ABC

Perempuan Masih Jadi Warga ‘Kelas Dua’ di Bidang Olahraga

Perempuan akan tetap menjadi ‘warga negara kelas dua’ di bidang olahraga kecuali ada lonjakan signifikan dalam perwakilan atlet perempuan di organisasi olahraga tingkat atas. Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Dewan Wanita Australia, Claire Braund.

Braund pada konferensi yang membahas perilaku wanita di dunia olahraga mengatakan kondisi seperti ini tidak akan berubah selama perempuan belum mendapatkan suara yang lebih besar dalam berbagai lembaga olahraga pemerintah.
 
"Semakin sedikit perempuan yang menduduki jabatan tinggi di kepengurusan lembaga olaharaga akan menyebabkan atlet perempuan tetap akan menjadi warga negara kelas dua dalam hal peliputan media, pendanaan maupun pendapatan,” kata Braund dalam Konferensi Olahraga Dunia dan Perempuan Asia Pasifik.
 
Ketua Liga Rugby Wests Tigers, Marina Go mengaku dirinya mendukung aksi afirmasi dan meyakini perlu dilakukan kuota keterwakilan perempuan untuk memastikan agar setengah dari kursi kepengurusan di lembaga induk olahraga pemerintah wajib diisi oleh perempuan.

Berdasarkan data dari organisasi Kelompok Kerja Internasional mengenai Perempuan di Sektor Olahraga diketahui dari sekitar 50 pejabat organisasi induk olahraga di Australia, tercatat hanya 9 diantaranya saja yang berjenis kelamin perempuan. 

Bahwa 18 persen angka – seiring juga dengan fakta kalau hampir 30 persen dari anggota dewan olahraga di Australia adalah perempuan – merupakan salah satu yang terbaik di dunia. 

Meskipun Australia tergolong cukup memimpin di dunia dalam hal penunjukan wanita untuk menjabat posisi elit dalam olahraga, namun Braund tetap menyerukan agar organisasi olahraga di Australia lebih transparansi mengenai hal ini.
 
Menurutnya badan olahraga Australia harus mengungkapkan keseimbangan gender dan menghilangkan gap atau kesenjangan pembayaran antara atlet laki-laki dan atlet perempuan.
 
"Olahraga merupakan metafora bagi bisnis di Australia, mereka saling berkaitan erat,” kata Braund.
 
"Kebanyakan dari perusahaan besar mendukung olahraga namun mereka sering kali tidak proporsional dalam memberikan pendanaan ketika menyangkut olahraga bagi laki-laki,” katanya
 
"Saya bertanya sampai kapan komunitas bisnis akan berlaku demikian karena merekalah yang menciptakan target bagi keragaman gender di dalam bisnis mereka sendiri,” katanya.
 
Riset dari Komisi Olahraga Australia menunjukan kalau olahraga yang diikuti oleh atlet perempuan hanya mendapat peliputan berita sebesar 9% saja oleh TV.