ABC

Penulis Australia Keturunan Asia Ungkapkan Kondisi Sosial di Kampung Halaman

Bagaimana para penulis memandang evolusi Asia? Masukan dan perspektif apa yang mereka sampaikan yang berbeda dari berita harian? Salah satu jurnal ternama Australia, Griffith Review, mencoba menjawab pertanyaan itu di edisi terbarunya: 'New Asia Now'.

New Asia Now.
New Asia Now.

Sebanyak 49 penulis dari 20 negara telah memberikan kontribusi ke edisi New Asia Now dan edisi e-book yang menyertainya. Penulis Australia keturunan Asia, serta waga Australia yang pernah tinggal dan terlibat dengan kawasan ini berada di antara kontribusi tersebut.

Sheng Keyi (China), Miguel Syjuco (Filipina) dan Annie Zaidi (India) adalah 3 kontributor yang, baru-baru ini, ambil bagian dalam diskusi panel (panel discussiontentang kehidupan di negara-negara paling dinamis dan paling kuat di Asia, yang diselenggarakan di Universitas Sydney. Bergabung dengan mereka adalah editor Griffith Review, Dr Julianne Schultz, dan para akademisi dari Universitas Sydney, Dr Tiffany Tsao serta Dr Beatriz Carrillo Garcia.

Dr Julianne menggambarkan edisi terbaru dari Griffith Review ini sebagai 'percakapan tentang apa yang terjadi di banyak tempat berbeda, yang ditulis dengan sangat dinamis dan bagus'.
 
"New Asia Now adalah edisi paling ambisius yang pernah kami buat. Apa yang coba kami lakukan adalah membicarakan Abad Asia dan memberi beberapa contoh nyata dan bahasan yang mendalam," utaranya.

 

Ia menerangkan, "Untuk menghasilkan tulisan yang lebih dari pembahasan standar yang tampaknya kami miliki di negara ini sepanjang waktu, tentang ekonomi dan perdagangan dan sebagainya, seolah-olah ini adalah satu-satunya hal yang terjadi dalam posisi Australia sekarang, di wilayah ini."
Diskusi panel 'New Asia Now'. (Foto: The University of Sydney)
Diskusi panel 'New Asia Now'. (Foto: The University of Sydney)
 
Esai Miguel Syjuco yang berjudul 'Mengalahkan Ketololan' fokus pada politik di Filipina, tetapi seperti ia menggambarkannya, 'ini tentang politik di mana-mana'.
 
"Sebagai penulis saya selalu mempertanyakan, apa yang bisa saya lakukan dengan tulisan saya? Sebagai seorang penulis ekspatriat Filipina, saya selalu mempertanyakan peran saya di negara asal saya. Dan peran saya sebagai seseorang yang 'netral' karena saya tinggal di luar negeri. Jadi saya telah berusaha untuk benar-benar mengatakan hal-hal yang tak bisa kami katakan di tanah air," kemukanya.
 
Sementara itu, cerpen Sheng Keyi mengeksplorasi politik dari perempuan yang tak menikah dan anak-anak yang terlahir tidak sah di China dan 'tema hidup dengan martabat', yang ia jelaskan melalui penerjemah bernama Jing Han. Cerpen-nya berkisah tentang seorang gadis 18 tahun yang 'belum menikah, hamil dan menghadapi dilema melahirkan anak, tapi melahirkan seorang anak saat Anda belum menikah tergolong ilegal di China'.
 

"Bagi saya, tulisan itu datang dari sumber langsung, pengalaman pribadi dan sumber tak langsung. Tapi saya pikir, pengalaman pribadi itu terbatas, dan membatasinya. Lebih banyak sumber berharga datang secara tak langsung dari apa yang saya ketahui tentang hidup dan apa yang saya dengar tentang hidup," tuturnya.

"Jadi para perempuan di novel dan cerpen saya, sebenarnya saya mengenal mereka di sekitar saya," tambahnya.

Sheng Keyi, Annie Zaidi dan Miguel Syjuco (Foto: Griffith Review)
Sheng Keyi, Annie Zaidi dan Miguel Syjuco (Foto: Griffith Review)

Memoir Annie Zaidi mengamati ketelanjangan, hal memalukan dan listrik di India, dan selama diskusi panel, ia ditanya tentang cinta sebagai ungkapan demokrasi di negara asalnya.
 
"Sangat sedikit anak muda yang benar-benar memiliki hak untuk menikahi orang yang mereka cintai ... atau bahkan hanya cinta. Terlepas dari orang tua dan masyarakat yang lebih besar, ada juga upaya orang-orang umum, orang asing tak dikenal, yang mencoba untuk mengontrol hidup Anda ...," ungkapnya.
 
Ia berpendapat, "Cinta adalah hal yang sangat politis. Ketika Anda memotong segala sesuatunya dari demokrasi, apa yang Anda miliki adalah satu orang, satu suara. Dan karena ada hak universal, harus ada hal yang serupa dalam cinta. Setiap orang harus memiliki hak "

 

Untuk membaca lebih banyak cerita seperti ini, 'like' akun Australia Plus di Facebook: facebook.com/AustraliaPlus

*Sheila Pham adalah kontributor edisi 'e-book' dari New Asia Now