ABC

Perdamaian di Myanmar Belum Terwujud, Presiden Jokowi Minta ASEAN Bersatu

Presiden Joko Widodo mengatakan militer yang berkuasa di Myanmar tidak membuat kemajuan yang berarti dalam mengimplementasikan rencana perdamaian yang disepakati dengan ASEAN dua tahun.

Karenanya ASEAN harus bersatu memutuskan bagaimana mengatasi krisis yang meningkat di Myanmar.

Berbicara pada hari kedua pertemuan para pemimpin ASEAN di kota Labuan Bajo, Presiden Jokowi menyinggung "lima poin konsensus", atau "5PC", rencana perdamaian Myanmar.

"

"Saya harus bicara terus terang. Dalam implementasi 5PC, belum ada kemajuan yang signifikan," ujarnya. "Oleh karena itu, persatuan ASEAN diperlukan untuk memutuskan langkah selanjutnya."

"

Presiden Jokowi meminta ASEAN, termasuk Myanmar sebagai anggotanya, memetakan jalan ke depan untuk mengurangi kekerasan yang meningkat di Myanmar.

Sejak tentara menggulingkan pemerintahan yang dipimpin oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi pada tahun 2021, kekerasan di Myanmar meningkat.

Kudeta tersebut memicu protes luas yang ditumpas oleh militer.

Tentara sejak itu memerangi pemberontak dari etnis minoritas yang mencari jalan untuk menentukan nasibnya sendiri dan bersekutu dengan pejuang pro-demokrasi.

Sebagai ketua ASEAN, Indonesia telah berbicara dengan semua pihak dalam beberapa bulan terakhir dalam upaya untuk mewujudkan dialog.

ASEAN bulan lalu mengutuk tindakan militer Myanmar atas salah satu serangan udara terbaru dan paling mematikan yang menewaskan sedikitnya 100 orang.

Junta Militer Myanmar mengatakan sedang memerangi "teroris".

ASEAN sudah melarang para pemimpin junta Myanmar untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi, karena kegagalannya untuk mengimplementasikan rencana tersebut.

Padahal kesepakata itu sudah disetujui oleh jenderal tertinggi pada April 2021 di Jakarta.

Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, mengatakan kepada Reuters di sela-sela KTT jika rencana untuk menghentikan kekerasan, memberikan akses kemanusiaan, serta melakukan dialog di antara semua pihak, akan tetap menjadi dasar untuk berdialog dengan junta militer Myanmar.

"Dari pihak ASEAN, ada keinginan kuat untuk membantu Myanmar, tapi itu tidak mudah," ujarnya, seraya menambahkan: "Kota Roma tidak dibangun dalam semalam".

"

"Yang harus kita lakukan adalah memastikan tidak ada lagi kekerasan. Itu intinya."

"

Di tengah laporan tentang ASEAN yang belum menemukan titik tengah untuk menangani krisis Myanmar, menteri luar negeri Malaysia, Zambry Abdul Kadir, mengatakan ASEAN serius tentang masalah ini "tetapi harus satu suara mendorongnya."

"Semua orang ingin solusi yang damai, dan yang langgeng," katanya.

Para pemimpin ASEAN juga berjanji untuk bekerja sama dalam memerangi perdagangan manusia, melindungi pekerja migran, dan mendukung industri kendaraan elektronik.


Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa untuk ABC Indonesia.