kami tidak tertarik dengan perilaku individu yang berkunjung ke pertokoan mereka. Jadi ini soal informasi angka secara umum saja,” ungkapnya menjelaskan.

"Begitu sebuah informasi masuk ke jaringan data kami, maka langsung diubah menjadi data anonim dan kami pastikan tidak ada upaya mengidentifikasi data di jaringan kami sama sekali."

Lalu bagaimana proses pelacakan itu? Inhouse Group mengatakan pelacakan pergerakan pengunjung ini dilakukan dengan dua jenis teknologi berbeda.

Ada yang menggunakan teknologi yang memanfaatkan sinyal WiFi dari perangkat telpon selular yang akan memberitahu lokasi pelanggan. Tapi ada juga teknologi lain yang diperkenalkan perusahaan IT dari Inggris - FootPath by Path Intelligence- yang melacak konsumen dengan  menggunakan sinyal jaringan di selular.

Kedua jenis teknologi ini bisa tetap melacak sinyal Selular anda meskipun perangkat anda dalam keadaan tidak aktif.

Inhouse memastikan kedua sistem ini hanya bisa melacak jejak saja, dan tidak bisa mengakses data apapun yang disimpan didalam  telpon selular penggunanya.

Namun demikian, konsumen tidak bisa menyadari jika pertokoan yang mereka kunjungi menerapkan atau tidak teknologi pelacakan telpon selular tersebut.

"Kami sangat menghormati privasi klien, sebagaimana kami juga menghormati privasi pengunjung pertokoan, jadi kami tidak bisa mengungkapkan siapa-siapa saja klien kami” tegas House.

"Kami hanya bisa menyatakan pengguna jasa teknologi ini beragam mulai dari pertokoan kecil, menengah hingga pertokoan besar di seluruh Australia,” tegasnya lagi.

Respon serupa disampaikan Path Intelligence.

"Saya hanya bisa mengkonfirmasi kalau teknologi kami sudah terinstal di Australia,” ucap Direktur Path Intelegence, Sharon Biggar singkat.

Beresiko melanggar privasi

Penerapan teknologi ini menuai komentar beragam.

"Selama teknologi ini tidak disalahgunakan dan tidak memicu masalah, saya OK saja," komentar seorang pengunjung pria.

"Kalo Saya tetap menilainya sebagai hal yang mengganggu karena melacak pergerakan orang di mal. Saya pikir sedikit keterlaluan,” ungkap pengunjung lain.

Mantan Komisi Privasi Australia, Malcolm Crompton mengatakan dirinya prihatin beberapa pengecer bisa saja secara tidak sengaja melanggar hukum dengan menerapkan sistem yang diimpor dari Amerika Serikat ini.

"Sangat mungkin mereka melanggar UU Privasi, dan ini sesuatu yang harus diperhatikan oleh semua perusahaan di Australia. status hukumnya sama saja di Amerika dan Australia,” katanya.

"Sering kali perusahaan di Australia hanya sekedar membeli dan mendatangkan saja teknologi dari Amerika tanpa mempelajarinya terlebih dahulu,” ucap Crompton prihatin.

Namun menurutnya solusi masalah ini sederhana saja. Perusahaan cukup melakukan pemberitahuan kepada para pengunjungnya kalau bangunannya dilengkapi dengan teknologi pelacak pergerakan pengunjung. Dan jika tidak berkenan, pengunjung bisa disarankan untuk mematikan  telepon selularnya.