ABC

Perjuangan ‘Footy’ Australia Raih Popularitas di Indonesia

Australian Rules Football atau ‘footy’ adalah salah satu olahraga yang sangat populer di negeri asalnya. Di Indonesia, keberadaan ‘footy’ memang belum setenar di Australia. Namun, para pecinta-nya di Jakarta tak lelah mengenalkan olahraga ini kepada warga lokal. 

Membangun klub ‘footy’ di sejumlah kota hingga membentuk  timnas ‘footy’ Indonesia, adalah dua langkah besar yang dilakukan para ekspatriat Australia di Indonesia, untuk membudayakan olahraga kegemaran kampung halaman mereka tersebut.

Kedua upaya itu tentunya tak dilakukan semudah membalik telapak tangan.Guna menuju pencapaian itu, para ekspatriat negeri kangguru menggelar berbagai kegiatan pengenalan di sekolah-sekolah lokal.

Tim 'footy' Indonesia Garudas tengah melakukan sesi latihan di lapangan hoki, Senayan, Jakarta. (Foto: Nurina Savitri)

Tengok saja apa yang dilakukan salah satu klub Liga ‘Footy’ atau AFL Indonesia, ‘Jakarta Bintangs’. Sejak didirikan tahun 1995, para pengurus klub rajin turun menemui  anak-anak muda Indonesia untuk mengenalkan olahraga ini

Boy Pasaribu adalah salah satu generasi muda Indonesia yang jatuh cinta kepada permainan ‘footy’.

Ia sudah bergulat dengan olahraga yang membutuhkan fisik prima ini sejak 10 tahun lalu. Baginya, ‘footy’, yang merupakan perpaduan antara rugby dan sepak bola ini, telah menjadi bagian hidup. Ia kini menjabat sebagai ‘coach’ atau pelatih tim nasional ‘footy’ Indonesia Garudas, yang terdiri dari anak-anak muda Indonesia bertalenta, yang memiliki minat pada olahraga asli Australia ini.

 “Footy is fun, saya dulunya main bola biasa, basket juga, tapi ‘footy’ ini berbeda,” akunya.

Boy lantas bercerita, “Awalnya saya main untuk ‘Jakarta Bintangs’ dari SMA, tahun 2004. Saya main hampir 5 tahun dan kemudian ditugaskan untuk melatih ‘Indonesia Garudas’.

Tugasnya sebagai pelatih tak hanya urusan melatih fisik dan strategi. Ia pun turut berpartisipasi melebarkan sayap ‘footy’ ke seluruh pelosok nusantara.

“Saya juga datang ke sekolah-sekolah, ke SMP dan SMA. Saya bilang ke anak-anak di sekolah itu kalau ini olahraga baru. Saya bilang, ‘jangan khawatir... ini baik untuk kesehatan’. Banyak dari mereka yang memang menanyakan soal perbedaan ‘footy’ dengan rugby, akhirnya supaya mereka tertarik, saya jawab saja: ‘ikut aja latihan kita’,” urainya kepada Nurina Savitri dari ABC Internasional.

Ia lalu mengisahkan dengan bangga bahwa tim ‘Indonesia Garudas’yang dipimpinnya, baru saja kembali dari Australia untuk mengikuti kejuaraan internasional ‘footy’ di sana.

'Footy' adalah olahraga keras yang membutuhkan fisik prima. Menurut Boy Pasaribu, kondisi ini membuat para pemain Indonesia, yang mayoritas tak tinggi besar, membutuhkan adaptasi tersendiri. (Foto: Nurina Savitri)

Berbeda dengan Boy, Matthew Jolly, sudah akrab dengan ‘footy’ sejak puluhan tahun lalu.

“Saya tahu ini dari teman saya yang ada di Australia. Jadi begitu saya pindah ke Jakarta sekitar 8-9 tahun lalu, saya langsung bergabung dengan ‘Jakarta Bintangs’,” utaranya.

Di seluruh Indonesia, tercatat ada 3 klub ‘footy’ yang berkembang dan tergabung dalam AFL Indonesia. Selain ‘Jakarta Bintangs’, ada pula ‘Bali Geckos’ dan ‘Borneo Bears’.

Menurut penuturan Iain Shearer, salah satu pengurus AFL Indonesia, di luar pencapaian yang sejauh ini didapat, ada beberapa kendala yang dihadapi selama mengembangkan ‘footy’ di negeri khatulistiwa ini.

“Ketika kita datang ke sekolah-sekolah, mereka minta kita untuk menghubungi KONI. Nah, karena ‘footy’ itu tidak termasuk olahraga olimpiade, sementara KONI mengacu pada olimpiade, mereka jadi susah untuk benar-benar mendukung kita,” sebutnya.

Ya, dukungan dari pemerintah Indonesia, hal itulah yang juga dirindukan Boy Pasaribu selama aktif bermain ‘footy’.

“Sayangnya belum ada dukungan dari pemerintah Indonesia, padahal selama saya aktif di ‘footy’ ini pemerintah Australia sangat supportive. Saya harap di masa depan pemerintah Indonesia bisa mendukung,” ujarnya.

Iain lantas menerangkan lebih lanjut, “Ya, salah satu kelemahannya memang sertifikasi KONI, yang lainnya, karena kami berbeda dengan klub-klub olahraga lain di sini. Kami bukan klub yang berorientasi profit, kalau kami dapat uang, semuanya langsung kami putar untuk logistik pemain dan pertandingan, untuk kepentingan sosialiasi di sekolah-sekolah, sewa bus untuk anak-anak misalnya. Kami juga tak menggaji para pemain kami di Indonesia. Sementara kebanyakan klub disini membayar pemain mereka dan mengejar profit.”

Iain Shearer (baju putih berpundak garis oranye) dan rekan-rekannya di the Jakarta Bintangs tengah mendengar arahan Matthew Jolly (kaus tanpa lengan putih, celana panjang). (Foto: Nurina Savitri)

Bermain ‘Footy’ bukan untuk sekedar berolahraga

‘Footy’ memang bukanlah cabang olahraga yang cukup familiar di telinga masyarakat Indonesia. Walau serupa sepak bola, ‘footy’ memiliki ritme dan tingkat kekerasan yang berbeda.

“Kelemahannya, orang dari Indonesia itu kecil, padahal olahraga ini cukup keras, seharusnya pemain ‘footy’ itu besar,” kemuka Boy.

Pelatih ‘Indonesia Garudas’ ini juga tak membantah bahwa awalnya, ‘footy’ cukup rumit untuk dipelajari.

“Awalnya susah,  tapi kemudian saya baca manual book yang diberikan ke saya dan belajar setahap demi setahap,” terangnya.

Hal serupa juga dialami Vincent Halim, pemain ‘Jakarta Bintangs’ dan ‘Indonesia Garudas’, yang akan turut bertanding dalam kejuaraan ‘footy’ Asia di Filipina.

“Buat saya, main ‘footy’ awalnya susah, untungnya saya ada background main bola yang kurang lebih sama seperti olahraga ini, jadi butuh adaptasi aja,” terangnya.

Ia juga mengaku, bermain ‘footy’ memang lebih susah ketimbang sepak bola.

“Karena bolanya beda, ini kan olahraga baru buat kita, jadi lebih susah, terus kontak fisiknya juga lebih keras,” tutur Vincent.

Vincent Halim (tengah berkaos putih) bersama rekan-rekannya di tim 'Indonesia Garudas'. Vincent baru saja kembali dari Melbourne untuk mengikuti kejuaraan internasional 'footy' dan akan bertanding di kejuaraan 'footy' Asia di Filipina. (Foto: Nurina Savitri)

Terlepas dari manfaat kebugaran, ‘footy’ jelas memberikan Boy Pasaribu pengalaman pertemanan yang berkesan.

“Saya menikmati pertemanan di sini. Apalagi buat orang Indonesia seperti saya yang biasanya malu-malu, di sini saya belajar untuk menjadi berani dan berbicara bahasa inggris,” jelasnya.

Sementara bagi Matthew Jolly, ‘footy’ yang dilakukannya di Indonesia, lebih dari sekedar olahraga.

“Buat saya, penting untuk tetap melakukan ‘footy’ di sini, karena ini mengingatkan saya tentang kampung halaman. Kita bisa berkumpul dan bertukar kabar,” ucapnya kepada ABC.

Bagi Brenton Harris, Presiden klub ‘Jakarta Bintangs,’dengan adanya klub ‘footy’ di Indonesia dan AFL Indonesia sendiri, anak-anak muda di negeri ini bisa mereguk keuntungan yang besar, sementara di sisi lain, para ekspatriat pun merasakan manfaatnya.

“Buat anak-anak indonesia yang bergabung, dengan di sini mereka punya kesempatan untuk pergi ke negara lain, bertanding dengan kawan-kawan dari negara lain. Dan buat kami para ekspat sendiri, dengan adanya orang-orang lokal di ‘Jakarta Bintangs’, ini seperti pertukaran budaya,” urainya bersemangat.

Salah satu sesi latihan klub 'footy' Jakarta Bintangs di Senayan, Jakarta. Sebagian besar anggota klub ini adalah para ekspatriat Australia yang berada di Jakarta. (Foto: Nurina Savitri)

Kemeriahan Grand Final AFL di Jakarta

Gaung partai final AFL atau Liga ‘Footy’ Australia yang berlangsung Sabtu (27/9) ini juga terdengar hingga Jakarta. Momen ini dirayakan dengan sangat meriah oleh tim AFL Indonesia dan para ekspatriat Australia di Jakarta.

Tiap tahun, ketika final berlangsung, mereka selalu menggelar acara nonton bersama di sebuah hotel berbintang.

“Grand final itu penting, karena kita selalu merayakannya bersama-sama, tidak penting klub mana yang kami dukung tapi berkumpul bersama untuk merayakan grand final itu menyenangkan. Kami mengadakannya tiap tahun,” terang Matthew.

Sementara bagi pemain ‘footy’ lokal seperti Vincent, laga final  AFL adalah ajang yang mendebarkan, karena tim favoritnya ‘Hawthorn’ menjadi salah satu finalis yang berhadapan dengan ‘Sydney Swans’.

Kecintaannya pada ‘Hawthorn’ dimulai dari internet. “Pas saya main ‘footy’ ini kan awalnya ditanya tim favorit, saya jawab aja ‘Hawthorn’ karena pernah nonton di Youtube, dan emang jago aja mereka,” sebutnya menutup perbincangan dengan Nurina Savitri.