ABC

Pertanian Australia di Masa Lalu Lebih Maju dari yang Diperkirakan

Sejumlah ilmuwan memperkirakan bahwa cara mengolah lahan kaum bumiputera Australia sebelum kedatangan bangsa Eropa di benua tersebut sebenarnya cukup maju, tidak hanya berburu dan mengumpulkan pakan, seperti yang diduga sebelumnya.

Bruce Pascoe, seorang penulis keturunan bumiputera Australia, baru-baru ini menerbitkan buku berjudul "Dark Emu- Black seeds, agriculture or accident?"

Dalam buku itu, ia berargumen bahwa ekonomi dan budaya kaum Aborigin dan kepulauan selat Torress selama ini diremehkan. Menurutnya, ada bukti jelas, justru dari tulisan-tulisan bangsa Eropa yang dahulu menjelajah ke Australia.

"Membaca jurnal-jurnal kuno ini, saya beberapa kali membaca adanya cerita tentang penduduk membangun bendungan dan sumur, bercocok tanam, mengairi dan memanen benih, menyimpan surplus dan menyimpannya di rumah-rumah, gedung, atau wahana yang aman...dan memanipulasi lahan."

Yang disampaikan dalam "Dark Emu" menyerupai yang disampaikan oleh Bill Gammage dalam bukunya "The Biggest Estate on Earth-How Aborigines Made Australia". Buku ini diterbitkan tahun 2011.

Gammage juga menyatakan bahwa ada banyak catatan kuno yang menggambarkan orang pribumi Australia mengolah lahan.

Selain itu, Ia berpendapat bahwa para pelukis di masa itu dengan tepat menggambarkan keadaan Australia sebelum ditempati orang kulit putih, dan bukannya sekadar membuat lahan itu terlihat mirip lahan di Eropa atau Inggris dalam lukisan-lukisan mereka.

Maka, pada masa itu, hutan tidaklah lebat, lahan tidak ditutupi hutan, dan banyak lahan yang menyerupai taman.

Karena, para pribumi Australia mengubah rupa lahan dengan menyingkirkan semak-semak, menjarangkan pohon, dan membuka lahan menggunakan api.

Selain pertanian, mereka juga membangun sistem perikanan darat yang cukup maju.

Pada tahun 1990an, seorang konsultan arkeolog bernama Heather Builth mendapati betapa cerdasnya sistem perangkap belut yang digunakan kaum bumiputera di daerah Lake Condah, Victoria.

Saat ini, hanya ada sedikit dari peninggalan sistem penangkapan belut mereka yang terlihat mata, dalam bentuk bebatuan dan fondasi. Namun, itu sebenarnya bagian dari sistem besar yang bermula dari laut.

Ada juga rumah-rumah beratap kubah tempat mereka dulu berkumpul.

Jimmy Onus, seorang keturunan bumiputera, bercerita bahwa saat Ia tumbuh dewasa dulu kakeknya masih menggunakan perangkap-perangkap belut itu. Ia ingat bagaimana dulu diceritakan cara penggunaannya.

Belut yang tertangkap akan diasap di bagian dalam pohon, disimpan, atau dipertukarkan dengan klan-klan lain.

Diharapkan, pengetahuan macam ini bisa digunakan kembali, untuk memberi lahan pekerjaan bagi kaum bumiputera.

Di Wilayah Utara Australia, sejumlah peneliti di Charles Darwin University bekerjasama dengan komunitas-komunitas bumiputera untuk meneliti potensi komersial tanaman beras liar.

Di daerah Mallacoota, Victoria, sejumlah orang juga telah mencoba menanam bunga wild yam daisy di taman mereka, untuk melihat seberapa mungkin tanaman yang akarnya bisa dimakan itu bisa ditumbuhkan dalam skala yang lebih besar. Bunga ini dulu merupakan sumber makanan penting bagi kaum Aborigin.

Selain itu, penting juga dilakukan pelestarian situs-situs dan peninggalan masa lalu.